foto : Wildan Wahid Hasyim

Penampung Tebu Swasta dan Rendemen, PG Ngadiredjo Mengaku Siap Hadapi Tantangan saat Musim Giling

KEDIRI – Musim giling tebu 2026 resmi dimulai di PG Ngadiredjo, Kabupaten Kediri. Pabrik gula di bawah naungan Sinergi Gula Nusantara (SGN) itu menargetkan peningkatan kapasitas giling hingga 11 juta kuintal tebu dengan proyeksi produksi gula mencapai 80 ribu ton.

Asisten Manajer Keuangan dan Humas PG Ngadiredjo, Muhammad Sokhib, mengatakan target tersebut meningkat dibandingkan capaian musim giling tahun sebelumnya.

“Pada 2025 lalu masa giling berlangsung sekitar 192 hari dengan total tebu tergiling mencapai 10,6 juta kuintal. Tahun ini kami menargetkan giling hingga 200 hari dengan kapasitas sekitar 11 juta kuintal tebu,” ujar Sokhib saat dikonfirmasi, Senin (12/5).

Dari target tersebut, produksi gula PG Ngadiredjo diproyeksikan meningkat dari 73 ribu ton pada 2025 menjadi sekitar 80 ribu ton pada musim giling tahun ini.

Menurut Sokhib, pasokan tebu yang masuk ke PG Ngadiredjo tidak hanya berasal dari Kabupaten Kediri, tetapi juga dari wilayah Blitar dan sebagian Malang yang selama ini menjadi wilayah historis kemitraan perusahaan.

“Wilayah kerja historis kami memang meliputi Kediri, Blitar, dan sebagian Malang. Penentuan jadwal tebang dilakukan berdasarkan hasil taksasi bagian tanaman,” katanya.

Meski optimistis terhadap target produksi, PG Ngadiredjo masih menghadapi tantangan faktor cuaca. Curah hujan tinggi sepanjang tahun lalu disebut berdampak pada penurunan rendemen tebu.

Pada 2024, rendemen tebu PG Ngadiredjo tercatat mencapai 8,12 persen. Namun pada 2025 turun menjadi 6,6 persen akibat kondisi cuaca yang cenderung basah.

“Rendemen sangat menentukan jumlah gula yang dihasilkan dari setiap kuintal tebu. Tahun lalu memang mengalami penurunan dibanding 2024,” jelas Sokhib.

Untuk musim giling 2026, pihaknya berharap rendemen dapat kembali meningkat minimal di angka 7,8 persen apabila kondisi cuaca lebih normal dan cenderung kering.

Di tengah munculnya sejumlah penampung tebu swasta dan persaingan antar pabrik gula, PG Ngadiredjo mengaku terus memperkuat hubungan kemitraan dengan petani. Saat ini terdapat sekitar 1.200 kelompok petani yang telah menjalin kontrak dengan perusahaan.

Menurut Sokhib, berbagai layanan terus ditingkatkan, mulai dari pendampingan petugas lapangan, akses kredit perbankan, hingga kemudahan memperoleh pupuk non-subsidi melalui kerja sama dengan produsen pupuk.

Selain itu, perusahaan juga menjalankan program bongkar ratoon untuk lahan tebu yang mengalami penurunan produktivitas akibat terlalu sering dipanen ulang. Program tersebut mendapat dukungan pemerintah berupa bantuan bibit dan biaya pembongkaran lahan sekitar Rp4 juta per hektare.

Dari sisi operasional, PG Ngadiredjo juga mengantisipasi potensi kemacetan akibat antrean truk pengangkut tebu. Seluruh area emplasemen dan halaman pabrik dimanfaatkan untuk mengatur antrean kendaraan agar tidak meluber ke jalan provinsi di sekitar lokasi pabrik.

“Kami berupaya agar antrean tetap tertata di dalam area pabrik. Tahun lalu alhamdulillah tidak terjadi antrean panjang di jalan raya,” ungkapnya.

Pada hari pertama musim giling, penerimaan tebu dibuka sejak pukul 04.00 WIB guna mempercepat proses antrean. Tebu yang masuk akan melewati tahapan seleksi, pengujian rendemen melalui core sampler, hingga penimbangan.

“Sejauh ini belum ada laporan hambatan dalam proses penerimaan tebu,” tambahnya.

Tak hanya fokus pada produksi, PG Ngadiredjo juga melakukan pengendalian lingkungan dengan mengganti pipa suplai untuk memperlancar sirkulasi pendinginan air serta melakukan pengecekan rutin alat penangkap abu pada boiler dan cerobong asap.

Sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat sekitar, perusahaan turut menyalurkan tali asih berupa 12 ton gula.

Kontribusi ekonomi PG Ngadiredjo terhadap Kabupaten Kediri juga dinilai cukup besar. Pada 2025, omzet perusahaan dari penjualan gula dan tetes mencapai sekitar Rp1,5 triliun.

Jumlah tersebut diperkirakan meningkat mendekati Rp2 triliun pada 2026 apabila target produksi dan rendemen berhasil tercapai.

“Dampak ekonominya sangat besar, mulai dari UMKM sekitar, petani, pekerja lapangan hingga pengemudi truk pengangkut tebu,” tutur Sokhib.

Saat ini PG Ngadiredjo mempekerjakan sekitar 900 tenaga kerja, dengan sekitar 98 persen di antaranya berasal dari wilayah sekitar pabrik.

jurnalis : Wildan Wahid Hasyim