KEDIRI – Di tengah denyut pembangunan yang terus bergerak, ruang-ruang kolaborasi menjadi jembatan yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Itulah yang tergambar dalam Kediri Mapan Expo 2026, sebuah panggung yang tak sekadar memamerkan hasil pembangunan, tetapi juga menghadirkan edukasi dan harapan bagi masa depan Kota Kediri.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-1147 Kota Kediri, MAPAN Expo 2026 menjadi sarana efektif bagi instansi pemerintah, pelaku UMKM, hingga komunitas untuk memperkenalkan layanan, produk, sekaligus mempererat kedekatan dengan masyarakat.
Salah satu peserta yang aktif memberikan edukasi kepada pengunjung adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Kediri. Melalui stan pamerannya, dinas yang dipimpin Ir. Endang Kartika Sari menghadirkan informasi mengenai berbagai layanan perizinan bangunan serta pentingnya penataan ruang yang sesuai dengan regulasi.
Seorang staf DPUPR Kota Kediri menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam MAPAN Expo bertujuan memperkenalkan berbagai program pembangunan sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan yang dimiliki dinas tersebut.
“Tujuan kami mengikuti MAPAN Expo agar masyarakat mengetahui pembangunan yang sedang dilakukan di Kota Kediri sekaligus mengenalkan layanan yang dimiliki DPUPR,” ujarnya, Jumat (03/07).
Dalam pameran tersebut, DPUPR mengenalkan sejumlah layanan, mulai dari Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), hingga konsultasi Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK). Tak hanya itu, pengunjung juga memperoleh informasi mengenai Layanan Reaksi Cepat, layanan pengaduan infrastruktur untuk penanganan banjir maupun saluran drainase yang mengalami penyumbatan.
Melalui sosialisasi ini, DPUPR berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengurus perizinan bangunan sesuai ketentuan. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan Kota Kediri yang lebih tertata, aman, dan berkelanjutan.
Tak hanya menjadi etalase pembangunan, MAPAN Expo 2026 juga memberi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar.
Salah satunya Numansa Batik, produsen batik khas Kediri yang telah berdiri sejak 2014. Keikutsertaan mereka dalam expo dimanfaatkan sebagai momentum memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat.
Owner Numansa Batik, Nunung Wiwin Aryanti, mengatakan ajang tersebut memberikan manfaat besar dari sisi promosi karena semakin banyak masyarakat mengenal batik khas Kediri beserta motif-motif yang mengangkat identitas daerah.
“Manfaat terbesar yang kami rasakan dari mengikuti expo ini adalah promosi. Masyarakat jadi semakin mengenal batik khas Kediri beserta motif-motif lokal yang kami kembangkan,” katanya.
Ia menjelaskan, Numansa Batik menghadirkan beragam motif yang terinspirasi dari sejarah dan budaya Kediri, di antaranya Kuda Lumping, Tirta Kamandanu, dan Turangga Bekso.
Meski mengangkat tema pembangunan dan konstruksi, MAPAN Expo tetap memberikan panggung bagi UMKM untuk memperkenalkan produk unggulan daerah sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi ke-1147 Kota Kediri.
Antusiasme pengunjung pun terlihat sepanjang pelaksanaan expo. Salah satunya disampaikan Galeno yang menilai kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan agenda peringatan hari jadi kota pada umumnya.
“Kesan saya cukup positif karena banyak pelaku UMKM yang ikut berpartisipasi. Acara seperti ini bisa membantu memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Galeno, tingginya partisipasi masyarakat diperkirakan akan terus meningkat seiring masih berlangsungnya rangkaian kegiatan MAPAN Expo 2026. Ia berharap, di usia ke-1147 tahun, Kota Kediri mampu terus tumbuh menjadi kota yang semakin maju, inklusif, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh masyarakat.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



