Siswa SMP Nekat Bawa Motor Juga Terjadi di Semen, Pihak Sekolah Ungkap Alasannya

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Fenomena pelajar SMP mengendarai sepeda motor ke sekolah ternyata belum sepenuhnya teratasi. Kondisi serupa masih ditemukan di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, yang masuk wilayah hukum Polres Kediri Kota.

Pantauan saat jam pulang sekolah memperlihatkan puluhan siswa SMPN 1 Semen mengambil sepeda motor yang mereka parkir di lahan milik warga di sekitar sekolah. Setelah itu, para siswa mengendarai sepeda motor masing-masing untuk pulang ke rumah.

Pemandangan tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar siswa SMP masih berada di bawah usia yang diperbolehkan mengendarai sepeda motor secara mandiri. Padahal, pihak sekolah telah berulang kali mengingatkan orang tua agar mengantar dan menjemput anak mereka.

Humas SMPN 1 Semen, Nur Farida, mengatakan sekolah telah melakukan sosialisasi mengenai larangan membawa sepeda motor kepada siswa maupun wali murid. Edukasi tersebut juga disampaikan melalui kegiatan parenting, termasuk kepada siswa kelas VII sejak awal tahun ajaran.

“Semua sudah kami sosialisasikan, termasuk kelas 7 sejak tahun ajaran baru. Anak-anak kami sarankan diantar orang tua. Kami hanya menyediakan tempat parkir sepeda,” kata Farida, Selasa kemarin.

Menurut dia, sekolah tidak memberikan izin kepada siswa yang belum cukup umur untuk mengendarai sepeda motor. Jika masih terdapat siswa yang membawa dan mengendarai motor, pengawasan terhadap anak kembali menjadi tanggung jawab orang tua.

Namun, persoalan transportasi di wilayah Semen memiliki tantangan tersendiri. Sebagian siswa tinggal di kawasan perbukitan dengan akses jalan yang menanjak. Pada saat bersamaan, pilihan transportasi umum menuju sekolah masih terbatas.

Kondisi tersebut diperparah dengan kesibukan sebagian orang tua yang harus bekerja maupun pergi ke sawah. Tidak semua orang tua dapat mengantar dan menjemput anak setiap hari.

“Terutama anak-anak yang sekolah dari atas (gunung). Orang tuanya mungkin sibuk, ke sawah atau ada pekerjaan lain, sehingga tidak sempat antar jemput. Akhirnya mungkin terpaksa mengizinkan anaknya membawa sepeda motor,” ujarnya.

Bagi siswa yang tinggal di kawasan pegunungan, sepeda juga bukan pilihan yang mudah. Kontur jalan yang menanjak menjadi salah satu kendala dalam perjalanan menuju sekolah.

Sebagian siswa kemudian memilih sistem boncengan dengan teman yang memiliki kendaraan. Menurut Farida, kondisi ini bahkan terkadang berdampak pada kehadiran siswa.

Ada siswa yang tidak masuk sekolah ketika teman yang biasa memboncengnya juga tidak berangkat, sementara siswa tersebut tidak memiliki kendaraan sendiri.

Pihak sekolah sebelumnya juga telah menerima sosialisasi dari kepolisian mengenai keselamatan berkendara. Dalam praktiknya, masih terdapat toleransi terhadap kondisi tertentu yang dialami siswa dari kawasan atas, terutama terkait perlengkapan keselamatan seperti helm dan kelengkapan kendaraan.

Meski demikian, sekolah tetap menegaskan bahwa siswa SMP belum diperbolehkan mengendarai sepeda motor sendiri.

Farida menyebut siswa kelas IX menjadi kelompok yang paling banyak terlihat membawa sepeda motor. Faktor usia yang semakin mendekati jenjang SMA disebut membuat sebagian siswa merasa sudah lebih dewasa. Di sisi lain, orang tua juga mulai memberikan kelonggaran.

“Mayoritas kelas sembilan. Mungkin karena sudah merasa besar, orang tuanya juga sudah mulai tega membiarkan,” katanya.

Saat ini, jumlah siswa SMPN 1 Semen mencapai sekitar 900 orang. Dengan jumlah siswa yang cukup besar dan kondisi geografis wilayah Semen yang sebagian berada di kawasan perbukitan, persoalan transportasi menjadi tantangan yang tidak sederhana.

Di satu sisi, sekolah memiliki kewajiban mengingatkan siswa mengenai keselamatan dan aturan berkendara. Di sisi lain, keterbatasan transportasi serta kondisi sosial dan geografis keluarga siswa membuat persoalan tersebut membutuhkan perhatian bersama, terutama antara sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan.

 

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan