Darah Mengalir demi Setetes Hujan, Tradisi Tiban Kediri Kembali Menggema di Grebeg Suro 2026

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di tengah teriknya musim kemarau, dentuman gamelan dan langkah kirab budaya kembali menghidupkan denyut tradisi di Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Sabtu (4/7/2026). Puncaknya, cambuk-cambuk rotan kembali beradu di tubuh para peserta dalam ritual Tiban, tradisi turun-temurun yang sarat makna dan menjadi simbol ikhtiar memohon turunnya hujan.

Ritual yang telah diwariskan sejak masa penjajahan Belanda itu masih bertahan sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Kediri. Berdasarkan kisah yang hidup dari generasi ke generasi, tradisi Tiban lahir ketika Desa Purwokerto pernah dilanda kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

Kala itu, warga menggelar ritual saling mencambuk hingga darah menetes sebagai bentuk doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hujan segera turun. Konon, tidak lama setelah prosesi tersebut berlangsung, hujan benar-benar mengguyur desa dan mengakhiri musim kering.

Dalam pelaksanaan Grebeg Suro Tiban 2026, rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya dari Pasar Rojokoyo Lama menuju Pasar Rojokoyo Baru. Suasana semakin semarak dengan penampilan tari kolosal yang melibatkan pelajar, kader kesehatan, perangkat RT/RW, hingga masyarakat setempat.

Sekretaris Desa Purwokerto, Brendi Katresnan, mengatakan Grebeg Suro Tiban merupakan agenda budaya tahunan yang menjadi wujud komitmen masyarakat dalam menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Tahun ini sekitar 150 peserta mengikuti rangkaian kegiatan. Tidak hanya warga Purwokerto, tetapi juga paguyuban seni dari Tulungagung dan Blitar yang merupakan warga asli Purwokerto dan kini mengembangkan kesenian Tiban di daerah masing-masing,” ujarnya.

Menurut Brendi, kirab budaya mulai rutin digelar sejak 2023 dengan rute dari Pasar Rojokoyo Lama menuju Pasar Rojokoyo Baru. Pemilihan lokasi tersebut memiliki nilai historis karena Pasar Rojokoyo Lama dipercaya sebagai tempat awal berkembangnya tradisi Tiban.

“Ini agenda rutin kirab Grebeg Suro, tari Tiban, dan cambuk berdarah sebagai upaya nguri-uri budaya Desa Purwokerto. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus terus kami jaga agar tidak hilang dan tetap dikenal generasi mendatang,” katanya.

Bagi para pelaku Tiban, rasa sakit akibat cambukan bukanlah hal utama. Yang mereka jaga adalah nilai budaya, sejarah, dan penghormatan kepada para leluhur.

Salah seorang peserta, Sukaji, mengaku bangga masih dapat terlibat dalam ritual tersebut. Baginya, setiap cambukan adalah simbol kecintaan terhadap tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

“Memang sakit, tetapi tidak terasa karena nilai seninya jauh lebih besar. Sekarang kami juga mengenalkan kesenian Tiban di Blitar dan ternyata banyak masyarakat yang tertarik,” ungkapnya.

Melalui penyelenggaraan Grebeg Suro Tiban 2026, masyarakat Desa Purwokerto berharap tradisi yang telah menjadi identitas desa itu tetap lestari. Selain menjaga warisan budaya, ritual tersebut juga diharapkan mampu menarik minat wisatawan untuk mengenal lebih dekat kekayaan tradisi lokal yang masih hidup dan terus dijaga di Kabupaten Kediri.

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan

✓ Link berhasil disalin