KEDIRI – Sebuah keresahan sederhana dapat menjelma menjadi gagasan besar. Berangkat dari keprihatinannya terhadap belum adanya alun-alun yang dinilai representatif di Kota Kediri, Yehezkiel Anugraha berhasil mengubah pemikiran tersebut menjadi prestasi membanggakan.
Siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) SMK Cahaya Surya Kediri itu sukses meraih Juara I dalam Sayembara Poster Gagasan Pembangunan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-1147 Kota Kediri. Ia memenangkan kompetisi melalui karya bertajuk Dwi Loka Panji Galuh, digelar Sabtu (04/07) di Halaman Balai Kota Kediri.
Mengusung tema “Level Up Aset Lokal: Ruang Kolaborasi Kreatif Cah Kediri”, sayembara tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan ide-ide inovatif dalam mengoptimalkan aset daerah agar lebih produktif, kreatif, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Dalam proses penilaian, dewan juri menyebut seluruh finalis menghadirkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan Kota Kediri. Berbagai konsep yang dipresentasikan dinilai berpotensi menjadi referensi bagi pemerintah dalam merancang pembangunan kota yang lebih maju dan berkelanjutan.
Di antara beragam inovasi tersebut, konsep Dwi Loka Panji Galuh milik Yehezkiel tampil sebagai yang terbaik. Gagasan itu menawarkan revitalisasi Alun-Alun Kota Kediri melalui konsep dua lapis (two layer), yakni bagian atas difungsikan sebagai ruang budaya sekaligus kawasan hijau yang ramah lingkungan, sedangkan bagian bawah dimanfaatkan sebagai pusat aktivitas ekonomi serta sistem parkir modern.
Menurut Yehezkiel, ide tersebut lahir dari banyaknya aspirasi masyarakat yang menginginkan ruang publik lebih luas dan mampu menampung berbagai aktivitas warga.
“Saya berpikir, kenapa Kota Kediri belum memiliki alun-alun yang luas dan representatif untuk menampung kegiatan masyarakat. Padahal setiap ada event selalu ramai. Dari situlah muncul gagasan Dwi Loka Panji Galuh,” ujarnya.
Remaja berusia 17 tahun itu mengaku sempat tidak percaya diri saat mengetahui jumlah finalis bertambah dan harus bersaing dengan peserta dari berbagai sekolah. Namun, keraguan tersebut justru menjadi motivasi untuk menampilkan presentasi terbaik di hadapan dewan juri.
Keberhasilan meraih juara pertama pun menjadi capaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Lebih dari sekadar memenangkan perlombaan, Yehezkiel berharap gagasannya dapat menjadi inspirasi sekaligus bahan pertimbangan dalam pembangunan Kota Kediri di masa mendatang.
“Saya sangat berharap gagasan ini bisa diwujudkan oleh Pemerintah Kota Kediri. Menurut saya, jika alun-alun dibangun, maka pergerakan ekonomi, mobilitas masyarakat, dan interaksi sosial akan menjadi lebih baik,” katanya.
Prestasi Yehezkiel menjadi bukti bahwa ide-ide besar tidak selalu lahir dari ruang rapat atau meja perencana. Dari bangku sekolah pun, mimpi tentang wajah baru sebuah kota dapat tumbuh, berkembang, dan memberi harapan bagi masa depan. Melalui sayembara ini, kreativitas generasi muda diharapkan terus menjadi energi baru dalam mendukung pembangunan Kota Kediri yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



