KEDIRI – Kekeringan yang masih melanda Kota Kediri mulai berdampak pada ketersediaan air, termasuk di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Sebagai bentuk ikhtiar menghadapi kemarau panjang, sekitar 20 ribu santri bersama Pemerintah Kota Kediri menggelar Salat Istisqa atau salat meminta hujan, Jumat (6/11), di Lapangan Aula Al Muktamar.
Kegiatan tersebut menjadi upaya bersama untuk memohon turunnya hujan setelah curah hujan di wilayah Kota Kediri dinilai belum mencukupi untuk mengatasi kondisi kekeringan.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, meskipun dalam beberapa waktu terakhir sempat turun hujan, intensitasnya belum optimal. Karena itu, pemerintah daerah menggandeng Pondok Pesantren Lirboyo untuk melakukan ikhtiar bersama melalui pelaksanaan Salat Istisqa.
“Semoga segera hujan dan hujan yang turun nantinya bisa membawa berkah bagi Kota Kediri,” kata Vinanda.
Ia berharap hujan yang nantinya mengguyur wilayah Kediri tidak disertai bencana, seperti banjir maupun dampak cuaca ekstrem lainnya. Sebaliknya, hujan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi sumber kehidupan bagi seluruh warga.
Selain mengupayakan turunnya hujan, Pemerintah Kota Kediri juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Melalui BPBD bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, sosialisasi pencegahan kebakaran terus dilakukan kepada masyarakat.
Pemkot juga memasang sejumlah informasi dan imbauan di berbagai titik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Harapannya supaya ini juga mengingatkan kepada masyarakat untuk sama-sama menjaga,” ujarnya.
Vinanda turut mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak, tidak membakar sampah maupun lahan sembarangan, serta menjaga kebersihan lingkungan. Warga juga diminta tidak membuang sampah ke sungai guna mengurangi risiko kerusakan lingkungan selama musim kemarau.
Sementara itu, dampak kekeringan juga mulai dirasakan langsung oleh keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo. Juru bicara sekaligus pengasuh pesantren, KH Abdul Mu’id Shohib atau yang akrab disapa Gus Muid, mengungkapkan bahwa kondisi sumber air di lingkungan pesantren mulai mengalami penurunan.
Bahkan, pesantren harus memperdalam sumur pompa untuk mempertahankan ketersediaan air bagi kebutuhan sehari-hari para santri.
“Kegiatan ini adalah sebagai ikhtiar batin bahwa kekeringan yang telah lama melanda ini telah sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Termasuk di dalam pesantren ini, airnya diambil dari sumur pompa sampai harus menggali lagi lebih dalam karena sumbernya sudah mulai kering,” ungkap Gus Muid.
Menurutnya, pelaksanaan Salat Istisqa bukan sekadar permohonan agar hujan segera turun, tetapi juga menjadi momentum untuk mengajak masyarakat melakukan introspeksi diri dengan memperbanyak istigfar dan bertobat kepada Allah SWT.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menjaga lingkungan agar kondisi kekeringan segera berakhir.
“Mengajak seluruh warga bangsa agar kita sama-sama bertobat kepada Allah, memperbanyak istigfar agar kekeringan ini segera berakhir,” katanya.
Salat Istisqa tersebut dipimpin oleh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdullah Kafabihi Mahrus. Kegiatan ini diikuti hingga 20 ribu santri putra dan menjadi pelaksanaan Salat Istisqa pertama di lingkungan pesantren tersebut sepanjang tahun ini.
Pihak pesantren juga menyiapkan langkah lanjutan apabila hujan belum turun dalam waktu dekat. Jika dalam satu pekan ke depan kondisi masih belum berubah, Salat Istisqa direncanakan kembali digelar sebagai bentuk ikhtiar bersama.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Kediri dan Pondok Pesantren Lirboyo berharap kemarau panjang segera berakhir. Di sisi lain, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga lingkungan dan menghemat penggunaan air sembari menantikan hujan yang diharapkan membawa keberkahan bagi Kediri dan sekitarnya.
Jurnalis: Anisa Fadila



