KEDIRI – Rencana pembangunan Tol Kediri–Tulungagung memunculkan kekhawatiran mendalam bagi warga Dusun Kasian, Desa Manyaran, Kabupaten Kediri. Akses vital warga, Jalan Teratai, yang menghubungkan langsung ke pusat Kota Kediri, terancam ditutup sebagai dampak pembangunan jalur tol tersebut.
Keresahan warga memuncak sejak awal Juni setelah adanya sosialisasi dari pihak pelaksana proyek, PT LMA dan PT Hastari. Meskipun telah digelar dua kali pertemuan antara pihak desa, pelaksana proyek, serta unsur muspika seperti Camat, Danramil, dan Kapolsek Banyakan, kejelasan mengenai nasib akses jalan itu masih belum sepenuhnya tuntas.
Kepala Desa Manyaran, Budiharjo, membenarkan bahwa Jalan Teratai saat ini masih dapat digunakan. Sementara sejumlah warga berusaha dikonfirmasi, terlihat enggan memberikan keterangan.
“Berdasarkan kesepakatan sementara, penutupan tidak dilakukan secara total, sambil menunggu hasil rapat koordinasi dengan DPRD Kabupaten,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.
Namun, ketidakpastian membuat warga mulai bersuara. Beberapa bahkan memasang banner berisi penolakan terhadap penutupan Jalan Teratai. Ini mengindikasikan ketegangan di masyarakat yang belum terobati meski sudah ada tawaran solusi berupa pembangunan jalan alternatif di sisi utara tol, yang direncanakan menembus ke Kelurahan Gayam bagian selatan.
Masalahnya, jalan alternatif itu baru akan dibangun pada tahap kedua proyek, setelah jalan tol rampung. Ini berarti, dalam waktu dekat, warga tetap akan kehilangan akses utama mereka.
“Warga yang bekerja ke Kota Kediri, seperti ke Mojoroto atau Bujel, harus memutar satu kilometer lebih lewat Dusun Putat. Ini jelas membebani,” tambah Budi.
Pemerintah desa berharap proyek nasional ini tidak justru memutus konektivitas lokal.
“Kami ingin akses jalan tetap tersedia dan bahkan diperbaiki. Namun proyek ini sudah final secara desain. Penambahan overpass pun kecil kemungkinan, karena jumlahnya sudah terlalu banyak,” jelasnya.
Sementara itu, kabar terbaru disampaikan Budi pada Selasa malam (9/6). Ia menyatakan bahwa pada Rabu (10/6), sekitar pukul 09.00 WIB, akan digelar agenda penyerahan uang ganti rugi pembebasan lahan di Balai Desa Manyaran.
“Ada 27 bidang tanah yang akan menerima kompensasi pembebasan untuk proyek tol ini,” ungkapnya.
Meski uang ganti rugi mulai dibayarkan, bagi warga Dusun Kasian, nilai ekonomi belum tentu sebanding dengan hilangnya akses mobilitas harian mereka. Pemerintah daerah dan pusat pun diharapkan turun tangan agar solusi akses alternatif tidak sebatas janji di atas kertas.
jurnalis : Sigit Cahya SetyawanBagikan Berita :









