Warga Resah! Pembangunan Jembatan Kaliombo Picu Kemacetan Parah, Dio PAN : UMKM Lokal Mengadu

KEDIRI – Warga Kaliombo, Kecamatan Kota, Kediri, dibuat geram karena pembangunan Jembatan Kaliombo 1 di Jalan Urip Sumoharjo dilaksanakan tanpa sosialisasi sebelumnya. Dampaknya? Jalan-jalan gang padat kendaraan 24 jam non-stop, rumah makan hingga SPBU dan hotel lokal sepi pengunjung.

Tri Widodo, Ketua LPMK setempat, mengungkapkan rasa kecewanya. Ia pun berusaha menemui kontraktor proyek dan dijanjikan pertemuan resmi pada Selasa mendatang. “Kami berharap warga juga bisa dilibatkan sebagai tenaga kerja dalam proyek ini,” jelasnya.

Keprihatinan serupa datang dari Ricky Dio Febrian, anggota DPRD Kota Kediri. Ia mengaku menerima banyak aduan dari masyarakat mulai dari kemacetan parah hingga berkurangnya aktivitas ekonomi. “Tidak ada kompensasi bagi warga. Anehnya, sosialisasi dilakukan setelah proyek berjalan. Seharusnya pemerintah kota lebih tegas, meski ini proyek nasional yang dananya dari APBN,” tegas politisi PAN duduk di Komisi C.

Dikutip dari rilis resmi Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Perhubungan, jalur alternatif sudah disiapkan untuk mengantisipasi kemacetan akibat rehabilitasi Jembatan Kaliombo I, yang dijadwalkan berlangsung sejak 29 Mei hingga 11 Desember 2026. Penutupan jalan ini dimaksudkan untuk kelancaran pembangunan sekaligus keselamatan pengguna jalan.

Arief Cholisudin, Kepala Dishub Kota Kediri, menekankan bahwa rehabilitasi ini bersifat preventif. Mengingat usia jembatan mencapai 86 tahun, jauh melebihi standar umur teknis 25–35 tahun, perbaikan harus segera dilakukan sebelum kerusakan lebih parah terjadi. Tahun ini, fokus penganggaran pembangunan jembatan difokuskan pada Jembatan Kaliombo I.

Untuk meminimalkan gangguan, Dishub telah menyiapkan rekayasa lalu lintas dan jalur alternatif. Bus dari Surabaya menuju Tulungagung dialihkan melalui Jalan Mayor Bismo, Jalan Diponegoro, Jalan Imam Bonjol, hingga Jalan Sersan Suharmadji. Sementara kendaraan pribadi dan sepeda motor diarahkan melalui Simpang Empat Alun-Alun, Jalan Brigjen Katamso, Simpang Empat Baruna, dan Jalan Kaliombo.

Dishub juga bekerja sama dengan Satlantas Polres Kediri Kota dan pihak kontraktor, menempatkan petugas di titik-titik strategis untuk mengarahkan arus lalu lintas. Sistem Area Traffic Control System (ATCS) juga digunakan untuk memantau kondisi jalan secara real time.

Meski terjadi kepadatan akibat volume kendaraan yang meningkat dan sistem buka-tutup di area proyek, arus lalu lintas dilaporkan masih bergerak dan tidak sampai macet total. Namun, warga setempat tetap berharap pemerintah memperhatikan dampak sosial dan ekonomi proyek ini, terutama bagi usaha kecil di sekitar lokasi.