Ratusan Driver Ojol Kepung Maxim Kediri, Ini yang Mereka Tuntut

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Ratusan driver ojek online (ojol) di Kediri Raya menggelar aksi protes terhadap kebijakan layanan Maxim Turbo, Selasa (29/9) siang. Mereka menilai program tersebut justru menambah beban dan menggerus pendapatan para mitra pengemudi. Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan atau pernyataan resmi dari pihak Maxim atas tuntutan mereka.

Aksi yang melibatkan sekitar 300 driver itu berlangsung dengan konvoi menyusuri sejumlah ruas jalan di Kota Kediri. Massa memulai perjalanan dari Taman Makam Pahlawan (TMP) di Jalan PK Bangsa, kemudian bergerak melewati Jalan Erlangga, Jalan Joyoboyo, Simpang Empat Baruna, Jembatan Bandar Ngalim, Jalan Penanggungan, Jalan Veteran, hingga Jembatan Brawijaya.

Dari kawasan tersebut, para driver kemudian bergerak menuju Balai Kota Kediri. Mereka meminta pemerintah daerah menjadi penghubung antara para driver dan manajemen Maxim untuk menyampaikan keberatan terkait penerapan layanan Turbo.

Salah satu driver, Syaiful Arief, mengatakan terdapat dua tuntutan utama yang dibawa dalam aksi tersebut. Pertama, meminta layanan Turbo dihapus. Kedua, meminta adanya pembatasan penerimaan driver baru.

Menurut Syaiful, skema layanan Turbo dinilai tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh driver.

“Turbo itu kita membeli Rp15 ribu per tiga jam. Setelah membeli dipotong, akhirnya driver rugi besar,” ujar Syaiful.

Ia menggambarkan kondisi yang dialaminya dengan simulasi pendapatan selama tiga jam. Dalam periode tersebut, seorang driver disebut bisa mendapatkan empat penumpang dengan total pendapatan sekitar Rp40 ribu.

Namun, setelah dikurangi potongan aplikasi dan biaya bahan bakar, penghasilan yang tersisa disebut sangat kecil.

“Dari Rp40 ribu, setelah dipotong dan BBM, kita hanya menerima sekitar Rp3 ribu,” katanya.

Para driver berharap Pemkot Kediri dapat meneruskan aspirasi tersebut kepada pihak Maxim. Mereka meminta kebijakan Turbo dievaluasi, bahkan dihapus, apabila dinilai tidak memberikan keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan driver dan pendapatan yang diterima.

Dalam orasinya, driver bernama Rudi Santoso juga mendesak agar layanan Turbo dihentikan. Ia berharap aksi yang berlangsung di Kediri dapat menjadi momentum bagi driver Maxim di daerah lain untuk menyampaikan keberatan serupa.

Menurut Rudi, persoalan tersebut tidak hanya dirasakan driver di Kediri karena layanan Turbo disebut diterapkan secara nasional.

Pemkot Kediri: Tidak Punya Kewenangan Menghentikan Kebijakan Maxim

Pemerintah Kota Kediri merespons tuntutan para driver. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Kediri, Eko Lukmono, mengatakan pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk menghentikan kebijakan yang dibuat oleh perusahaan aplikasi.

Meski demikian, Pemkot Kediri berkomitmen meneruskan aspirasi para driver kepada pihak terkait.

“Kami akan menyampaikan ke operator maupun kementerian terkait terkait keluhan tersebut,” kata Eko.

Eko menjelaskan, pemerintah daerah akan terlebih dahulu menghimpun data serta aspirasi dari para driver. Informasi tersebut nantinya akan menjadi bahan untuk disampaikan kepada operator aplikasi maupun kementerian terkait.

Massa Segel Kantor Maxim

Setelah menyampaikan aspirasi di Balai Kota Kediri, massa kemudian bergerak menuju kantor Maxim yang berada di Kelurahan Banjaran, Kota Kediri.

Saat didatangi massa, kondisi kantor tersebut terlihat sepi. Sejumlah personel kepolisian berada di lokasi untuk melakukan pengamanan.

Massa kemudian melakukan penyegelan terhadap kantor Maxim sebagai bentuk protes atas kebijakan layanan Turbo.

Aksi tersebut menjadi puncak dari rangkaian protes ratusan driver ojol Kediri Raya yang meminta adanya evaluasi terhadap kebijakan yang mereka nilai berdampak terhadap pendapatan mitra pengemudi.

 

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan