KEDIRI — Peresmian Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) 2 Al-Amien Ngasinan, Kota Kediri, Jumat (23/1), menjadi penanda dimulainya tanggung jawab besar dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga diproyeksikan sebagai pondasi strategis pembangunan sumber daya manusia di daerah.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari pertumbuhan fisik kota, melainkan dari kualitas manusianya. Anak-anak yang sehat, cerdas, dan berkarakter disebut sebagai pilar utama kemajuan Kota Kediri di masa mendatang.
“Program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Ini bukan sekadar upaya menangani persoalan gizi, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Vinanda Prameswati yang akrab disapa Mbak Wali.
Ia mengungkapkan, masih terdapat anak-anak yang harus mengikuti kegiatan belajar seharian tanpa asupan makanan yang memadai. Kondisi tersebut berdampak pada konsentrasi hingga prestasi belajar. Melalui program MBG, pemenuhan gizi diharapkan dapat menunjang tumbuh kembang sekaligus kualitas pembelajaran peserta didik.
Namun demikian, Mbak Wali menekankan bahwa keberhasilan program harus diiringi dengan pengelolaan SPPG yang ketat dan profesional. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan harus memenuhi standar yang ditetapkan. Peran guru juga dinilai krusial dalam mengedukasi siswa dan orang tua terkait pentingnya konsumsi makanan bergizi serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.
Sejalan dengan hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Kota Kediri, KH. Moh. Faried Muttaqin Iskandar akrab disapa Gus Faried, menyampaikan bahwa pengelolaan dapur SPPG mengandung tantangan besar sekaligus tanggung jawab yang tidak ringan.
“Kami dituntut untuk zero miss. Kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak besar terhadap keberlangsungan dapur dan seluruh sistem yang ada,” tegas Gus Faried.
Ia menjelaskan, SPPG 2 telah beroperasi selama sekitar satu pekan dan terus dilakukan pembenahan guna memberikan layanan pemenuhan gizi secara optimal. Saat ini, pengelola tengah melengkapi berbagai standar, termasuk SLHS dan sertifikasi halal, demi memastikan kualitas dapur sesuai ketentuan.
SPPG 2 sendiri merupakan pengembangan dari SPPG 1 yang sebelumnya telah beroperasi. Berbagai evaluasi dan pengalaman dari pengelolaan sebelumnya diterapkan, sehingga proses mitigasi di lapangan dinilai lebih matang. Dengan bekal pengalaman tersebut, operasional SPPG 2 diharapkan dapat berjalan tanpa kendala berarti.
Selain berdampak pada peningkatan status gizi anak, Gus Faried juga menyoroti efek ekonomi dari implementasi program MBG. Menurutnya, meskipun masih terdapat perbedaan pandangan, program ini telah memberikan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat.
“Jutaan orang hari ini menggantungkan hidupnya dari aktivitas dapur, mulai relawan, karyawan, hingga para pemasok. Termasuk UMKM yang ikut terlibat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat yang mewajibkan penggunaan bahan baku lokal dan tidak berasal dari pabrikan besar telah menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Kebijakan tersebut dinilai mampu menyerap tenaga kerja sekaligus mendorong pemerataan ekonomi.
Untuk menjamin mutu layanan, chef yang bertugas di SPPG 2 telah mengantongi sertifikat serta mengikuti pelatihan khusus di Surabaya selama tiga hari. Ke depan, pelatihan lanjutan akan terus dilakukan guna meningkatkan profesionalitas dan pemahaman standar gizi sesuai ketentuan yang berlaku.









