KEDIRI – Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri menggandeng Sekolah Ramah Sampah merupakan salah satu program kerja Forum Kabupaten Sehat (FKS) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri untuk mensosialisasikan cara mengelola sampah. Digelar di Aula Dinas Pendidikan, pada Rabu (02/11). Sosialisasi ini bertujuan agar sekolah yang ada di Kabupaten Kediri dapat mengelola sampah organik dan anorganik dimulai dari diri sendiri. Dalam acara ini mengundang seluruh kepala sekolah dasar se-Kabupaten Kediri.
Sampah masih menjadi masalah, hal ini yang membuat Sekolah Ramah Sampah mengambil peran agar seluruh sekolah dapat mengaplikasikan pengelolaan sampah dengan baik. Penjelasan ini disampaikan Muhammad Muhsin, plt Kepala Dinas Pendidikan yang sekaligus Ketua Forum Kabupaten Sehat masing-masing sekolah harus memiliki kemampuan mengelola sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
“Seperti sampah organik bisa dijadikan pupuk cair lalu sampah plastik botol bisa untuk ecobriks atau juga bisa digunakan untuk kerajinan yang memiliki nilai,” ujarnya. Sekolah ramah sampah ini, akan diaplikasikan ke sekolah dasar hal ini bertujuan untuk menstimulasi anak-anak sejak dini agar peduli dengan sampah.
Sementara Ari Purnomo Adi merupakan Founder Sekolah Ramah Sampah sebagai salah satu pemateri. Mengajak masyarakat utamanya sekolah, untuk berperan serta dengan cara mengurangi volume sampah yang dihasilkan oleh diri pribadi dan keluarga.
“Kita ketahui setiap pribadi manusia satu harinya menyumbang 1 kilo sampah komposisinya adalah 80% itu sampah organik dan 40% sampah anorganik di sini target kita dari sekolah sampah dari forum Kabupaten sehat adalah mengurangi sampah organik 100%,” ujar Ari.
Sampah organik ini harus selesai di rumah atau di lingkungan sendiri sehingga tidak perlu dibuang ke tempat sampah. Caranya adalah dengan memanfaatkan sampah organik ini menjadi pupuk cair media penyubur tanah. Lalu sisanya merupakan sampah anorganik 20% dan memiliki nilai ekonomis dapat didaur ulang. Sedangkan sampah yang berbentuk residu seperti popok dan baterai itu harus di buang.
“Dengan hal ini sudah sangat membantu karena mengurangi volume sampah hingga 60 sampai 80% itu merupakan target kita,” tambahnya. Ini sangat membantu karena tercatat pengelolaan sampah Dinas Lingkungan Hidup belum sampai 20% dari seluruh total sampah yang dihasilkan oleh masyarakat apalagi tempat pembuangan akhir sampah terbatas.
Sekolah merupakan sarana yang paling bagus untuk memberikan karakter kepada masyarakat terutama saat sekolah dasar. Hal ini disampaikan Muhsin, berharap sekolah ikut menggerakkan anak dengan tujuan kepala sekolah berpartisipasi dengan anak didik mengelola sampah dengan baik.
Jurnalis : Kintan Kinari Astuti Editor : Nanang Priyo BasukiBagikan Berita :









