foto : Anisa Fadila

Kisah Haru “Warga Pinggiran” di Tengah Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri

Bagikan Berita :

KEDIRI — Perayaan Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1222 tak hanya diwarnai kemeriahan halal bihalal dan selamatan yang dihadiri ribuan aparatur sipil negara (ASN) serta masyarakat. Di balik itu, terselip cerita lain yang sarat kisah haru tentang hadirnya ruang inklusif yang untuk pertama kalinya benar-benar dirasakan komunitas disabilitas.

Alvin, anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dari Kecamatan Kepung, menjadi salah satu yang merasakan pengalaman tersebut. Ia menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan naik sepeda motor demi bisa hadir di halaman Pemerintah Kabupaten Kediri.

Meski tak banyak berbicara, ekspresi kebahagiaan terpancar jelas. Kesempatan untuk bertemu langsung dengan Mas Dhito sapaan akrab Bupati Kediri, bersalaman, hingga merasakan suasana kebersamaan menjadi pengalaman yang berbeda baginya.

“Rasanya sangat senang, karena tidak semua orang bisa merasakan hal seperti ini, bersalaman dengan Mas Dhito” ujarnya.

Bagi Alvin, kehadirannya bukan sekadar mengikuti agenda seremonial. Ia menilai momen itu sebagai bentuk pengakuan bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian setara dalam kehidupan sosial.

Harapan serupa disampaikan Ragil Widayati dari komunitas Difabel Motorcycle Indonesia. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan karena mampu mempertemukan berbagai kelompok disabilitas dalam satu ruang.

Menurutnya, komunitas yang hadir sangat beragam—mulai dari pelaku UMKM, atlet, hingga kelompok tuli, daksa, dan tunanetra. Mereka datang dari latar belakang berbeda, namun memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi.

“Ini pertama kalinya semua komunitas bisa hadir lengkap dan berbaur dalam satu kegiatan,” katanya.

Ragil juga mengapresiasi sejumlah fasilitas yang disediakan pemerintah, mulai dari akses menuju lokasi hingga kemudahan mobilitas selama acara berlangsung. Bahkan, dukungan seperti penerbitan SIM bagi penyandang disabilitas dinilai sebagai langkah konkret menuju inklusivitas.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukanlah perlakuan khusus, melainkan akses yang setara.

“Kami tidak meminta keistimewaan, hanya kemudahan. Kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit,” tegasnya.

Di sisi lain, Ragil mengingatkan masih banyak penyandang disabilitas yang belum terjangkau, baik dari sisi akses transportasi, fasilitas, maupun informasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan serupa.

Ia berharap momentum ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi titik awal perluasan ruang inklusif yang berkelanjutan.

Perayaan hari jadi kali ini pun menyisakan pesan kuat: di tengah tradisi dan kemeriahan, ada langkah kecil namun berarti—membuka ruang bagi mereka yang selama ini berada di pinggir, untuk hadir, diakui, dan menjadi bagian utuh dari masyarakat.

jurnalis : Wildan Wahid Hasyim
Bagikan Berita :