KEDIRI — Kebangkitan sektor peternakan di Kabupaten Kediri ditandai secara mencolok melalui gelaran kontes ternak sapi 2026 yang resmi ditutup di Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates. Ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi simbol kembalinya denyut ekonomi peternak setelah vakum sejak 2019.
Sorotan utama datang dari kategori ekstrem. Seekor sapi dengan bobot mencapai 1.214 kilogram atau lebih dari 1,2 ton sukses mencuri perhatian publik sekaligus menegaskan potensi besar peternakan lokal.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1222, sekaligus sarana edukasi dan promosi sektor peternakan.
“Selain apresiasi bagi peternak, kegiatan ini juga membuka peluang investasi di sektor peternakan,” ujarnya.
Sebanyak 134 ekor sapi dari 26 kecamatan ambil bagian dalam kontes yang terbagi dalam 10 kategori, mulai dari sapi Peranakan Ongole (PO), hasil inseminasi buatan, hingga kategori kereman ekstrem.
Tak hanya lomba, acara juga diramaikan dengan gerakan pangan murah dan pameran UMKM, memperlihatkan ekosistem peternakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana yang hadir langsung dalam penutupan menegaskan posisi strategis sektor peternakan dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
“Negara yang kuat adalah negara yang memiliki ketahanan pangan. Sektor peternakan ini kunci dan tidak boleh lumpuh,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa populasi sapi di Kabupaten Kediri kini mencapai sekitar 216 ribu ekor, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya—indikasi kuat bahwa sektor ini tetap menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah tak ingin berhenti pada capaian tahun ini. Kontes ternak didorong menjadi agenda rutin dengan skala yang lebih besar.
“Minimal menjadi yang terbaik di Jawa Timur, bahkan ke depan bisa ke tingkat nasional,” ujar bupati.
Optimisme ini bukan tanpa dasar. Antusiasme peternak terus meningkat, bahkan sejumlah peserta mulai menargetkan bobot sapi mendekati rekor nasional di kisaran 1,4 ton.
Di balik sapi berbobot fantastis, muncul nama peternak muda, Yuda Pratama (22), yang berhasil keluar sebagai juara pertama kategori ekstrem.
Keberhasilannya, menurut Yuda, ditentukan oleh disiplin dalam manajemen pakan dan perawatan harian.
“Yang penting konsisten, pakan terjaga, sapi tidak stres, dan kebersihan diperhatikan,” ungkapnya.
Kemenangan di debut pertamanya ini menjadi pemicu semangat untuk bersaing di level yang lebih tinggi.
“Ini motivasi untuk ikut kontes yang lebih besar ke depan,” katanya.
Dengan berakhirnya kontes ternak 2026, Pemerintah Kabupaten Kediri mengirim pesan kuat: sektor peternakan tidak hanya bangkit, tetapi siap melompat lebih jauh.
Jika konsistensi terjaga, bukan mustahil Kediri akan menjadi salah satu pusat peternakan sapi unggulan di tingkat regional hingga nasional.



