KEDIRI — Hujan dulu menjadi momok bagi Sukamto. Setiap tetes air yang jatuh dari langit berarti genangan baru di rumah reyot miliknya di RT 1 RW 1 Kelurahan Pocanan, Kota Kediri. Atap bocor, dinding rapuh, hingga bagian depan rumah yang nyaris roboh menjadi pemandangan sehari-hari bagi tukang becak yang hidup dari penghasilan tak menentu itu.
Namun kini, rumah sederhana tersebut perlahan berubah menjadi tempat tinggal yang lebih layak dan nyaman. Semua terwujud berkat semangat gotong royong warga serta kolaborasi berbagai elemen masyarakat yang bergerak membantu tanpa pamrih.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, meninjau langsung hasil renovasi rumah Sukamto pada Selasa (26/5). Dalam kesempatan itu, ia juga menyerahkan sejumlah bantuan kebutuhan dasar kepada keluarga tersebut.
Vinanda menjelaskan, proses renovasi tidak menggunakan anggaran APBD karena rumah yang ditempati Sukamto berdiri di atas lahan yang belum memiliki sertifikat hak milik (SHM). Meski begitu, kondisi tersebut tidak menghalangi kepedulian masyarakat untuk bergerak bersama membantu.
“Karena belum memiliki SHM, solusi yang memungkinkan adalah melalui swadaya masyarakat. Pemerintah kota kemudian ikut berkolaborasi memberikan dukungan yang bisa kami bantu,” ujar Vinanda.
Melalui dana swadaya dan gotong royong warga, sejumlah bagian rumah diperbaiki, mulai dari dinding, plafon, lantai, hingga fasilitas penunjang lainnya. Pemerintah Kota Kediri juga memberikan bantuan perlengkapan tidur seperti kasur, bantal, dan guling untuk menunjang kenyamanan keluarga Sukamto.
Tak berhenti di situ, Vinanda mengaku berencana membantu renovasi kamar cucu Sukamto menggunakan dana pribadi agar lebih layak ditempati. Pemerintah kota juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan guna memastikan cucu Sukamto yang merupakan penyandang disabilitas mendapatkan pendampingan pendidikan yang memadai.
“Harapannya bantuan ini bisa membuat keluarga lebih nyaman dan kualitas hidup mereka meningkat. Dulu rumahnya sangat memprihatinkan dan bocor di banyak bagian,” katanya.
Semangat kebersamaan juga disampaikan Camat Kota Kediri, Agus Suharyanto. Ia menuturkan proses renovasi melibatkan berbagai unsur, mulai dari Koramil, kecamatan, kelurahan, Babinsa, hingga warga sekitar yang bergotong royong secara sukarela.
Menurut Agus, perbaikan dilakukan pada bagian dinding, plafon, keramik lantai, pintu, hingga jendela rumah. Sebelumnya, keluarga Sukamto sempat memperbaiki bagian atap secara mandiri sebelum akhirnya mendapat bantuan lebih luas dari masyarakat dan aparat setempat.
“Setelah itu kami bersama-sama membenahi dinding, lantai, dan plafon rumah,” ujarnya.
Renovasi rumah tersebut rampung dalam waktu kurang dari satu bulan. Bahkan, anggota Babinsa ikut turun langsung menjadi tukang demi mempercepat proses pengerjaan.
Bagi Sukamto, bantuan itu menjadi harapan baru setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan. Pria yang sehari-hari mangkal sebagai tukang becak di kawasan stasiun itu mengaku sebelumnya harus menutup bagian rumah yang rusak menggunakan triplek seadanya.
“Dulu atap bocor, bagian depan roboh, tembok juga rusak. Kalau hujan saya sering menguras air yang masuk ke rumah,” tutur Sukamto.
Ia mengaku penghasilannya semakin sulit sejak transportasi online berkembang pesat. Dalam sehari, dirinya kadang hanya memperoleh Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, sehingga perbaikan rumah nyaris mustahil dilakukan sendiri.
“Saya benar-benar tidak menyangka bisa mendapat bantuan seperti ini. Alhamdulillah sekarang rumah jadi lebih nyaman,” katanya haru.
Sukamto pun menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh warga, aparat, dan pihak yang telah membantu memperbaiki rumahnya secara sukarela. Di tengah himpitan ekonomi, gotong royong menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masih hidup dan nyata di tengah masyarakat.



