KEDIRI – Kisah perjuangan seorang nenek di Kabupaten Kediri, menyita perhatian publik. Sholikah, warga Kecamatan Kandat, harus berjuang seorang diri merawat tiga cucunya setelah putrinya meninggal dunia, sementara ayah dari anak-anak tersebut disebut tidak lagi bertanggung jawab.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, kisah hidup Sholikah akhirnya mendapat perhatian dari Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito. Orang nomor satu di Kabupaten Kediri itu datang langsung memberikan bantuan sosial sekaligus memastikan penanganan bagi keluarga tersebut.
“Alhamdulillah dapat bantuan, pikirannya agak berkurang, bebannya juga agak berkurang,” ujar Sholikah dengan mata berkaca-kaca.
Putri Sholikah, Nurdika Natasha, meninggal dunia sekitar satu bulan lalu di usia 25 tahun. Sejak saat itu, ketiga anak yang ditinggalkan sepenuhnya diasuh oleh sang nenek. Anak pertama yang berusia tujuh tahun akan segera masuk sekolah dasar, sedangkan dua lainnya merupakan balita kembar berusia dua tahun empat bulan.
Sholikah mengungkapkan, ayah dari ketiga cucunya sudah tidak memberikan nafkah sejak setahun terakhir. Bahkan setelah istrinya meninggal dunia, tanggung jawab terhadap anak-anak itu disebut tetap diabaikan.
“Semua saya pikir sendiri. Anak saya yang kecil masih SMA, sementara saya harus mengurus tiga cucu,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sholikah mengandalkan pekerjaan serabutan. Ia membuat sambal pecel dan madu mongso, hingga bekerja sebagai buruh “slipan” dengan penghasilan sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per hari.
Penghasilan tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan susu dan popok bagi dua cucunya yang masih balita.
“Kadang ada rezeki entah dari mana. Yang penting anak-anak tetap bisa makan dan minum susu,” ucapnya lirih.
Melihat kondisi tersebut, Mas Dhito memastikan Pemerintah Kabupaten Kediri akan memberikan pendampingan lanjutan kepada keluarga Sholikah. Selain bantuan sosial, pemerintah daerah juga akan membantu pengembangan usaha sambal pecel dan madu mongso yang selama ini dijalankan.
“Ibunya ini bisa bikin sambal pecel dan madu mongso. Itu yang akan kita bantu secara masif, sekaligus kita dampingi supaya bisa mengelola keuangan dengan baik dan memiliki pendapatan tetap,” kata Mas Dhito.
Tak hanya fokus pada bantuan ekonomi, Pemkab Kediri juga berencana memperbaiki rumah Sholikah yang sebagian atapnya rusak dan dinilai tidak layak huni, terutama saat hujan dan angin kencang.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Dhito turut menegaskan pentingnya tanggung jawab seorang ayah terhadap anak. Ia meminta adanya sanksi administratif apabila ayah dari ketiga anak tersebut terbukti menelantarkan kewajibannya.
“Saya tidak ada toleransi seorang bapak tidak menafkahi anaknya. Itu wajib hukumnya,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Kediri juga mempertimbangkan akses pendidikan bagi cucu pertama Sholikah melalui program Sekolah Rakyat apabila nantinya memenuhi syarat.
Di balik segala keterbatasan yang dihadapi, Sholikah mengaku hanya ingin ketiga cucunya tetap tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang layak.
“Semampu saya, anak-anak tetap saya usahakan,” tuturnya.



