KEDIRI — Ketua Komisi VI DPR RI, Dr. Hj. Anggia Erma Rini, M.K.M., menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungan budaya bangsa saat menyerahkan bantuan seperangkat gamelan kepada Perkumpulan Kesenian Tayub Galuh Mekar Sari di Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Sabtu (6/6).
Penyerahan bantuan yang berasal dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Bank BTN melalui program aspirasi Anggia Erma Rini tersebut berlangsung dalam suasana kental nuansa budaya Jawa. Alunan gamelan, pertunjukan Tari Gambyong, karawitan, hingga kesenian tayub menyambut kedatangan rombongan dan para tamu yang hadir.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Anggota DPRD Kabupaten Kediri Fraksi PKB Ahmad Ahla, para pegiat seni, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Bagi Anggia, bantuan gamelan bukan sekadar penambahan sarana kesenian, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan mampu menjangkau generasi penerus.
“Menjadi pelaku atau penikmat kesenian tradisional tidak membuat seseorang ketinggalan zaman. Justru generasi muda perlu ikut menjaga dan melestarikannya,” kata Anggia.
Ia mengaku optimistis melihat keterlibatan anak-anak muda yang aktif sebagai penari, penabuh gamelan, hingga sinden. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah derasnya arus budaya populer global.
Anggia menekankan bahwa budaya tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga mengandung nilai-nilai filosofis yang membentuk karakter masyarakat sejak generasi ke generasi.
“Budaya adalah akar karakter kita. Budaya adalah jati diri kita,” tegasnya.
Menurut Anggia, keterbukaan terhadap budaya luar merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Namun demikian, masyarakat Indonesia tidak boleh kehilangan kedekatan dengan budaya sendiri yang selama ini menjadi fondasi identitas bangsa.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Kesenian Tayub Galuh Mekar Sari, Sudarmanto, menyambut baik bantuan tersebut. Ia menilai dukungan terhadap kelompok seni tradisional menjadi energi baru untuk memperkuat regenerasi sekaligus memperluas ruang pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.
Menurut Sudarmanto, tantangan terbesar saat ini adalah menarik minat generasi muda agar tetap mencintai kesenian tradisional. Karena itu, pendekatan yang dilakukan harus menyesuaikan perkembangan zaman dan dunia anak muda.
“Kalau melihat kondisi anak muda sekarang yang sudah modern, tugas kita adalah mendekati mereka dan memahami apa yang mereka sukai,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tayub merupakan bagian dari tradisi masyarakat Jawa yang telah lama hadir dalam berbagai kegiatan budaya, mulai dari bersih desa hingga hajatan warga. Karena itu, menjaga keberlangsungan tayub tidak hanya berarti melestarikan seni pertunjukan, tetapi juga merawat nilai kebersamaan yang diwariskan para leluhur.
Sudarmanto berharap dukungan terhadap pelestarian budaya tidak berhenti pada bantuan sarana semata, melainkan juga diikuti dengan semakin banyak ruang pertunjukan bagi generasi muda. Dengan demikian, kesenian tradisional dapat terus berkembang sekaligus menjadi wadah positif bagi anak-anak muda.
“Semoga bantuan ini bisa berkembang dan memberi kesempatan anak-anak muda untuk tampil dalam kesenian tayub sehingga tidak terjerumus ke hal-hal negatif,” pungkasnya.



