foto : pemkab kediri

Bakteri Ditemukan di Muntahan Siswa, Operasional MBG di Kabupaten Kediri Masih Dihentikan

KEDIRI — Dugaan keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kediri mulai menemukan titik terang. Hasil pemeriksaan laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menemukan adanya bakteri Bacillus Cereus dalam sampel makanan, menjadi muntahan siswa yang alami keracunan.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kediri memutuskan operasional MBG di lokasi kejadian tetap dihentikan sementara. Keputusan itu disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri sekaligus Satgas Pengawas MBG, Muhammad Solikin.

“Sudah, hasilnya positif, jadi tetap disuspend,” kata Solikin, Selasa.

Pemkab Kediri juga meminta seluruh pelaksana program MBG memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP), baik di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun di lingkungan sekolah.

Kasus dugaan keracunan ini sebelumnya menimpa lima siswa kelas 4 di sebuah sekolah dasar Islam swasta di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, pada Senin (27/4). Para siswa mengalami mual dan muntah setelah menyantap makan siang dari program MBG.

Kelima siswa kemudian dilarikan ke RSUD SLG sekitar pukul 13.00 WIB untuk mendapat penanganan medis. Saat itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Ahmad Khotib menyebut satu siswa telah diperbolehkan pulang, sementara empat lainnya masih menjalani observasi intensif.

“Total ada lima anak yang dirawat karena mengalami muntah-muntah. Dari jumlah tersebut, satu anak sudah diperbolehkan pulang,” ujarnya.

Hasil laboratorium terbaru menunjukkan bakteri Bacillus cereus ditemukan dalam sampel muntahan siswa. Namun, seluruh sampel makanan yang turut diuji justru menunjukkan hasil negatif.

“Ada bakteri di dalam muntahan siswa. Kalau di sampel makanan, kebetulan semua sampel yang diambil hasilnya negatif,” kata Ahmad Khotib saat dikonfirmasi.

Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap menduga makanan yang dikonsumsi para siswa menjadi faktor pemicu munculnya gejala keracunan. Dugaan tersebut diperkuat hasil surveilans epidemiologis terhadap para korban.

“Berdasarkan epidemiologis, antara timbulnya gejala dengan asupan makanan dan beberapa korban mengalami gejala yang sama, maka dapat kita tarik kesimpulan faktornya adalah makanan yang dikonsumsi tersebut,” jelasnya.

Hingga kini, sumber pasti munculnya bakteri masih dalam penyelidikan. Dinas Kesehatan mendalami sejumlah kemungkinan, mulai dari proses pengolahan makanan, kebersihan alat makan, hingga dugaan makanan disimpan terlalu lama sebelum dikonsumsi.

“Belum dapat kita simpulkan. Itu yang akan kita jalani lebih lanjut dengan pemeriksaan keseluruhan,” ungkap Ahmad Khotib.

Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan secara menyeluruh terhadap berbagai aspek pendukung, termasuk kondisi sanitasi tempat pengolahan makanan, kualitas air, hingga kelayakan alat makan yang digunakan dalam program MBG.

Temuan laboratorium ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi operasional SPPG di Kabupaten Kediri. Dinas Kesehatan meminta seluruh pengelola segera melakukan pembenahan terkait sanitasi dan kelengkapan perizinan.

“Dari uji lab ini memperkuat himbauan kita kepada SPPG untuk segera memenuhi syarat-syarat secara baik, baik internal maupun eksternal. Kita dorong melakukan langkah perbaikan perizinan dan sanitasi,” pungkas Ahmad Khotib.

jurnalis : Wildan Wahid Hasyim