foto : istimewa

Kado Gubernur Jatim di Hari Pendidikan Nasional: Dulu Panas dan Hampir Runtuh, Kini Nyaman Ditinggali

KEDIRI — Waktu seakan lama berhenti di sebuah rumah sederhana di sudut Kota Kediri. Dinding bambu yang mulai lapuk dimakan usia selama bertahun-tahun menjadi saksi bisu perjuangan hidup Nur Kusdianto, seorang tenaga kebersihan di SMKN 2 Kediri.

Namun kini, kisah itu perlahan berubah. Harapan yang dulu terasa jauh, akhirnya hadir mengetuk pintu rumahnya.

Melalui program bantuan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, rumah yang sebelumnya nyaris tak layak huni itu kini bertransformasi menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman. Bantuan tersebut turut diperkuat oleh inisiatif Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Kediri, Adi Prayitno, bersama para kepala sekolah dan tenaga pendidik.

“Bantuan ini kami harapkan bisa menjadi kado bermakna di Hari Pendidikan Nasional, sekaligus menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi penerimanya,” ujar Adi.

Selama lebih dari satu dekade sejak 2009, rumah Nur di kawasan Bandar Lor berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Dinding bata hanya setinggi pinggang, sementara bagian atasnya ditutup anyaman bambu tua yang rapuh—sebagian bahkan tak lagi mampu menopang beban bangunan.

Di dalam rumah itu, Nur hidup bersama ayahnya yang terserang stroke dan dua adiknya. Sejak menggantikan posisi sang ayah sebagai tenaga kebersihan pada 2018, Nur menjadi tulang punggung keluarga—memikul tanggung jawab di tengah keterbatasan.

Hari-hari mereka dulunya dipenuhi rasa waswas. Terik matahari membuat rumah terasa membara, sementara hujan menghadirkan kecemasan akan bangunan yang kian renta.

Kini, Semua Berubah

foto : Anisa Fadila

Dalam waktu sekitar sepekan, dari 26 April hingga 2 Mei, rumah itu perlahan “lahir kembali”. Dinding bambu digantikan material yang lebih kokoh, lantai yang dulu berupa pasir kini disemen, dan plafon dipasang untuk menahan panas yang dulu begitu menyiksa.

Ruang-ruang mulai terbentuk. Sekat sederhana hadir membagi fungsi rumah, jendela baru memberi jalan bagi cahaya dan udara masuk dengan lebih leluasa. Instalasi listrik diperbarui, menghadirkan rasa aman yang sebelumnya tak pernah dirasakan.

“Alhamdulillah sekarang lebih nyaman dan rapi,” tutur Nur lirih, menyimpan rasa syukur yang dalam.

Meski beberapa bagian seperti atap lama masih dipertahankan, struktur rumah kini diperkuat agar lebih aman dihuni. Rumah berukuran sederhana itu kini tak lagi sekadar tempat berteduh, melainkan ruang hidup yang layak.

Perubahan ini bukan sekadar renovasi fisik. Ia adalah pemulihan harapan.

Kini, setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, keluarga Nur bisa merasakan kenyamanan yang dulu hanya menjadi angan. Perlahan, dari rumah kecil itu, tumbuh kembali rasa tenang—sesuatu yang selama ini terasa mahal.

Dan di balik dinding baru yang berdiri kokoh, tersimpan cerita panjang tentang ketekunan, pengorbanan, dan harapan yang akhirnya menemukan jalannya.

jurnalis : Anisa Fadila