KEDIRI – Sebuah ruang yang dulu nyaris luput dari perhatian kini perlahan menemukan denyut kehidupannya. Di Jalan Sudanco Supriadi, Kota Kediri, lahan yang sebelumnya kurang terawat berubah menjadi ruang terbuka hijau (RTH) bernama Taman Prameswati.
Pepohonan, penghijauan, dan fasilitas publik membuat kawasan tersebut tampil lebih teduh dan tertata. Saat sore menjelang, warga mulai berdatangan. Ada yang sekadar duduk menikmati suasana, menghabiskan waktu bersama keluarga, hingga mencari penghasilan dari aktivitas ekonomi di sekitar taman.
Namun, ada satu hal yang membuat taman ini sempat menjadi perbincangan: namanya. Nama Prameswati dianggap memiliki kemiripan dengan nama belakang Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati. Persepsi itu kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai alasan pemerintah memilih nama tersebut.
Pemerintah Kota Kediri memastikan, penamaan Taman Prameswati tidak dimaksudkan untuk mengabadikan nama wali kota maupun tokoh tertentu. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Indun Munawaroh, menjelaskan bahwa nama tersebut merupakan inisiatif DLHKP Kota Kediri.
Menurut Indun, Prameswati berasal dari bahasa Sanskerta yang dimaknai sebagai perempuan utama atau sosok perempuan yang dihormati. Pemilihan nama itu, kata dia, merupakan bentuk penghormatan terhadap berbagai peran perempuan di Kota Kediri.
“Taman ini hadir sebagai wujud penghormatan atas peran-peran perempuan yang ada di Kota Kediri. Jadi, taman ini tidak merujuk pada salah satu tokoh,” jelas Indun mengutip video tersebut.
Dengan demikian, pemerintah menegaskan bahwa nama taman tersebut tidak ditujukan untuk mengabadikan nama Wali Kota Kediri ataupun figur tertentu.
Dari Lahan Kurang Terawat Menjadi Ruang Publik
Perubahan Taman Prameswati terlihat dari kondisi kawasan sebelum dan setelah ditata. Sebelumnya, lokasi tersebut merupakan lahan kosong yang belum banyak dimanfaatkan masyarakat. Sejumlah pohon, termasuk pohon mangga, tumbuh di kawasan itu. Kondisinya pun belum tertata sehingga aktivitas warga belum terlalu terlihat. Kini, wajah kawasan tersebut berubah.
Penataan dan penghijauan membuat lokasi yang sebelumnya cenderung sepi menjadi ruang terbuka yang lebih nyaman. Kehadiran taman juga memberikan pilihan baru bagi warga untuk menikmati waktu luang tanpa harus meninggalkan kawasan pusat kota.
Sore hingga malam menjadi waktu ketika aktivitas warga mulai terasa. Taman yang sebelumnya sunyi perlahan memiliki suara dan gerak: percakapan warga, aktivitas keluarga, serta pedagang yang berharap keramaian menghadirkan tambahan rezeki. Meski belum setiap waktu dipadati pengunjung, perubahan itu sudah dirasakan masyarakat yang sehari-hari berada di sekitar taman.
Pedagang 40 Tahun Saksikan Perubahan Kawasan
Salah satunya adalah Samsun. Perempuan tersebut telah berjualan es cincau dan polo pendem di sisi selatan kawasan selama lebih dari 40 tahun. Puluhan tahun berada di lokasi itu membuat Samsun menjadi salah satu saksi perubahan kawasan dari masa ke masa.
Sebelum taman ditata, lokasi tersebut lebih banyak berupa lahan kosong. Kini, suasananya berbeda.
“Kalau taman sekarang menurut saya bagus. Dulu tidak terawat, sekarang sudah diperbaiki dan lebih asri,” ujar Samsun.
Bagi Samsun, perubahan kawasan tersebut bukan sekadar perubahan fisik. Kehadiran taman turut membawa aktivitas baru, terutama ketika sore tiba. Warga yang datang untuk menikmati taman menjadi calon pembeli bagi pedagang di sekitarnya.
Samsun biasanya mulai berjualan sekitar pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB. Dagangannya berupa polo pendem dan es cincau. Pada pagi hingga siang hari, pembeli cenderung belum banyak. Aktivitas justru mulai terasa ketika sore hingga malam, bersamaan dengan meningkatnya jumlah warga yang datang ke kawasan taman.
