KEDIRI – Di tengah suasana sakral bulan Suro, sebuah warisan masa lalu kembali dimuliakan. Di Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, para juru pelihara cagar budaya menggelar Merti Cagar Budaya: Jamasan Arca Totok Kerot, sebuah ritual penyucian arca purbakala peninggalan masa Kerajaan Kediri yang sarat nilai sejarah, spiritualitas, dan penghormatan terhadap leluhur.
Bukan sekadar prosesi membersihkan batu berusia ratusan tahun, jamasan ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat sekaligus doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan kelancaran dalam menjalani tahun baru Jawa.
Kegiatan yang berlangsung Kamis (9/7) tersebut menjadi pelaksanaan kedua sejak pertama kali digelar. Berbeda dari agenda resmi pemerintahan, tradisi ini lahir dari kepedulian dan inisiatif mandiri para juru pelihara cagar budaya Kabupaten Kediri yang ingin menghadirkan ruang penghormatan bagi peninggalan sejarah daerah.
Pengampu Cagar Budaya dan Permuseuman Kabupaten Kediri, Eko Prianto, menyebut kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri karena memiliki nilai edukasi dan pelestarian budaya.
“Hari ini kita mengadakan kegiatan Merti Cagar Budaya Jamasan Arca Totok Kerot yang merupakan inisiatif teman-teman juru pelihara cagar budaya Kabupaten Kediri. Kemarin sudah saya laporkan ke Kepala Dinas dan beliau sangat mendukung karena sifatnya yang mandiri,” ujar Eko.
Ketika Seni dan Sejarah Menyatu di Kaki Arca Totok Kerot
Sebelum prosesi jamasan dimulai, kawasan Arca Totok Kerot diselimuti nuansa budaya yang kental. Alunan seni tradisional menjadi pembuka acara, menghadirkan pertunjukan jaranan jawi dari kelompok Putro Sakti Budoyo, para seniman lokal asal Desa Bulupasar.
Gerakan para penari yang penuh energi seolah menjadi penghormatan tersendiri bagi peninggalan leluhur yang berdiri kokoh sebagai saksi perjalanan panjang sejarah Kediri.
Bagi masyarakat setempat, Arca Totok Kerot bukan hanya benda purbakala. Ia merupakan bagian dari identitas budaya yang menyimpan cerita, nilai sejarah, serta hubungan emosional antara masa lalu dan generasi masa kini.
Eko menjelaskan bahwa inti dari kegiatan Merti Cagar Budaya adalah menjaga dua hal sekaligus, yakni kondisi fisik peninggalan sejarah serta nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Rangkaian ritual diawali dengan selamatan dan pembacaan kisah legenda Arca Totok Kerot. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan pembersihan arca secara simbolis oleh para juru pelihara bersama masyarakat.
Masyarakat Turut Membersihkan Arca, Pelestarian Budaya yang Menjadi Ruang Edukasi
Hal menarik dalam pelaksanaan jamasan tahun ini adalah keterlibatan masyarakat umum. Warga dan pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diberi kesempatan untuk ikut membersihkan arca secara langsung.
Keterlibatan tersebut menjadi pengalaman budaya yang berbeda. Masyarakat dapat memahami bahwa menjaga peninggalan sejarah bukan hanya tugas pemerintah atau ahli konservasi, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.
Namun, meski melibatkan banyak orang, proses pembersihan tetap dilakukan dengan memperhatikan prinsip konservasi arkeologi.
Tidak ada bahan kimia yang digunakan dalam ritual tersebut. Perawatan hanya menggunakan air bersih dan sikat khusus berbahan ijuk agar tidak merusak permukaan batu arca.
“Untuk perawatan cagar budaya memang tidak diperkenankan adanya cairan apapun kecuali air dan sikat. Tidak ada sabun, tidak ada apapun, jadi murni air dan sikat. Sikatnya pun harus yang dari ijuk, tidak boleh menggunakan sikat plastik maupun kawat agar tidak merusak struktur batuan arca,” jelas Eko.
Salah satu bagian paling menarik dalam ritual ini adalah penggunaan air untuk memandikan Arca Totok Kerot. Air tersebut bukan berasal dari satu sumber biasa, melainkan dihimpun dari tujuh sumber mata air pilihan yang dianggap memiliki nilai sakral di wilayah Kediri.
Perpaduan air dari tujuh sumber tersebut menjadi simbol penyatuan doa, harapan, serta penghormatan masyarakat terhadap peninggalan leluhur.
Meski memiliki unsur tradisi dan kepercayaan lokal, seluruh proses tetap berjalan berdampingan dengan prinsip pelestarian cagar budaya.
Para juru pelihara yang terlibat memiliki pengetahuan khusus mengenai tata cara perawatan benda bersejarah agar nilai autentik dan keutuhan fisiknya tetap terjaga.
Dari Kediri Menuju Dunia, Jamasan Arca Totok Kerot Tarik Perhatian Peneliti Jepang
Keunikan tradisi tersebut ternyata tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal. Seorang mahasiswa program Doktoral (S3) Antropologi Budaya dari Kobe University, Jepang, Saki Maeta, turut hadir menyaksikan langsung seluruh rangkaian prosesi jamasan.
Kehadirannya didorong oleh ketertarikan akademis terhadap bagaimana masyarakat Kediri menjaga peninggalan masa lalu melalui tradisi yang masih hidup hingga sekarang.
“Saya merasa sangat senang setelah mengikuti acara jamasan ini. Saya bisa melihat langsung bagaimana masyarakat Kediri begitu menghargai peninggalan arca seperti ini. Saya datang ke Kediri karena tertarik dengan kebudayaannya, terutama bagaimana masyarakat melestarikan peninggalan zaman dahulu,” kata Saki.
Menurut Saki, warisan budaya di Kediri memiliki nilai yang sangat berharga karena masyarakat masih memiliki kesadaran kuat untuk menjaga peninggalan sejarah secara turun-temurun.
Melihat antusiasme masyarakat, kegiatan Merti Cagar Budaya diharapkan tidak berhenti di Arca Totok Kerot. Ke depan, tradisi serupa direncanakan dapat digelar di sejumlah situs bersejarah lain seperti Candi Tegowangi dan Candi Surowono.
Jamasan Arca Totok Kerot menjadi pengingat bahwa peninggalan masa lalu bukan sekadar batu yang diam membisu. Di baliknya tersimpan cerita, nilai, dan identitas sebuah daerah.
Melalui tangan masyarakat yang peduli, jejak kejayaan masa lampau tetap dirawat agar dapat menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Dari Kediri, sebuah pesan sederhana kembali bergema: menjaga sejarah berarti menjaga jati diri bangsa.
Jurnalis: Yulita Dyah Kusumasari



