KEDIRI — Saat malam perlahan menyelimuti Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, cahaya lampu di Pos Satkamling justru menjadi simbol kehidupan. Di tempat sederhana itu, secangkir kopi, obrolan hangat, dan semangat gotong royong menjelma benteng yang menjaga kampung tetap damai.
Tak ada pagar mewah. Tak ada bangunan megah. Namun, ada satu hal yang jauh lebih bernilai: kebersamaan yang tak pernah padam.
Suasana itulah yang menyita perhatian Kakorbinmas Baharkam Polri Irjen Pol. Mardiyono, S.I.K., M.Si., saat meninjau Pos Satkamling RT 01 RW 03 Desa Wonoasri, Senin (13/7) malam. Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk apresiasi terhadap masyarakat yang berhasil menjaga keamanan lingkungan melalui budaya ronda yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Di hadapan warga, Irjen Pol. Mardiyono menyerahkan berbagai bantuan operasional berupa lampu penerangan, handy talky (HT), rompi keamanan, atribut Satkamling, hingga kamera pengawas (CCTV). Bantuan itu diharapkan semakin memperkuat sistem keamanan lingkungan yang selama ini dijalankan secara swadaya oleh masyarakat.
Namun, menurut Mardiyono, kekuatan utama Satkamling Wonoasri bukanlah fasilitas yang dimiliki.
Melainkan semangat guyub, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap lingkungan.
“Laporan yang kami terima menunjukkan Desa Wonoasri mampu mempertahankan kondisi keamanan dengan nihil tindak kriminal. Satkamling ini terlihat hidup, masyarakatnya rukun dan kompak. Menurut saya, ini salah satu yang terbaik di Kabupaten Kediri. Mudah-mudahan dapat mewakili Jawa Timur pada tingkat nasional,” ujarnya.
Ucapan itu menjadi pengakuan atas kerja kolektif warga yang selama bertahun-tahun menjaga keamanan tanpa mengenal lelah.
Dibalik kehadiran satkamling tidak lepas dari sosok Kepala Desa Wonoasri, Anik Murwantini, S.Pd. Secara perempuan dikenal sarat dengan beragam prestasi ini, menyambut apresiasi tersebut sebagai penyemangat bagi seluruh masyarakat untuk terus merawat budaya ronda malam.
Baginya, keamanan bukan hanya tugas aparat kepolisian, tetapi lahir dari kesadaran bersama.
“Atensi dari Bapak Irjen Pol. Mardiyono menjadi motivasi bagi warga kami untuk terus menjaga budaya Satkamling yang selama ini sudah berjalan,” katanya.
Prestasi Desa Wonoasri memang bukan datang secara instan. Desa ini sebelumnya berhasil meraih Juara I Lomba Satkamling tingkat Polres Kediri, kemudian dipercaya mewakili Polres Kediri pada penilaian tingkat Polda Jawa Timur.
Yang menarik, penilaian lomba tidak semata-mata melihat kelengkapan sarana. Aktivitas ronda, partisipasi masyarakat, hingga keberlangsungan budaya gotong royong justru menjadi indikator utama.
Meski demikian, Pemerintah Desa Wonoasri juga tidak menutup mata terhadap perkembangan teknologi.
Sebanyak 16 titik CCTV telah dipasang di sejumlah lokasi strategis dan seluruhnya terhubung ke balai desa sehingga dapat dipantau secara terintegrasi.
Menurut Anik, teknologi hanyalah alat pendukung. Esensi keamanan tetap berada pada kepedulian masyarakat.
“Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk mendukung keamanan lingkungan. CCTV membantu meningkatkan rasa aman, tetapi yang paling penting adalah kesadaran masyarakat untuk saling menjaga,” ujar sosok akrab disapa Bunda Anik.
Menariknya, sejak Pos Satkamling kembali diaktifkan pada masa pandemi COVID-19, Desa Wonoasri belum pernah mencatat adanya tindak kriminal.
Fakta itu menjadi bukti bahwa keamanan dapat tercipta ketika masyarakat tidak sekadar tinggal berdampingan, tetapi benar-benar hidup dalam kebersamaan.
“Alhamdulillah, sejak Pos Satkamling aktif hingga sekarang belum pernah terjadi tindak kejahatan. Ini adalah hasil sinergi masyarakat, pemerintah desa, dan kepolisian yang terus menjaga lingkungan bersama,” tutur bunda.
Nama Wonoasri sendiri bukan pertama kali mencuri perhatian.
Saat pandemi COVID-19, desa tersebut masuk dalam 20 desa dan kelurahan terbaik di Jawa Timur dalam penanganan pandemi dan mengikuti penilaian tingkat nasional.
Berbagai penghargaan kemudian berdatangan, mulai dari Kampung Tangguh dari Polda Jawa Timur, penghargaan program PPKM Mikro dari Kodam V/Brawijaya, apresiasi dari Polres Kediri, hingga penghargaan Pemerintah Kabupaten Kediri berupa bantuan senilai Rp100 juta.
Bagi Pemerintah Desa, seluruh penghargaan itu bukanlah tujuan akhir.
Melainkan buah dari semangat gotong royong yang terus dipelihara.
“Semua penghargaan ini lahir dari kebersamaan warga. Kami akan terus menjaga semangat ‘Kediri Tangguh, Kediri Tumbuh’,” ujar Anik.
Di balik seluruh pencapaian tersebut, terdapat wajah-wajah sederhana yang setiap malam tetap berjaga.
Ketua RT 01 RW 03, Arif Andriyono, mengatakan sebanyak 19 warga bergiliran melaksanakan ronda malam. Setiap malam, dua hingga tiga orang bertugas mengawasi lingkungan. Bahkan, setiap kepala keluarga diwajibkan mengirimkan satu anggota keluarga laki-laki dewasa untuk ikut ronda.
Bagi mereka, ronda bukan sekadar kewajiban.
Ia telah menjadi budaya.
Pos Satkamling pun tak hanya difungsikan sebagai pusat keamanan, tetapi juga menjadi ruang berkumpul warga untuk musyawarah, arisan, hingga mempererat silaturahmi.
“Bantuan yang kami terima tentu sangat membantu. Tetapi yang lebih penting adalah semangat warga tetap terjaga karena keamanan adalah tanggung jawab kita bersama,” kata Arif.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, Desa Wonoasri menghadirkan pelajaran sederhana namun bermakna.
Bahwa keamanan tidak selalu dibangun dari tembok tinggi atau perangkat canggih.
Kadang, ia lahir dari sapaan hangat antar tetangga, ronda yang dilakukan dengan ikhlas, dan kebersamaan yang terus menyala di sebuah pos kecil di sudut kampung.
Dan dari tempat sederhana itulah, harapan untuk mengharumkan nama Jawa Timur di tingkat nasional kini mulai tumbuh.
Jurnalis : Radistiya Sadam Inzagi


