KEDIRI – Bunga (nama samaran), gadis muda dari Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, kini menapaki babak baru dalam hidupnya—menjadi seorang ibu di usia belia. Jumat malam yang dingin di salah satu rumah sakit umum di Kota Kediri menjadi saksi lahirnya bayi perempuan mungil, buah dari kisah pilu yang mengguncang nurani.
Kabar bahagia sekaligus getir itu pertama kali datang dari Roy Kurnia Irawan, aktivis LSM yang sejak awal setia mendampingi keluarga Bunga.
“Sejak pagi dia sudah kesakitan, tanda-tanda persalinan mulai terasa. Sekitar pukul delapan malam, bayi lahir lewat operasi caesar. Karena keluarga tak punya biaya, saya akhirnya menandatangani surat penjaminan rumah sakit,” ujar Roy, Sabtu (04/10).
Namun di balik kelahiran yang seharusnya disambut senyum, tersimpan kisah kelam yang menyesakkan dada. Sebelumnya, Bunga bersama ibunya melapor ke Polres Kediri Kota, menuding NF (26), warga Desa Sukonanyar Kecamatan Mojo, sebagai terduga pelaku persetubuhan terhadap anak di bawah umur. Laporan juga disampaikan ke Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (DP3AP2KB) Kota Kediri.
Dari pengakuan korban, tindakan tak manusiawi itu terjadi dua kali—pada Oktober dan Desember 2024. Janji manis untuk menikahi korban tak pernah ditepati, hingga kehamilan yang semula disembunyikan akhirnya terkuak pada Agustus 2025.
Kini, setelah bayi itu lahir, sejumlah aktivis dan relawan perlindungan anak berbondong menjenguk ke rumah sakit. Mereka ingin memastikan Bunga dan bayinya mendapatkan perawatan terbaik.
“Pihak rumah sakit dan DP3AP2KB sudah memberikan penanganan maksimal. Tapi lebih dari itu, pemerintah harus menatap lebih dalam: keluarga ini hidup dalam keterbatasan ekonomi. Mereka butuh tangan negara, bukan hanya empati sesaat,” tegas Bagus Romadhon, Ketua Relawan Kesehatan (Rekan) Jawa Timur, yang turut hadir.
Bagus menekankan, pendampingan tak cukup hanya dari Satgas PPA. Perlu sinergi dari Dinas Sosial dan Dinas Koperasi UMTK agar keluarga Bunga bisa bertahan.
“Kalau ekonomi dibiarkan terpuruk, risiko itu bisa berbalik. Korban bisa tumbuh jadi pelaku di masa depan—entah karena himpitan hidup, entah karena dendam yang tak terobati,” ujarnya penuh makna.
Kini, di ruang bersalin yang masih beraroma antiseptik, Bunga terbaring lemah di samping bayinya. Tangis kecil itu mungkin menjadi simbol harapan baru. Tapi juga pengingat: di negeri yang mengaku menjunjung keadilan, masih banyak anak yang berjuang sendirian melawan luka dan sistem yang terlalu lamban memulihkan mereka.









