KEDIRI – Tak semua perjalanan hidup dimulai dari mimpi besar. Ada yang berawal dari sebuah permintaan sederhana, lalu tumbuh menjadi pengabdian yang melintasi seperempat abad. Itulah kisah Restin Agung Sunaryati, perempuan yang tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang guru, apalagi memimpin sebuah sekolah.
Kini, Restin dipercaya menjadi Kepala SMK Taman Siswa Kediri di Jalan Pemuda No. 20, Dandangan, Kota Kediri. Di bawah kepemimpinannya, sekolah tersebut dikenal sebagai ruang belajar yang mengedepankan pendidikan inklusif, budaya kekeluargaan, serta pengembangan seni sebagai identitas sekolah.
Perjalanan itu bermula pada 2001 ketika Restin diminta membantu mengajar di SMK Taman Siswa. Niat awalnya hanya sebatas membantu. Namun, langkah kecil tersebut justru menjadi awal pengabdian yang kini telah berlangsung selama 25 tahun.
“Saya bertahan di SMK Taman Siswa karena merasa nyaman. Budaya kekeluargaan di sini sangat kuat. Kami menerapkan sistem among, yaitu mendidik dengan membimbing dan mengasuh, bukan mendoktrin,” ujar Restin.
Lulusan S1 Teknik Industri Universitas Kadiri (UNIK) itu mengaku tidak pernah memiliki cita-cita menjadi tenaga pendidik. Setelah menyelesaikan kuliah, ia sempat merantau ke Jakarta sambil menunggu ijazah diterbitkan.
Di ibu kota, Restin mengajar di sebuah SMA milik Departemen Luar Negeri sekaligus menjadi guru les privat. Namun, situasi krisis ekonomi 1998 membuat ibunya meminta ia kembali ke Kediri.
Keputusan pulang kampung justru menjadi titik balik kehidupannya. Saat sektor industri mengalami perlambatan akibat krisis, Restin memilih meniti karier di dunia pendidikan. Ia pernah mengajar di AMIK dan STIMIK sebelum akhirnya bergabung dengan SMK Taman Siswa. Setelah menikah, ia memutuskan fokus mengabdikan diri di sekolah tersebut. Sejak 2019, ia dipercaya menjabat sebagai kepala sekolah. Di sela aktivitasnya, Restin juga mengajar sebagai dosen Teknik Industri di Universitas Wahidiyah.
Saat pertama kali memimpin sekolah, Restin menghadapi tantangan yang tidak ringan. Jumlah peserta didik terus menurun hingga satu angkatan hanya diisi sekitar 22 siswa. Bersama para guru, ia mulai melakukan pembenahan secara bertahap, mulai dari peningkatan sarana dan prasarana hingga memperhatikan kesejahteraan tenaga pendidik.
Berbekal pengalaman panjang di dunia pendidikan, Restin berupaya membangun identitas sekolah di tengah ketatnya persaingan SMK. Saat ini SMK Taman Siswa membuka dua kompetensi keahlian, yakni Teknik Sepeda Motor (TSM) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).
Namun, sekolah tidak hanya mengandalkan program keahlian. Seni dijadikan sebagai salah satu ciri khas yang membedakan sekolah tersebut.
“Kami bekerja sama dengan Dewan Kebudayaan. Bentuk kerja samanya berupa pembinaan ekstrakurikuler, pelatih, hingga dukungan dalam berbagai kegiatan sekolah,” katanya.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pembinaan ekstrakurikuler musik, band, tari, hingga pencak silat yang melibatkan para seniman. Bahkan, kegiatan tari dan pencak silat juga terbuka bagi masyarakat sehingga sekolah menjadi ruang interaksi sekaligus pusat kegiatan budaya.
Untuk mendukung proses pembelajaran, sekolah juga menyediakan berbagai fasilitas seperti bengkel sepeda motor, laboratorium komputer, bengkel komputer, studio musik, ruang tari, musala, serta ruang kelas yang memadai.
Meski jumlah siswanya tidak banyak, Restin justru melihat kondisi tersebut sebagai nilai lebih. Pada tahun ajaran 2026/2027, SMK Taman Siswa memiliki sekitar 35 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar. Sementara siswa kelas X berjumlah 15 orang, terdiri atas delapan siswa TKJ dan tujuh siswa TSM.
“Pembelajarannya seperti les privat. Guru lebih fokus mendampingi dan anak-anak lebih berani bertanya ketika belum paham,” tuturnya.
Pendekatan yang lebih personal juga diterapkan kepada siswa berkebutuhan khusus. SMK Taman Siswa menjadi salah satu sekolah yang membuka akses pendidikan bagi peserta didik inklusi. Saat ini terdapat dua siswa dengan hambatan intelektual ringan yang belajar bersama siswa reguler.
“Kami tidak pernah menolak siswa inklusi selama masih bisa diajak berkomunikasi dan bersosialisasi,” ujar Restin.
Menurutnya, pembelajaran bersama siswa reguler bertujuan mengembangkan kemampuan sosial dan kemandirian siswa inklusi. Penilaian tetap mengacu pada kurikulum yang berlaku, tetapi disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Guru juga memberikan pendampingan lebih intensif apabila diperlukan.
Pendekatan tersebut, kata Restin, mendapat respons positif dari para orang tua. Banyak di antaranya mengaku bersyukur karena anak-anak mereka menjadi lebih mandiri dan mampu membantu pekerjaan di rumah setelah bersekolah di SMK Taman Siswa.
Komitmen menghadirkan pendidikan yang dapat diakses semua kalangan juga diwujudkan melalui kebijakan pembebasan biaya SPP bagi seluruh siswa baru hingga lulus kelas XII. Selain itu, sekolah tidak mewajibkan pembelian seragam melalui sekolah sehingga orang tua dapat membeli sendiri sesuai kemampuan. Adapun seragam olahraga disediakan oleh sekolah.
“Prinsip kami yang penting anak bisa sekolah. Kami tidak ingin biaya menjadi penghalang,” tegasnya.
Tak hanya mempersiapkan lulusan memasuki dunia kerja, sekolah juga membangun jiwa kewirausahaan melalui mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan (PKWU). Siswa dibimbing menghasilkan produk dan belajar memasarkan hasil karya mereka, termasuk melalui platform digital.
Bagi Restin, pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan, melainkan menghadirkan ruang bagi setiap anak untuk tumbuh sesuai potensinya. Sebuah permintaan sederhana yang dahulu hanya dimaksudkan sebagai bantuan, kini menjelma menjadi perjalanan panjang yang mengantarkannya memimpin sekolah dengan semangat humanis, inklusif, dan berpihak pada setiap anak yang ingin mengenyam pendidikan.
jurnalis ; Anisa Fadila



