KEDIRI — Jalan Sultan Agung, Kota Kediri, Sabtu (15/8), tak sekadar menjadi jalur lalu lintas warga. Ruas jalan itu berubah menjadi ruang bertemunya kopi, produk lokal, kreativitas, dan harapan para pelaku usaha kecil untuk tumbuh lebih jauh.
Suasana tersebut hadir melalui Senada Fest, kegiatan yang digelar Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota, sebagai bagian dari semarak HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mengusung slogan “Ngopi, Belanja, Berkarya, Bersama Kita Berdaya!”, acara ini membawa misi yang lebih besar dari sekadar bazar.
Di antara deretan stan UMKM dan gerai kopi, para pelaku usaha mendapat ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun jejaring. Musik akustik, tari dan pencak silat dari pelajar SD Negeri Setonopande, hingga atraksi barongsai yang diawali pelepasan balon turut menghidupkan suasana.
Namun di balik kemeriahannya, Senada Fest menyimpan satu pesan utama: UMKM tidak cukup hanya bertahan dengan berjualan. Mereka perlu bertumbuh, memperbaiki kualitas, memiliki legalitas, dan menemukan jalan untuk naik kelas.
Lurah Setonopande Farida Noviati mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kelurahan mendorong UMKM binaan agar terus berkembang.
“Karena kami penginnya UMKM itu tidak hanya sekadar untuk jualan saja, tapi mereka juga ikut berkembang,” kata Farida.
Bukan Sekadar Lapak Jualan
Sebanyak 15 UMKM dan sekitar 8-10 gerai kopi ambil bagian dalam Senada Fest. Produk yang ditawarkan menjadi bagian dari denyut ekonomi lokal yang ingin terus diperkenalkan kepada masyarakat.
Kelurahan Setonopande juga tidak melepas pelaku usaha berjalan sendiri. UMKM binaan telah difasilitasi dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal.
Legalitas tersebut menjadi salah satu fondasi penting agar usaha yang dirintis dari skala kecil memiliki pijakan yang lebih kuat untuk berkembang.
Farida menuturkan, Senada Fest sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara UMKM dan komunitas. Salah satunya Grup Paseban yang bergerak di bidang komunitas kopi.
Kolaborasi itu diharapkan menciptakan suasana baru bagi masyarakat sekaligus membuka ruang promosi yang lebih luas bagi produk lokal.
Ke depan, Senada Fest direncanakan digelar secara rutin setiap dua minggu sekali di kawasan sebelah barat rel kereta api.
Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Selain menjadi ruang publik yang berbeda, keberadaan rel dan kereta yang melintas di kawasan itu diharapkan memberikan karakter tersendiri bagi kegiatan.
“Ini adalah titik yang kita pilih karena kita ingin ada event yang berbeda dengan tempat lainnya. Ada spot rel kereta, ada kereta api lewat,” ujar Farida.
Ketika UMKM Bertemu Anak Muda
Bagi penyelenggara, keberadaan komunitas dan generasi muda menjadi bagian penting dari strategi promosi UMKM.
Di era ketika sebuah produk dapat dikenal luas melalui satu unggahan media sosial, kreativitas anak muda dinilai dapat menjadi jembatan bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau calon konsumen yang lebih luas.
Senada Fest pun tidak berhenti pada aktivitas transaksi. Pelaku UMKM didorong memperbaiki tampilan stan, kemasan, hingga pengembangan menu.
Koordinator UMKM Senada Fest, Ona Yusita, mengatakan pembinaan dilakukan melalui proses kurasi agar produk yang ditampilkan memiliki kualitas yang semakin baik.
“Kita akan sama-sama belajar untuk tampilan booth, untuk kemasan, packaging seperti itu. Dan juga kita usahakan untuk legalitas, kita fasilitasi,” kata Ona.
Pembenahan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kemasan, legalitas, tampilan usaha, hingga pengembangan menu.
Dengan begitu, stan UMKM diharapkan bukan hanya menarik perhatian pengunjung saat acara berlangsung, tetapi juga mampu membangun citra produk yang lebih profesional.
Pemerintah Dorong UMKM Naik Kelas
Upaya tersebut mendapat dukungan dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja (UMTK) Kota Kediri.
Kepala Bidang Produksi, Pemasaran, dan Pembiayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi UMTK Kota Kediri Sony Hermawan menilai penguatan UMKM memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan pendapatan pemilik usaha.
