KEDIRI — Kebaya warna warni, langkah-langkah kian serempak, dan lebih terasa semangat. Terlihat di halaman Balai Kota Kediri, Selasa (21/4), ratusan perempuan menjelma menjadi wajah baru perjuangan Kartini—bukan lagi sekadar simbol emansipasi, tetapi penggerak perubahan lingkungan.
Sebanyak 750 perempuan ambil bagian dalam peringatan Hari Kartini yang dirangkaikan dengan Hari Bumi. Sejak pagi, kegiatan diawali dengan apel bersama, dilanjutkan flashmob yang menyemarakkan suasana, hingga pengumuman kostum terbaik yang menambah semangat kebersamaan.
Tak berhenti di seremoni, aksi berlanjut dengan gowes bersama jajaran Forkopimda, GOW, PKK, dan OPD menyusuri rute Balai Kota Kediri hingga bantaran Sungai Brantas. Di sana, rangkaian kegiatan ditutup dengan penebaran benih ikan, susur sungai, serta aksi bersih-bersih di kawasan Taman Brantas—sebuah simbol kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan, momentum ini bukan sekadar peringatan, melainkan ajakan untuk melanjutkan semangat Kartini dalam konteks kekinian—terutama dalam menjawab tantangan lingkungan dan sosial.
“Perempuan harus ikut menjaga ruang yang aman dan nyaman, baik di dunia nyata maupun di ruang digital,” ujarnya.
Ia menyebut tema Gerakan Indonesia Asri sebagai benang merah yang menghubungkan Hari Kartini dan Hari Bumi tahun ini. Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan, dimulai dari lingkup terkecil—rumah tangga.
Sosialisasi Pilah Sampah

Peran itu, lanjutnya, dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana namun berdampak besar: memilah sampah, menghemat energi, hingga menerapkan pola hidup bersih dan sehat secara konsisten.
Kepala DLHKP Kota Kediri Indun Munawaroh menegaskan, pengelolaan limbah rumah tangga menjadi titik krusial dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ia mengingatkan bahwa sebagian besar sampah berasal dari aktivitas domestik, sehingga peran perempuan sangat menentukan.
“Minimal dipisah antara organik dan anorganik. Dari situ sudah membantu lingkungan,” jelasnya.
Sampah organik, lanjutnya, dapat diolah menjadi kompos atau maggot, sementara sampah anorganik seperti plastik masih memiliki nilai ekonomi melalui proses daur ulang.
Di sisi lain, upaya menjaga ekosistem juga dilakukan melalui penebaran 7.000 benih ikan di Sungai Brantas. Koordinator Wild Water Indonesia Kediri Raya, Bima Nuryawan, menyebutkan benih yang ditebar terdiri dari gurame, masheer (dewa/cengkareng), dan tawes.
Langkah ini tak hanya untuk melestarikan ikan lokal, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem sungai. Ia menambahkan, kondisi Sungai Brantas kini mulai menunjukkan perbaikan, ditandai dengan menurunnya praktik illegal fishing serta meningkatnya kesadaran masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam momentum ini menjadi penegas bahwa semangat Kartini tak berhenti pada narasi, tetapi bergerak dalam aksi nyata. Dari dapur rumah tangga hingga bantaran sungai, perempuan Kediri mengambil peran sebagai pelopor lingkungan—membangun masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.









