KEDIRI – Di bawah langit musim kemarau, suara cambuk kembali memecah udara Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Sabtu (4/7/2026). Setiap hentakan rotan yang meninggalkan jejak di tubuh para pelaku bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol pengorbanan, harapan, dan doa yang telah diwariskan lintas generasi.
Tradisi Cambuk Berdarah atau Tiban kembali digelar sebagai bagian dari rangkaian penyambutan Bulan Suro 2026. Ritual budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menyedot perhatian ratusan warga yang memadati kawasan Pasar Sapi Rojokoyo untuk menyaksikan salah satu warisan budaya khas Kabupaten Kediri tersebut.
Tak hanya pertunjukan Tiban, suasana Grebeg Suro juga dimeriahkan berbagai atraksi budaya dan prosesi adat yang semakin menghidupkan nuansa sakral sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Wakil Pengurus Paguyuban Seni Tiban Desa Purwokerto, Dwi Ari Dewantoro, mengatakan tradisi Cambuk Berdarah selalu digelar setiap Bulan Suro sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus upaya menjaga keberlangsungan budaya lokal.
“Untuk agenda Suro tahun 2026 ini, Desa Purwokerto kembali menggelar tradisi Cambuk Berdarah. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap Bulan Suro dan selalu mendapat antusiasme masyarakat. Bagi kami, Tiban bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi tradisi yang wajib dijaga dan dilestarikan,” ujarnya.
Di balik atraksi yang tampak ekstrem, tersimpan sejarah panjang yang hidup dalam ingatan masyarakat Purwokerto. Menurut cerita turun-temurun, tradisi Tiban bermula sekitar tahun 1930 ketika desa tersebut dilanda kemarau panjang. Saat itu, sebagian besar warga menggantungkan hidup sebagai petani, terutama petani tebu, sehingga kekeringan membawa dampak besar terhadap hasil panen dan kehidupan masyarakat.
Dalam kondisi sulit tersebut, para tokoh masyarakat bersama pemerintah desa bermusyawarah mencari jalan keluar. Dari pertemuan itulah lahir ritual Tiban sebagai bentuk ikhtiar spiritual dan doa kepada Tuhan agar hujan segera turun.
Konon, setelah prosesi saling mencambuk hingga darah mengalir dilaksanakan, hujan benar-benar mengguyur Desa Purwokerto. Sejak saat itu, tradisi tersebut terus diwariskan sebagai simbol pengorbanan, kebersamaan, dan pengharapan.
“Cerita yang kami terima dari para pendahulu menyebutkan, setelah pelaksanaan Tiban hujan benar-benar turun. Darah yang mengalir dari para pelaku menjadi lambang pengorbanan dan doa agar Tuhan menurunkan hujan serta memberi keberkahan bagi masyarakat,” jelas Dwi.
Hingga kini, masyarakat Desa Purwokerto tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya desa. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, penyelenggaraan Tiban setiap Bulan Suro juga menjadi ruang mempererat kebersamaan warga sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Cambuk Berdarah bukan sekadar ritual yang bertahan. Ia menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi akan tetap hidup selama ada masyarakat yang menjaganya. Dari setiap ayunan cambuk yang menggema, tersimpan pesan tentang sejarah, gotong royong, dan harapan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jurnalis: Yulita Dyah Kusumasari



