KEDIRI — Di tengah riuh aktivitas Pasar Ngadirejo, Kota Kediri, sebuah gerakan ekonomi rakyat tumbuh perlahan dari semangat gotong royong warga. Bukan berdiri dari suntikan anggaran pemerintah, melainkan dari iuran sukarela dan kepedulian masyarakat, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Ngadirejo kini menjelma menjadi ruang perputaran ekonomi warga berbasis swadaya.
Berlokasi di Jalan Selowarih Nomor 1, Kelurahan Ngadirejo, koperasi tersebut disebut menjadi salah satu koperasi Merah Putih berbasis swadaya pertama yang berjalan di Jawa Timur.
Ketua KKMP Ngadirejo, Abu Nur Arifin, menuturkan koperasi mulai dirintis sejak pembentukan kepengurusan Koperasi Merah Putih di seluruh kelurahan pada Juli 2025. Namun pada awal perjalanan, para pengurus masih mencari bentuk dan arah pengembangan koperasi.
Momentum perubahan muncul usai pengurus mengikuti pelatihan bisnis koperasi yang digelar Dinas Koperasi pada September 2025. Dari sana, lahir gagasan membangun koperasi murni berbasis kekuatan anggota.
“Renovasi gedung menghabiskan sekitar Rp30 sampai Rp31 juta dan itu murni dari swadaya anggota serta warga Ngadirejo,” ujar Abu saat ditemui, Sabtu (16/5/2026).
Bangunan yang digunakan merupakan bekas gedung PKK yang sebelumnya nyaris tak terpakai. Letaknya di dalam kawasan pasar dinilai strategis untuk dijadikan pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Alih-alih menjadi pesaing pedagang pasar, koperasi justru mengambil peran sebagai distributor kebutuhan pokok dengan harga lebih murah namun tetap mengikuti ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Dari awalnya hanya beranggotakan 100 orang, kini jumlah anggota KKMP Ngadirejo berkembang menjadi 264 orang. Pertumbuhan itu disebut tak lepas dari keterlibatan RT, RW, LPMK, hingga pihak kelurahan dalam mengedukasi warga mengenai fungsi koperasi sebagai wadah perputaran ekonomi bersama.
“Uangnya berasal dari anggota, dibelanjakan oleh anggota, lalu keuntungan dibagikan kembali dalam bentuk SHU setiap tahun,” katanya.
Sistem koperasi dijalankan melalui simpanan pokok Rp50 ribu, iuran wajib Rp20 ribu per bulan, serta simpanan sukarela. Dana tersebut diputar untuk pengadaan sembako dan kebutuhan harian yang kemudian dijual kembali kepada anggota dengan harga lebih terjangkau.
Seiring berkembangnya usaha, KKMP Ngadirejo kini memiliki sejumlah unit gerai mulai dari Gerai Sembako, Gerai UMKM, Gerai Sandang, hingga Gerai Digital. Produk UMKM warga dan hasil jahitan ibu-ibu PKK turut dipasarkan melalui koperasi tersebut.
Keterlibatan generasi muda juga mulai terlihat. Anak-anak karang taruna dilibatkan dalam pengelolaan Gerai Digital untuk membantu promosi UMKM dan aktivitas koperasi melalui media sosial.
“Mereka bekerja secara sosial karena memang ingin membangun koperasi swadaya masyarakat,” ungkap Abu.
Dari gerakan berbasis gotong royong itu, KKMP Ngadirejo kini mampu mendistribusikan beras SPHP hingga 18–20 ton per bulan. Koperasi juga telah menjalin kerja sama dengan Bulog, distributor telur, hingga memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi. Mulai dari keterbatasan KBLI untuk pengembangan usaha hingga distribusi beras SPHP yang mulai tersendat akibat bertambahnya jumlah koperasi baru.
Ke depan, pihak koperasi berharap mendapat dukungan akses modal serta jaringan distributor yang lebih luas agar usaha berbasis swadaya itu dapat terus tumbuh.
“Harapan kami ada dukungan modal, akses distributor besar, dan kerja sama penuh dengan program MBG,” tandas Abu.
Ia menegaskan hingga kini operasional koperasi masih bertumpu pada semangat gotong royong warga, termasuk penggunaan kendaraan operasional yang memanfaatkan bantuan masyarakat maupun pihak kelurahan.
“Koperasi Merah Putih Ngadirejo tetap berjalan dengan kekuatan swadaya masyarakat tanpa mengambil anggaran khusus pemerintah,” pungkasnya.


