Dari Makan Kerupuk hingga Pukul Air, 300 Anak Meriahkan Hari Kemerdekaan di Omah Sawah

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Lumpur dan air tak menjadi alasan bagi anak-anak di Kelurahan Burengan, Kota Kediri, untuk menjaga jarak dari kemeriahan perayaan kemerdekaan. Justru di tengah sawah yang basah dan penuh lumpur itulah tawa mereka pecah, Senin (17/8).

Ratusan anak mengikuti berbagai perlombaan lingkungan di kawasan Omah Sawah untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak pagi hingga sore, kawasan tersebut berubah menjadi ruang bermain yang dipenuhi sorak-sorai, tepuk tangan, dan semangat berkompetisi.

Usai mengikuti upacara bendera, anak-anak langsung bergantian menunjukkan kemampuan dalam sejumlah permainan khas perayaan kemerdekaan. Ada lomba makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol, balap karung, hingga permainan mengambil karet dari dalam tepung.

Permainan sederhana itu ternyata cukup untuk membuat suasana semakin hidup.

Anak-anak berlari, tertawa, dan saling menyemangati ketika mengikuti setiap perlombaan. Tak sedikit pula peserta yang harus rela berlumuran tepung, kotor, bahkan basah demi menyelesaikan permainan.

Kemeriahan kemudian berlanjut pada sore hari. Kali ini, permainan yang disiapkan panitia lebih dekat dengan air dan lumpur.

Peserta mengikuti lomba memindahkan air ke dalam botol, memindahkan bendera, hingga pukul air. Suasana Omah Sawah pun semakin riuh ketika para peserta berusaha menjadi yang tercepat sekaligus menjaga keseimbangan di tengah arena permainan.

Dua Sesi, Ratusan Peserta

Koordinator Upacara Bendera dan Lomba Lingkungan, Veda Galih Pratama, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut digelar dalam dua sesi, yakni pagi dan sore setelah pelaksanaan upacara bendera.

Sesi pagi menjadi yang paling ramai. Sekitar 300 peserta ikut ambil bagian dalam berbagai perlombaan yang disiapkan panitia.

Sementara itu, sesi sore diperkirakan diikuti sekitar 150 peserta. Mereka berasal dari lingkungan sekitar, ibu-ibu yang sebelumnya mengikuti upacara, hingga adik-adik pramuka.

Menurut Veda, perlombaan sengaja dibuat dalam dua karakter. Panitia menyebut permainan yang tidak banyak menggunakan air sebagai kategori “garing-garingan”. Sementara permainan yang melibatkan air masuk dalam kategori “basah-basahan”.

Pembagian tersebut membuat rangkaian lomba terasa semakin beragam. Peserta tidak hanya ditantang dalam permainan yang mengandalkan ketangkasan, tetapi juga harus siap berhadapan dengan air, tepung, hingga lumpur.

“Antusiasnya kita lihat seperti ini, alhamdulillah ramai. Memang Omah Sawah juga ditujukan sebagai sarana untuk masyarakat umum,” ujar Veda.

Sasa Pulang Membawa Gelar Juara

Di antara ratusan peserta, ada satu nama yang berhasil membawa pulang kemenangan. Dia adalah Sasa, siswi SDN Burengan 3.

Sasa menjadi juara pertama dalam lomba memindahkan air ke dalam botol.

Kemenangan itu membuatnya gembira. Bagi Sasa, keikutsertaannya bukan semata untuk mengejar hadiah, melainkan untuk ikut merasakan kemeriahan perayaan kemerdekaan bersama anak-anak lainnya.

“Pengen ikut lomba-lomba kemerdekaan, tadi dapat juara satu senang sekali,” kata Sasa.

Namun, menjadi pemenang ternyata tidak semudah yang terlihat dari pinggir arena.

Sasa mengaku salah satu tantangan terbesar berada ketika mengambil air. Wadah yang digunakan dalam permainan membuat air mudah ikut terminum. Karena itu, dia harus lebih berhati-hati agar air yang dibawa tetap bisa sampai ke botol dan permainan dapat diselesaikan.

Ketelitian dan kecepatan menjadi kunci. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, air yang dibawa bisa berkurang dan membuat peserta harus bekerja lebih keras untuk mencapai garis akhir.

Bagi Sasa, tantangan tersebut justru menjadi bagian yang membuat perlombaan semakin seru.

Bukan Sekadar Lomba Kemerdekaan

Bagi panitia, Festival Omah Sawah tidak hanya dirancang sebagai kegiatan untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Keramaian yang tercipta juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Omah Sawah kepada masyarakat lebih luas.

Kawasan tersebut memang ditujukan sebagai sarana yang dapat dimanfaatkan masyarakat umum. Melalui kegiatan yang melibatkan warga dan anak-anak, Omah Sawah diharapkan semakin dikenal sebagai ruang berkegiatan dan berkumpul bersama.

Antusiasme warga yang terlihat sejak pagi menjadi gambaran bagaimana ruang tersebut dapat menjadi titik pertemuan masyarakat dalam suasana yang santai dan penuh kebersamaan.

Bagi anak-anak, tentu saja, makna kegiatan itu terasa lebih sederhana: bermain, berlomba, tertawa, dan mendapatkan pengalaman baru bersama teman-teman.

Hadiah Elektronik Menanti Para Juara

Semangat peserta juga semakin lengkap dengan hadiah yang disiapkan panitia.

Para pemenang masing-masing perlombaan mendapatkan hadiah untuk juara pertama, kedua, dan ketiga. Menurut Veda, hadiah tersebut rencananya berupa berbagai peralatan elektronik.

Beberapa di antaranya adalah kipas angin, kompor, setrika, dan magic com.

Hadiah itu menjadi bentuk apresiasi bagi peserta yang berhasil menjadi pemenang. Namun, di tengah meriahnya perlombaan, bukan hadiah saja yang menjadi perhatian.

Sorakan penonton, dukungan orang tua, serta kegembiraan anak-anak ketika menyelesaikan permainan membuat suasana perayaan terasa lebih hidup.

Ketika Kemerdekaan Dirayakan dengan Tawa

Hari itu, Omah Sawah tidak hanya dipenuhi air dan lumpur. Ada cerita tentang keberanian anak-anak untuk mencoba, kegembiraan ketika menang, dan sportivitas ketika permainan berakhir.

Dari permainan makan kerupuk hingga lomba memindahkan air, setiap perlombaan menghadirkan keseruan dengan caranya sendiri.

Anak-anak mungkin harus pulang dengan pakaian yang kotor dan tubuh yang basah. Namun, kotoran itu menjadi bagian dari cerita yang akan mereka bawa pulang dari perayaan kemerdekaan tahun ini.

Di tengah petak sawah yang dipenuhi air dan lumpur, kemerdekaan hadir dalam bentuk yang sederhana: tawa yang lepas, permainan yang seru, dan kebersamaan yang mempertemukan warga.

Sasa dan ratusan peserta lainnya mungkin akan mengingat siapa yang menjadi juara. Tetapi lebih dari itu, mereka akan mengingat bagaimana sebuah hari kemerdekaan dirayakan bersama—dengan berlari, bermain, berkotor-kotoran, dan tertawa tanpa jeda.

Sebab bagi anak-anak di Omah Sawah, kemerdekaan tidak berhenti pada upacara dan kibaran bendera. Kemerdekaan juga tumbuh dalam ruang bermain, dalam keberanian mencoba, dan dalam kebersamaan yang membuat sebuah perayaan terasa begitu berarti.

Jurnalis: Anisa Fadila