Menurutnya, ketika omzet UMKM meningkat dan usaha mampu naik kelas, perputaran ekonomi keluarga juga dapat ikut terdorong. Pada akhirnya, geliat tersebut berpotensi memperkuat perekonomian Kota Kediri.
Untuk memperkuat kemampuan masyarakat, Dinas Koperasi UMTK Kota Kediri membuka pelatihan secara gratis.
“Dinas Koperasi kita buka dua pelatihan. Yang pertama pelatihan untuk calon tenaga kerja. Terus yang kedua adalah untuk pelatihan UMKM,” kata Sony.
Pelatihan calon tenaga kerja diperuntukkan bagi masyarakat, termasuk lulusan baru yang ingin meningkatkan keterampilan. Sementara pelatihan UMKM diarahkan untuk membantu pelaku usaha mengembangkan produk sehingga tidak sekadar menjual produk yang sudah ada.
Peserta pelatihan juga mendapatkan sertifikat.
Dukungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi dapat berlanjut pada peningkatan taraf hidup masyarakat dan penguatan ekonomi Kota Kediri.
Gagasan Satu Kelurahan Satu Produk Unggulan
Dorongan untuk memperkuat identitas produk lokal juga datang dari Anggota DPRD Kota Kediri Drs. Bambang Giantoro, S.H., M.H.
Ia mengusulkan konsep One Village One Product dalam pembinaan UMKM di tingkat kelurahan.
“Jadi, satu kelurahan harus mempunyai satu produk unggulan,” ujar Bambang.
Menurutnya, setiap kelurahan dapat diarahkan memiliki produk yang menjadi ciri khas masing-masing.
Jika gagasan tersebut diterapkan secara luas, produk unggulan dari setiap kelurahan dapat menjadi identitas ekonomi lokal sekaligus membuka peluang pengembangan usaha masyarakat.
Konsep itu juga sejalan dengan semangat yang dibawa Senada Fest: membangun UMKM bukan hanya agar mampu menjual, tetapi agar memiliki kualitas produk, identitas, legalitas, dan kemampuan untuk berkembang.
Dari Perayaan Kemerdekaan Menuju Agenda Rutin
Senada Fest memang lahir dalam suasana perayaan kemerdekaan. Namun penyelenggara berharap gaungnya tidak padam setelah rangkaian perayaan berakhir.
Dengan rencana penyelenggaraan setiap dua minggu, kegiatan tersebut diharapkan berkembang menjadi ruang rutin yang mempertemukan pelaku UMKM, komunitas, anak muda, dan masyarakat.
Di satu sisi, UMKM memperoleh panggung untuk memperkenalkan produk. Di sisi lain, masyarakat mendapatkan ruang untuk berbelanja, menikmati kopi, dan menyaksikan berbagai pertunjukan.
Ada pula peluang bagi komunitas untuk membangun kolaborasi baru.
Pada akhirnya, jalan yang menjadi lokasi Senada Fest bukan hanya menjadi tempat orang berlalu-lalang. Ia diharapkan berubah menjadi ruang tempat produk lokal menemukan pembeli, pelaku usaha menemukan peluang, dan masyarakat menemukan alasan baru untuk mendukung ekonomi di lingkungannya sendiri.
Semangat itu terangkum dalam slogan yang dibawa acara tersebut: ngopi, belanja, berkarya, dan bersama-sama berdaya.
Rangkaian Kegiatan Berlanjut
Kemeriahan Senada Fest tidak berhenti pada Sabtu (15/8).
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada Minggu (16/8) melalui jalan sehat dan senam bersama.
Masyarakat juga berkesempatan membawa pulang berbagai hadiah melalui undian doorprize. Hadiah yang disiapkan antara lain satu lemari es, dua sepeda, dua televisi, tiga kompor gas, tiga kipas angin, serta puluhan hadiah hiburan.
Bagi UMKM Setonopande, panggung itu menjadi lebih dari sekadar tempat berjualan. Ia menjadi langkah kecil untuk memperkenalkan produk lokal, membangun kolaborasi, dan menanam harapan bahwa usaha yang tumbuh dari lingkungan sendiri dapat memiliki jalan menuju pasar yang lebih luas.
Jurnalis: Anisa Fadila



