KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri kembali menggeber upaya penyerapan tenaga kerja melalui gelaran job fair yang menghadirkan ribuan peluang kerja. Kegiatan yang berlangsung di Convention Hall ini diikuti 42 perusahaan dengan total 1.920 lowongan tersedia bagi berbagai jenjang pendidikan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kediri, Ibnu Imad, menyebut job fair tersebut dirancang sebagai ruang temu langsung antara pencari kerja dan dunia industri.
“Konsepnya seperti pasar tenaga kerja. Di sini tersedia informasi, proses rekrutmen, hingga peluang kerja yang bisa diakses langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Dari total lowongan, sebagian besar menyasar lulusan SMA/SMK dengan 1.743 posisi. Sementara itu, tersedia pula 20 posisi untuk lulusan SMP, 39 posisi untuk diploma (D3), 117 posisi untuk sarjana (S1), dan satu posisi untuk jenjang pascasarjana.
Menariknya, tidak ada pembatasan usia dalam rekrutmen tersebut. Momentum pelaksanaan juga diselaraskan dengan kelulusan siswa, sehingga lulusan baru dapat segera masuk ke pasar kerja.
“Ini bagian dari upaya agar lulusan baru tidak menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan,” kata Ibnu.
Selain digelar secara luring selama dua hari, job fair juga terintegrasi dengan platform digital. Langkah ini memungkinkan pencari kerja tetap mengakses lowongan meski kegiatan fisik telah berakhir.
“Sekarang akses kerja bisa melalui ponsel. Sistem online ini kami siapkan agar interaksi antara perusahaan dan pencari kerja terus berlanjut,” tambahnya.
Di sisi lain, tantangan ketenagakerjaan dinilai tidak hanya datang dari pencari kerja, tetapi juga dari perusahaan yang kesulitan mendapatkan tenaga sesuai kebutuhan.
“Banyak perusahaan mengaku sulit menemukan talenta yang tepat. Bahkan tingkat keluar-masuk karyawan masih cukup tinggi,” ungkap Ibnu.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Kediri, Sonny Subroto Maheri Laksono, menegaskan bahwa job fair merupakan bagian dari kolaborasi lintas sektor dalam menekan angka pengangguran.
“Ini bukan solusi tunggal, melainkan kerja bersama antara pemerintah, dunia usaha, pendidikan, masyarakat, dan media,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Kediri menurun dari 5,1 persen pada 2024 menjadi 4,71 persen pada 2025. Pemerintah daerah berharap tren tersebut terus berlanjut melalui berbagai intervensi, termasuk job fair.
Bagi pencari kerja, kegiatan ini dinilai membuka peluang lebih luas. Isa Nainurofiq (18), lulusan SMK asal Pare, mengaku memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melamar sebagai pramuniaga.
“Lowongan banyak, tapi persaingan juga ketat. Semoga bisa diterima,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Lila, yang melamar di beberapa perusahaan sekaligus.
“Lebih mudah karena bisa langsung memilih dan melamar di banyak perusahaan,” katanya.
Ke depan, Pemkab Kediri tidak hanya fokus pada penyerapan tenaga kerja, tetapi juga mendorong lahirnya wirausaha baru sebagai pencipta lapangan kerja.
“Tidak hanya mencetak pencari kerja, tapi juga mendorong masyarakat menjadi pelaku usaha,” tegas Sonny.
Dengan pendekatan offline dan digital yang terintegrasi, job fair ini diharapkan menjadi strategi adaptif dalam menghadapi dinamika pasar tenaga kerja yang terus berkembang.



