Berawal Guru Honorer Gaji Rp200 Ribu Tak Patahkan Mimpi Muhibbudin, Kini Pimpin SMAN 7 Kediri

KEDIRI – Tak semua perjalanan menuju puncak dimulai dari kemudahan. Ada yang harus ditempuh melalui jalan panjang, penuh penantian, kegagalan, dan kesabaran. Itulah kisah Muhibbudin, M.Pd.I., putra asli Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, yang memulai karier sebagai guru honorer bergaji sekitar Rp200 ribu per bulan hingga akhirnya dipercaya memimpin SMAN 7 Kediri.

Lahir pada 1975 dari keluarga pendidik, Muhibbudin tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian. Kecintaannya pada dunia pendidikan telah tumbuh sejak kecil dan menjadi kompas yang mengarahkan setiap langkah hidupnya.

Perjalanan itu dimulai pada 2001 ketika ia mengajar sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di Tarokan. Saat itu, ia baru membangun rumah tangga dan belum memiliki pekerjaan tetap. Penghasilannya yang hanya sekitar Rp200 ribu setiap bulan jauh dari kata cukup, namun tidak pernah membuatnya berpaling dari profesi yang dicintainya.

“Saya bertahan menjadi guru honorer meskipun gajinya hanya sekitar Rp200.000 per bulan karena memang sudah menjadi panggilan jiwa,” ungkapnya.

Baginya, rezeki adalah urusan Tuhan, sementara ikhtiar menjadi tanggung jawab manusia. Keyakinan itu membuatnya tetap bersyukur dan terus mengabdi meski kondisi ekonomi masih serba terbatas.

Namun jalan menuju status Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak datang begitu saja. Muhibbudin harus menelan kegagalan demi kegagalan saat mengikuti seleksi CPNS di berbagai daerah, mulai Jombang, Nganjuk, Tulungagung hingga Blitar. Total tujuh kali ia mencoba sebelum akhirnya berhasil.

Alih-alih menyerah, setiap kegagalan justru menjadi bahan bakar semangatnya.

“Saya mengikuti seleksi CPNS sebanyak tujuh kali sebelum akhirnya diterima. Saya tidak pernah menyerah,” kenangnya.

Selain mempersiapkan diri melalui belajar, ia juga memperkuat ikhtiar spiritual. Muhibbudin rutin mengaji, memperbanyak doa di masjid, hingga sowan kepada para kiai untuk memohon restu. Penantian panjang itu akhirnya terjawab pada 2003 ketika ia dinyatakan lolos sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 1 Garum, Kabupaten Blitar.

Momen menerima gaji pertama sebagai PNS menjadi salah satu kenangan yang tak terlupakan. Dari hasil kerja kerasnya, ia membeli telepon genggam dan sepeda motor. Bukan semata karena nilai bendanya, melainkan karena semuanya diperoleh dari jerih payah sendiri.

Selama empat tahun mengajar di Blitar, Muhibbudin setiap hari menempuh perjalanan pulang-pergi dari Kediri. Panas terik maupun hujan deras menjadi teman setia di sepanjang perjalanan. Di balik perjalanan itulah lahir sebuah janji dalam dirinya.

Apabila suatu hari diberi kesempatan kembali mengabdi di Kediri, ia bertekad memberikan seluruh kemampuan terbaiknya.

Kesempatan itu datang pada 2007 saat dirinya dipindahkan ke SMAN 7 Kediri. Di sekolah tersebut, ia mengemban berbagai amanah, mulai dari wali kelas, sekretaris Program Akselerasi, ketua Program Akselerasi, hingga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

Setiap jabatan dijalaninya dengan penuh tanggung jawab sebagai bentuk pembuktian atas janji yang pernah ia tanamkan di sepanjang perjalanan menuju Blitar.

Meski telah menjadi ASN, satu mimpi lain masih tersimpan rapi, yakni menjadi dosen. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di STAIN Malang yang kini menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, ia sempat berharap dapat langsung melanjutkan studi magister melalui beasiswa. Namun keadaan berkata lain.

Keinginan itu tidak pernah padam. Pada 2013, Muhibbudin berhasil meraih gelar magister. Kini ia sedang menyelesaikan pendidikan doktor di UIN Syekh Wasil Kediri. Sejak 2018, ia juga dipercaya sebagai dosen luar biasa yang mengampu mata kuliah Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Semangat belajar tersebut berakar dari pesan sang ayah agar tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Nasihat itu menjadi pegangan yang terus ia bawa dalam setiap fase kehidupan.

“Siapa pun yang menempuh jalan mencari ilmu akan dicukupi kebutuhannya oleh Allah,” tuturnya.

Babak baru karier kepemimpinannya dimulai ketika mengikuti seleksi kepala sekolah pada 2019. Meski sempat tertunda akibat pandemi Covid-19, ia akhirnya dilantik sebagai Kepala SMAN 4 Kediri pada Desember 2022.

Di bawah kepemimpinannya, capaian Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025 menjadi yang tertinggi di Kota Kediri.

Mulai 1 Juni 2026, Muhibbudin kembali ke SMAN 7 Kediri. Kali ini bukan sebagai guru ataupun wakil kepala sekolah, melainkan sebagai pemimpin. Sekolah yang pernah menjadi tempatnya mengabdi hampir dua dekade kini menjadi ruang untuk mewujudkan visi yang lebih besar.

Ia menargetkan penguatan budaya akademik, meningkatkan kesiapan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), serta memperbanyak lulusan yang diterima di perguruan tinggi melalui jalur SNBP maupun seleksi lainnya.

Menurutnya, keberhasilan siswa selalu berawal dari kualitas guru.

“Upaya meningkatkan kompetensi guru merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas siswa,” katanya.

Karena itu, selama masa libur sekolah pun para guru tetap mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari deep learning, active learning, project-based learning, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran.

Muhibbudin menilai tantangan pendidikan saat ini tidak hanya datang dari perkembangan teknologi, tetapi juga derasnya arus media sosial dan perubahan gaya hidup generasi muda.

“Menurut saya tantangan terbesar generasi sekarang adalah pengaruh media sosial dan gaya hidup,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa yang sering kali membuat hidup terasa berat bukan semata biaya hidup, melainkan gaya hidup yang tidak terkendali. Karena itu, generasi muda harus memiliki tujuan hidup yang jelas, konsisten mengejar cita-cita, dan tetap menjaga ibadah sebagai fondasi kehidupan.

Ke depan, Muhibbudin ingin membangun budaya belajar yang lahir dari kesadaran, bukan karena tekanan. Pemanfaatan telepon genggam tetap diperbolehkan sebagai sarana belajar, namun harus digunakan secara bijak agar benar-benar mendukung proses pendidikan.

“Harapan saya adalah membangun budaya akademik yang lebih kuat sehingga siswa belajar bukan karena dipaksa guru, tetapi karena memiliki kesadaran sendiri,” pungkasnya.

Perjalanan Muhibbudin menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari titik awal yang nyaman. Dari seorang guru honorer dengan penghasilan Rp200 ribu per bulan, tujuh kali gagal menjadi ASN, hingga akhirnya dipercaya memimpin SMAN 7 Kediri, ia menunjukkan bahwa ketekunan, kerja keras, doa, dan semangat belajar mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dijalani dengan kesabaran dapat bermuara pada pencapaian yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

jurnalis : Anisa Fadila – Navima Aulya Sava