KEDIRI – Jalan-jalan di Kelurahan Lirboyo berubah menjadi panggung budaya yang dipenuhi lautan manusia. Ribuan warga memadati sepanjang rute kirab untuk menyaksikan Kirab Gunungan Hasil Bumi Lirboyo Berbudaya, tradisi tahunan yang kembali digelar pada Bulan Suro sebagai wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar menjaga warisan budaya leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Mengusung tema “Lirboyo Berbudaya”, kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat dalam merawat persatuan dan melestarikan budaya lokal. Acara dibuka langsung oleh Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, kemudian dilanjutkan dengan penampilan marching band Pondok Pesantren Lirboyo, kirab gunungan hasil bumi, kirab pusaka, hingga atraksi seni Bonggolan Pecut Jaranan yang memukau ribuan penonton.
Tak kurang dari 1.000 peserta ambil bagian dalam kirab. Mereka berasal dari delapan RW, 28 RT, Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK), Pondok Pesantren Lirboyo, SDN Lirboyo, hingga masyarakat umum yang turut memeriahkan perhelatan budaya tersebut.
Lurah Lirboyo, Panji Hartawan, mengatakan Kirab Gunungan Hasil Bumi tidak hanya menjadi bagian dari tradisi bersih desa yang rutin digelar setiap Bulan Suro, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi antarmasyarakat sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata melalui program Kediri City Tourism.
“Kirab Gunungan Hasil Bumi Lirboyo Berbudaya kami harapkan terus menjadi sarana mempererat silaturahmi masyarakat. Selain menjadi bagian dari tradisi bersih desa pada Bulan Suro, kegiatan ini juga mendukung program city tourism sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah,” ujarnya.
Ketua Panitia Kirab Gunungan, Suharsono, berharap kegiatan tersebut terus mendapatkan dukungan dari pemerintah maupun masyarakat sehingga dapat diselenggarakan semakin meriah pada tahun-tahun mendatang.
Menurutnya, kirab budaya bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk nyata nguri-uri budaya sekaligus sarana mengenalkan jati diri bangsa kepada generasi muda agar tetap mengenal akar budayanya.
Pada pelaksanaan tahun ini, masyarakat menampilkan sembilan gunungan hasil bumi yang merupakan hasil gotong royong delapan RW. Aneka hasil pertanian tersebut disusun menjadi gunungan sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang telah diterima masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, Bambang Priambodo, menilai kegiatan budaya semacam ini memiliki dampak luas, tidak hanya dalam menjaga tradisi tetapi juga menghidupkan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.
“Semakin banyak event budaya yang diselenggarakan, semakin hidup sektor pariwisata Kota Kediri. Dampaknya juga dirasakan masyarakat karena mampu menggerakkan perekonomian, khususnya pelaku UMKM dan sektor usaha di sekitar kegiatan,” katanya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati memberikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Lirboyo dalam melestarikan budaya Jawa melalui kirab tahunan tersebut. Ia berharap tradisi ini terus berkembang sebagai media edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus semakin dikenal oleh masyarakat di luar Kota Kediri.
Salah seorang peserta kirab dari RW 06, Rizal Ali, menjelaskan bahwa gunungan yang dibawanya dibuat menyerupai Wayang Purwa dan disusun dari berbagai jenis buah serta sayuran.
“Bentuk Wayang Purwa kami pilih sebagai bagian dari budaya Jawa. Sementara hasil bumi yang digunakan menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dan hasil panen yang telah diberikan,” ungkapnya.
Antusiasme ribuan warga yang memadati sepanjang jalur kirab menjadi bukti bahwa tradisi masih berdenyut kuat di tengah masyarakat. Di balik barisan gunungan hasil bumi dan iringan kesenian tradisional, tersimpan semangat gotong royong, rasa syukur, serta tekad bersama untuk menjaga identitas budaya agar tetap lestari dari generasi ke generasi.
Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen daerah, Kirab Gunungan Hasil Bumi Lirboyo Berbudaya diharapkan terus menjadi agenda budaya unggulan yang memperkuat identitas lokal sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata dan ekonomi Kota Kediri.
Jurnalis: Navima Aulya Sava – Radistya Sadam Inzagi Virgiawan



