foto : Anisa Fadila

Profil SMKN 1 Kras, Sekolah di Ujung Selatan Kediri yang Menyulap Lahan Tidur Jadi Kebun Harapan

Bagikan Berita :

KEDIRI – Meski berada di ujung selatan Kabupaten Kediri, tepatnya di Dusun Demangan, Desa Sonorejo, Kecamatan Kras. Tampak sekolah kejuruan yang dikelilingi hijaunya sawah dan sepi jalan pedesaan. Namun di balik kesederhanaan itu, tangan-tangan kreatif para guru dan siswa SMKN 1 Kras tengah menanam sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar tanaman, mereka sedang bersama-sama menumbuhkan harapan.

Lahan kosong di belakang sekolah, yang dulu hanya ditumbuhi pohon sengon, kini menjelma menjadi kebun produktif yang hidup. Di atas tanah seluas 800 meter persegi itu, tumbuh beragam tanaman: terong, blonceng, cipir, jagung manis, hingga pepaya Thailand. Setiap daun yang hijau di sana adalah hasil kerja tangan dan hati yang bersatu—guru dan siswa menanam, merawat, dan memanen bersama.

Kepala SMKN 1 Kras, Anik Safitri Budiyati, menuturkan bahwa semangat ketahanan pangan di sekolahnya lahir bukan karena instruksi, tetapi dari kesadaran bersama. “Program ketahanan pangan di SMKN 1 Kras mulai berjalan tahun 2023, sejalan dengan arahan pemerintah. Kami ingin menjadikan sekolah bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga tempat anak-anak belajar hidup,” ujarnya, saat ditemui di sela kegiatan menanam pepaya bersama siswanya.

Langkah kecil itu ternyata membawa dampak besar. Setelah sukses meraih predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Jawa Timur 2024, kini SMKN 1 Kras terpilih menjadi salah satu sekolah percontohan program School Food Care oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur—sebuah pengakuan atas upaya mereka membangun kemandirian pangan dan kepedulian lingkungan di kalangan pelajar.

Di kebun itu, setiap mata pelajaran menemukan caranya sendiri untuk hidup. Saat pelajaran Bahasa Inggris, siswa menulis teks prosedur tentang cara menanam pepaya sambil mempraktikkannya langsung. Bahasa Indonesia mengajak mereka menulis laporan hasil panen, sementara pelajaran IPAS mengurai proses pertumbuhan tanaman dengan pendekatan ilmiah. Belajar tak lagi dibatasi tembok kelas—di kebun, ilmu menjelma jadi pengalaman.

“Kami tidak menargetkan keuntungan. Tujuannya lebih pada edukasi dan kebersamaan. Semua warga sekolah bisa menikmati hasilnya. Yang penting, lahan termanfaatkan dan anak-anak belajar kecakapan hidup,” lanjut Anik.

Berkah Masyarakat Sekitar

foto : Anisa Fadila

Sebagian hasil panen dinikmati oleh warga sekolah, sebagian lainnya dijual ke masyarakat sekitar. Dana hasil penjualan kembali digunakan untuk membeli bibit, pupuk, dan kebutuhan kebun lainnya. Siklus sederhana yang membuat kegiatan ini berjalan mandiri dan berkelanjutan.

Tak berhenti di situ, para siswa juga diajarkan membuat pupuk kompos dari limbah sekolah. Dari daun kering dan sisa makanan di kantin, mereka belajar bahwa sampah pun bisa hidup kembali bila diolah dengan bijak. Inilah wujud nyata pendidikan karakter—di mana nilai tanggung jawab, gotong royong, dan cinta lingkungan tumbuh bersama akar-akar pepaya dan jagung manis.

“Anak-anak diharapkan memiliki life skill, kecerdasan hidup. Mereka harus tahu cara bertahan dalam situasi sulit dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya,” tutur Anik dengan nada yakin.

Bagi siswa seperti Yuniar Rizqiyatin Nafiah, siswi kelas 10 TKRO 1, kebun sekolah bukan sekadar proyek. “Seru banget. Belajar langsung bikin lebih paham. Rasanya beda, lebih gampang masuk ke otak daripada cuma baca di kelas,” katanya dengan tawa lepas.

Kini, SMKN 1 Kras bukan lagi sekadar sekolah di daerah pinggiran Kediri. Ia tumbuh menjadi simbol bagaimana pendidikan bisa menyentuh akar kehidupan: mengajarkan ilmu sambil menumbuhkan empati, menanam sayur sambil menanam karakter.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :