Wali Kota Kediri Serukan Gerakan “Ayah Wajib Hadir” untuk Selamatkan Masa Depan Generasi

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Seorang anak tidak selalu membutuhkan pahlawan dengan jubah dan kekuatan luar biasa. Terkadang, sosok yang paling mereka tunggu hanyalah seorang ayah yang mau mendengar cerita, menggenggam tangan saat takut, dan hadir ketika dunia terasa berat.

Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 dan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Kota Kediri. Melalui tema “Ayah Wajib Hadir”, Pemerintah Kota Kediri mengajak para ayah mengambil kembali peran pentingnya sebagai pelindung, pendamping, sekaligus tempat aman bagi anak-anak.

Kegiatan yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri di GOR Jayabaya, Jumat (10/7), diikuti ribuan peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Acara diawali dengan penampilan Jingle GenRe dan Jingle 2P Forum Anak. Dalam kesempatan tersebut, sejumlah penghargaan juga diberikan kepada sekolah, Kampung KB, serta kader berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam memperkuat ketahanan keluarga dan perlindungan anak.

Ayah Hadir Bukan Hanya dengan Raga, tetapi Juga dengan Hati

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan bahwa makna tema “Ayah Wajib Hadir” jauh lebih luas daripada sekadar keberadaan fisik seorang ayah di rumah.

Menurutnya, anak membutuhkan sosok ayah yang hadir secara emosional, seseorang yang mampu menjadi pendengar, pemberi dukungan, dan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak-anak tidak hanya membutuhkan ayah yang hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara emosional dalam kehidupan mereka,” ujar Vinanda.

Ia menjelaskan, kehadiran ayah dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana namun bermakna, seperti menemani anak belajar, mendengarkan kisah mereka, bermain bersama, hingga memberikan teladan dalam bersikap.

Sebab, keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Dari rumah, anak belajar berbicara, menghargai orang lain, memahami aturan, membangun karakter, hingga menemukan impian masa depannya.

Menurut Vinanda, keluarga yang kuat menjadi pondasi penting dalam mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045.

Ancaman Anak Masa Kini Tak Hanya Soal Stunting

Di tengah perkembangan zaman, tantangan dalam pengasuhan anak semakin kompleks. Persoalan keluarga kini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan stunting, tetapi juga menyentuh berbagai ancaman baru.

Mulai dari perundungan atau bullying, kekerasan terhadap anak, perkawinan usia dini, kecanduan gawai, hingga paparan konten negatif di media sosial menjadi tantangan yang harus dihadapi orang tua.

Vinanda mengingatkan agar rumah menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk kembali.

“Jadikan rumah tempat paling nyaman bagi anak untuk pulang. Jauhkan mereka dari kekerasan, penggunaan gawai tanpa kontrol, serta pastikan anak tumbuh sehat, bebas stunting, dan terlindungi dari perundungan maupun perkawinan anak,” pesannya.

Menurutnya, lingkungan keluarga yang penuh perhatian dapat menjadi benteng pertama dalam melindungi anak dari berbagai risiko di luar rumah.

Fenomena Fatherless Jadi Alarm Penting Keluarga

Kepala DP3AP2KB Kota Kediri dr. Muhammad Fajri Mubasysyir menjelaskan bahwa tema “Ayah Wajib Hadir” dipilih sebagai bentuk respons terhadap fenomena fatherless yang semakin menjadi perhatian.

Fatherless bukan hanya berarti seorang anak kehilangan ayah secara fisik. Kondisi tersebut juga dapat terjadi ketika sosok ayah ada, tetapi tidak terlibat dalam proses tumbuh kembang anak.

“Akibatnya, banyak anak mencari figur ayah di luar rumah dan itu bisa menimbulkan berbagai persoalan,” jelas Fajri.

Ia menyebut, perkembangan teknologi juga menjadi salah satu faktor yang dapat mengurangi kedekatan komunikasi dalam keluarga.

Tidak jarang, keluarga yang berada dalam satu ruangan justru sibuk dengan perangkat masing-masing. Kedekatan secara fisik pun tidak selalu berarti kedekatan secara emosional.

Karena itu, Pemkot Kediri terus mendorong berbagai gerakan yang mengajak ayah lebih aktif dalam kehidupan anak, seperti kegiatan menggambar bersama ayah, Gerakan Ayah Mengambil Rapor, hingga Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah.

Menurut Fajri, kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap rasa aman dan kepercayaan diri anak.

Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga figur yang memberikan perlindungan psikologis. Anak yang merasa didukung dan dihargai cenderung tumbuh lebih percaya diri serta memiliki kemampuan menghadapi tekanan sosial.

“Anak juga membutuhkan figur ayah agar merasa aman, percaya diri, dan tidak takut menghadapi berbagai situasi,” katanya.

Ia menegaskan, seorang ayah dapat menjadi “superhero” bagi anak bukan karena memiliki kekuatan luar biasa, melainkan karena mampu hadir ketika anak membutuhkan.

Kehadiran tersebut diyakini dapat membantu mengurangi risiko anak menjadi korban perundungan karena mereka memiliki rasa percaya diri dan dukungan kuat dari keluarga.

Pemkot Kediri Siapkan Layanan Perlindungan Anak dan Keluarga

Sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga, DP3AP2KB Kota Kediri menyediakan layanan konsultasi psikologi gratis melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA).

Bagi masyarakat yang telah menghadapi persoalan keluarga maupun anak, pemerintah juga menyediakan pendampingan melalui Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA), dengan dukungan psikolog serta layanan pendampingan hukum.

Selain kampanye penguatan peran ayah, rangkaian kegiatan Harganas Kota Kediri telah berlangsung sejak 29 Juni dengan berbagai agenda.

Kegiatan tersebut meliputi lomba Kader Tim Pendamping Keluarga, lomba Kader IMP Bangga Kencana, pemilihan Duta Cilik, hingga edukasi yang dilakukan Forum Anak di berbagai sekolah mulai dari SLB, TK, hingga SD.

Dalam kesempatan tersebut, DP3AP2KB Kota Kediri juga menyampaikan sejumlah capaian program keluarga.

Sebanyak 46 Kampung KB di Kota Kediri telah mencapai klasifikasi berkelanjutan. Salah satunya Kampung KB Kelurahan Ketami yang berhasil meraih Juara II tingkat Jawa Timur.

Selain itu, sebanyak 12 sekolah juga mendapatkan predikat Klasifikasi Paripurna sebagai Sekolah Siaga Kependudukan.

Acara puncak Harganas dan HAN tersebut ditutup dengan penandatanganan komitmen “Ayah Wajib Hadir” sebagai simbol gerakan bersama untuk memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.

Sebab pada akhirnya, seorang anak tidak selalu membutuhkan dunia yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan rumah yang hangat dan seorang ayah yang berkata melalui tindakan: “Ayah ada di sini untukmu.”

Jurnalis: Anisa Fadila

✓ Link berhasil disalin