foto : Wildan Wahid Hasyim

Bangkit dari PMK dan Pandemi, Kontes Sapi Kembali Digelar di Kediri Cetak Transaksi Miliaran

KEDIRI — Setelah terhenti hampir enam tahun akibat hantaman pandemi COVID-19 dan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), denyut sektor peternakan di Kabupaten Kediri kembali menggeliat. Hal itu tercermin dalam gelaran kontes ternak sapi 2026 yang dipusatkan di Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates.

Ratusan sapi dari berbagai penjuru daerah seolah menjadi simbol kebangkitan. Total 134 ekor sapi dari 26 kecamatan ambil bagian, melampaui target panitia. Lonjakan peserta bahkan membuat sebagian pendaftar terpaksa ditolak karena keterbatasan kapasitas arena.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menyebut ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang edukasi sekaligus bentuk penghargaan bagi peternak.

“Kontes ini menjadi yang pertama setelah pandemi dan PMK. Selain apresiasi, ini juga sarana pembelajaran untuk meningkatkan kualitas ternak,” ujarnya.

Dalam arena yang dipenuhi sorak antusias, sapi-sapi unggulan dinilai berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari kesehatan, bobot, hingga struktur tubuh. Tiga kategori utama dipertandingkan, yakni Peranakan Ongole (PO), hasil inseminasi buatan (IB), serta kereman ekstrem.

Di balik kemeriahan itu, tersimpan potensi ekonomi yang tak kecil. Dari total sapi yang dilombakan saja, nilai ekonominya diperkirakan mencapai Rp6 hingga Rp7 miliar. Bahkan, salah satu sapi peserta telah ditawar hingga Rp150 juta, menandakan tingginya daya tarik pasar.

Data DKPP mencatat populasi sapi potong di Kabupaten Kediri mencapai sekitar 215 ribu ekor. Kontes ini pun disebut sebagai representasi kecil dari besarnya potensi peternakan daerah.

Momentum ini juga dimanfaatkan sebagai pengungkit menjelang Hari Raya Idul Adha, di mana permintaan hewan ternak cenderung meningkat.

Di tingkat lokal, kegiatan ini memberi efek berlapis. Camat Wates, Sugemh Margono, menilai kontes ternak mampu mendorong pergerakan ekonomi masyarakat, termasuk pelaku UMKM yang turut meramaikan kegiatan.

“Dampaknya tidak hanya pada peternak, tetapi juga sektor ekonomi lain di sekitar,” katanya.

Optimisme serupa disampaikan Kepala Desa Wonorejo, Agus Setiyoko. Ia melihat peluang besar untuk mengembangkan wilayahnya sebagai desa wisata berbasis peternakan.

“Kami ingin Wonorejo menjadi pusat kegiatan peternakan sekaligus destinasi wisata,” ujarnya.

Bagi para peternak, kontes ini bukan sekadar ajang adu kualitas, tetapi juga ruang membangun jejaring dan semangat baru. Dri Nugroho, peternak asal Pare, mengaku optimistis dengan sapi yang dibawanya.

“Yang penting sehat, sudah divaksin, dan dirawat maksimal,” ucapnya.

Senada, Adi, peserta dari Ponggok, Blitar, menilai kegiatan semacam ini penting untuk menjaga gairah peternak sekaligus mempererat silaturahmi.

Kontes ternak ini berlangsung selama dua hari, dengan pengumuman pemenang dijadwalkan pada hari penutupan. Selain lomba, kegiatan turut diramaikan pasar UMKM dan program pangan murah, mempertegas bahwa kebangkitan peternakan Kediri kini berjalan seiring dengan denyut ekonomi rakyat.

jurnalis : Wildan Wahid Hasyim