KEDIRI — Pagi yang semula tenang di tepian Sungai Brantas berubah menjadi kepanikan. Seorang warga Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, dilaporkan hanyut terseret arus deras saat membersihkan area bantaran sungai untuk persiapan kegiatan pladu, Selasa (5/5).
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB di bawah Jembatan Jongbiru sisi barat, wilayah Kelurahan Mrican. Korban, Imam Sujono (58), saat itu berada di aliran sungai bersama seorang rekannya untuk menyingkirkan semak dan sampah yang menghambat.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, menjelaskan bahwa insiden bermula ketika keduanya turun langsung ke aliran sungai. Namun, kondisi arus yang tampak tenang di permukaan ternyata menyimpan kekuatan besar di bagian bawah.
“Korban diduga kelelahan saat menghadapi arus yang cukup kuat,” ujarnya.
Kesaksian Edi Wahono, rekan korban yang selamat, mengungkap momen mencekam tersebut. Ia menyebut korban sempat melambaikan tangan, berusaha meminta pertolongan di tengah derasnya arus.
Upaya penyelamatan telah dilakukan, namun derasnya aliran air membuat usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Korban akhirnya terseret dan hilang dari pandangan.
Saat kejadian, korban diketahui tidak menggunakan alat bantu keselamatan, sementara rekannya hanya berbekal bambu sebagai penyangga. Kondisi ini diduga memperbesar risiko hingga berujung pada insiden nahas.
Hingga sore hari, proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kota Kediri, BPBD Kabupaten Kediri, dan Basarnas Trenggalek. Tiga tim dikerahkan dengan perlengkapan water rescue, menyisir aliran sungai sejauh 2 hingga 3 kilometer dari titik awal korban dilaporkan hanyut.
Hasil asesmen di lapangan menunjukkan karakter Sungai Brantas yang menipu. Dari atas tampak tenang, namun arus bawah sangat kuat dengan kedalaman mencapai 15 meter. Tim Relawan Suket Teki merupakan bentukan Walikota Kediri Vinanda Prameswati langsung diperintahkan terjun ke lapangan membantu melakukan pencarian.
“Begitu mendapatkan laporan, kami bersama tim langsung turun ke lapangan untuk melakukan pencarian,” ungkap Kadiyat, salah satu relawan Suket Teki. Dirinya juga langsung menyampaikan laporan kepada Walikota Kediri, yang duduk sebagai Ketua Harian Suket Teki.
Dalam kondisi seperti ini, tim juga mengantisipasi kemungkinan korban muncul ke permukaan dalam interval waktu tertentu, sehingga pemantauan difokuskan pada sejumlah titik yang dinilai potensial.
BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar sungai. Apalagi menjelang rencana kegiatan pladu yang berpotensi meningkatkan debit serta kekuatan arus air.
Masyarakat diminta segera melapor melalui layanan darurat 112 apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik ketenangan permukaan sungai, selalu tersimpan risiko yang tak boleh diabaikan.