Pendapatan Samsun pun tidak selalu sama setiap hari. Jumlah pengunjung menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penghasilannya. Dalam kondisi tertentu, ia bisa memperoleh sekitar Rp70 ribu atau lebih.
Taman Ramai, Pedagang Berharap Rezeki Bertambah
Bagi pedagang kecil seperti Samsun, keberadaan ruang publik dapat menjadi peluang sekaligus tantangan. Ketika taman mulai ramai, potensi pembeli ikut terbuka. Namun, penataan kawasan juga membawa aturan baru yang harus diikuti, salah satunya terkait parkir.
Samsun mengaku adanya larangan atau aturan parkir di sekitar taman terkadang membuat calon pembeli ragu berhenti. Kondisi tersebut terutama terasa pada siang hari ketika taman belum ramai.
“Apalagi ada tulisan atau aturan terkait larangan parkir, pelanggan jadi kadang tidak berani berhenti,” jelasnya.
Situasi itu membuat aktivitas jualan Samsun tidak selalu berjalan mulus. Di satu sisi, taman mendatangkan warga. Di sisi lain, keteraturan kawasan membuat pedagang harus menyesuaikan diri dengan tata ruang yang baru. Meski demikian, Samsun memilih bertahan.
Puluhan tahun berjualan di kawasan tersebut membuatnya telah memiliki pelanggan yang mengenal dan terbiasa membeli dagangannya. Selain itu, ia menilai lokasi tersebut masih cukup nyaman untuk berjualan dibandingkan harus mencari tempat baru.
Ruang Hijau yang Bertemu dengan Aktivitas Ekonomi
Kehadiran Taman Prameswati memperlihatkan bagaimana sebuah ruang publik dapat memiliki banyak fungsi sekaligus. Sebagai RTH, taman memberikan ruang bagi warga untuk menikmati lingkungan yang lebih hijau dan tertata. Sebagai ruang publik, kawasan tersebut menjadi tempat bertemu dan beraktivitas.
Di sisi lain, keberadaan pengunjung juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang mencari penghasilan di sekitarnya. Namun, bertemunya berbagai kepentingan tersebut membutuhkan penataan yang seimbang.
Kenyamanan pengunjung perlu berjalan beriringan dengan aktivitas pedagang. Aturan parkir perlu menjaga keteraturan tanpa menghilangkan akses masyarakat terhadap pelaku usaha kecil di sekitar taman. Taman yang ideal bukan hanya indah dipandang, tetapi juga mampu menjadi ruang yang hidup dan dapat digunakan masyarakat secara nyaman.
Nama yang Menjadi Perbincangan, Makna yang Lebih Luas
Di tengah perubahan fisik kawasan, nama Taman Prameswati menjadi bagian yang tak kalah menarik perhatian. Kemiripan nama dengan nama belakang Wali Kota Kediri sempat membuat masyarakat mengaitkannya dengan sosok kepala daerah tersebut.
Namun, DLHKP Kota Kediri telah memberikan penjelasan bahwa nama itu memiliki makna tersendiri. Prameswati dipilih untuk menggambarkan perempuan utama atau perempuan yang dihormati. Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan penghormatan terhadap peran perempuan di Kota Kediri.
Dengan penjelasan itu, nama taman tidak ditempatkan sebagai monumen bagi satu figur, melainkan sebagai simbol penghargaan terhadap perempuan secara lebih luas. Pada akhirnya, Taman Prameswati bukan hanya tentang nama.
Ia adalah tentang sebuah kawasan yang berubah dari lahan yang kurang terawat menjadi ruang hijau. Tentang warga yang datang menikmati sore. Tentang pedagang yang menunggu pembeli. Tentang aturan yang harus dipatuhi. Dan tentang bagaimana sebuah ruang publik perlahan menemukan kehidupannya sendiri.
Dari lahan yang dulu sepi, kini tumbuh ruang baru di tengah Kota Kediri—tempat pepohonan, aktivitas warga, dan harapan mencari rezeki bertemu dalam satu kawasan.
jurnalis : Anisa Fadila



