KEDIRI — Rencana pelaksanaan Car Free Night (CFN) di kawasan Stasiun Kediri yang sedianya digelar pada Sabtu (6/6) malam resmi dibatalkan. Keputusan tersebut diambil setelah muncul berbagai respons dan kekhawatiran masyarakat terkait potensi kemacetan serta gangguan akses menuju stasiun.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri, Arief Cholisudin Yuswanto dikonfirmasi Sabtu (06/06), menjelaskan, bahwa pembatalan kegiatan bukan disebabkan oleh persoalan perizinan maupun penolakan warga secara langsung. Melainkan karena masih adanya kendala komunikasi dan sosialisasi yang belum sepenuhnya dipahami masyarakat.
“Pada dasarnya kegiatan ini dibuat untuk mewadahi komunitas yang selama ini sudah aktif berkegiatan di kawasan Jalan Stasiun. Jadi ketika dibatalkan pun sebenarnya aktivitas mereka tetap bisa berjalan seperti biasa,” ujar Arief.
Menurutnya, sejak awal Dishub telah mengantisipasi berbagai kekhawatiran yang muncul, terutama terkait akses penumpang kereta api menuju dan keluar Stasiun Kediri. Bahkan, skema rekayasa lalu lintas telah disiapkan jauh sebelum pelaksanaan acara.
Dishub merencanakan pengalihan arus kendaraan melalui Jalan Untung Suropati dan Jalan Adi Irma Suryani sebagai jalur alternatif selama kegiatan berlangsung. Sementara area yang akan ditutup hanya sebagian ruas Jalan Stasiun, tepatnya dari pintu keluar parkir eks Pacific hingga pertigaan Stasiun Kediri.
“Alternatif akses sebenarnya sudah kami siapkan. Pengalihan jalurnya juga tidak terlalu jauh dan petugas sudah disiapkan untuk melakukan pengaturan lalu lintas di lapangan,” jelasnya.
Arief menilai kekhawatiran masyarakat merupakan hal yang wajar dalam setiap kebijakan baru. Ia mencontohkan pelaksanaan Car Free Day yang pada awal penerapannya juga sempat memunculkan berbagai pertanyaan dan penyesuaian dari masyarakat.
Menurutnya, konsep Car Free Night dirancang sebagai ruang publik baru yang dapat dimanfaatkan komunitas, pelaku seni, hingga pelaku usaha untuk menampilkan berbagai aktivitas kreatif di kawasan stasiun yang dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat keramaian kota.
“Kami ingin menciptakan ruang baru bagi masyarakat. Potensi Jalan Stasiun perlu dicoba dan dikembangkan. Kalau tidak pernah dicoba, kita tidak akan tahu seperti apa manfaatnya bagi Kota Kediri,” katanya.
Dalam konsep awal, Car Free Night akan menghadirkan sejumlah pertunjukan seni, termasuk penampilan karawitan yang melibatkan Karang Taruna Ngronggo. Konsep tersebut menjadi sesuatu yang baru karena selama ini kawasan stasiun lebih sering digunakan untuk pertunjukan musik modern dan tari.
Namun demikian, Dishub memastikan seluruh pihak yang terlibat memahami keputusan pembatalan tersebut dan tidak mempermasalahkannya. Sebab, kegiatan itu memang sejak awal dirancang berbasis partisipasi masyarakat, bukan sepenuhnya program pemerintah.
Arief juga menegaskan bahwa dari sisi administrasi tidak ada kendala apa pun. Seluruh proses perizinan telah ditempuh dan surat-surat yang diperlukan sudah disampaikan kepada pihak kepolisian.
Ke depan, Pemerintah Kota Kediri akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep kegiatan tersebut. Tidak menutup kemungkinan format acara akan diubah agar tetap dapat mengakomodasi aktivitas masyarakat tanpa memerlukan penutupan jalan secara penuh.
“Kami memilih mengevaluasi terlebih dahulu karena masih ada kekhawatiran di masyarakat. Bisa saja nanti konsepnya berubah, tidak lagi seperti Car Free Night yang direncanakan saat ini, tetapi tetap memberikan ruang bagi kreativitas masyarakat tanpa mengganggu aktivitas lalu lintas,” pungkasnya.
Pemkot berharap melalui evaluasi dan sosialisasi yang lebih intensif, masyarakat dapat memahami tujuan utama kegiatan tersebut, yakni menciptakan ruang publik baru sekaligus meningkatkan daya tarik Kota Kediri sebagai destinasi kunjungan dan pusat aktivitas komunitas.



