Suasana ngaji diikuti santri lansia (Wildan Wahid Hasyim)

Mengaji, Bersahabat, dan Beribadah: Hangatnya Pondok Kilatan Lansia di Ponpes Raudlatul Ulum

KEDIRI — Suasana Ramadan terasa berbeda di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Kencong, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Di tempat ini, ratusan lansia menjalani hari-hari mereka dengan penuh semangat menuntut ilmu agama melalui program pesantren kilat khusus lanjut usia yang digelar selama 21 hari.

Di sela-sela ibadah, para peserta yang sebagian besar berusia di atas 60 tahun terlihat beraktivitas dengan wajah cerah. Ada yang duduk melingkar membaca Al-Qur’an, sebagian lainnya mencuci pakaian, sementara yang lain menyiapkan hidangan sederhana untuk berbuka puasa bersama.

Nuansa kekeluargaan terasa kental di lingkungan pondok yang diasuh ulama kharismatik KH Jauharal Nehru. Di tempat ini, para peserta bukan sekadar santri, tetapi seperti sahabat lama yang dipertemukan kembali dalam satu tujuan: memperbanyak ibadah di bulan suci.

Program pesantren kilat ini dimulai sejak awal Ramadan dan dijadwalkan berakhir pada malam ke-21 Ramadan. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 500 lansia yang datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari Kediri atau Jawa Timur.

Pengasuh pesantren yang akrab disapa Gus Mahu menjelaskan, kegiatan ini berawal dari aktivitas jamaah tarekat yang sudah rutin dilakukan sejak lama. Seiring waktu, mayoritas jamaah yang datang adalah para lansia yang ingin memaksimalkan ibadah di usia senja.

“Awalnya hanya kegiatan tarekat rutin. Lama-kelamaan jamaah yang datang kebanyakan sudah berusia lanjut dan ingin memperbanyak ibadah. Dari situ muncul gagasan untuk membuat program mondok khusus lansia, terutama di bulan Ramadan,” jelasnya.

Menurutnya, tujuan utama program ini bukanlah hal material, melainkan memberikan ruang bagi para lansia untuk beribadah bersama sehingga semangat spiritual mereka semakin tumbuh.

“Ibadah sendirian tentu berbeda rasanya dengan ibadah berjamaah. Semangatnya lebih terasa ketika dilakukan bersama-sama. Itu yang ingin kami bangun di sini,” katanya.

Selama mengikuti kegiatan, para peserta mendapatkan materi keagamaan yang mencakup ilmu syariat, akidah, dan tasawuf. Ketiga bidang tersebut dianggap penting agar seseorang tidak hanya memahami tata cara ibadah, tetapi juga memiliki keyakinan yang kuat serta hati yang bersih.

Metode pengajaran bagi lansia pun dibuat lebih sederhana dibandingkan santri pada umumnya. Jika santri muda belajar melalui kitab dan mencatat pelajaran, para lansia lebih banyak mengikuti pengajian dengan metode ceramah.

“Banyak peserta yang penglihatannya sudah terbatas atau pendengarannya berkurang. Karena itu kami menggunakan metode ceramah agar lebih mudah diikuti,” ungkapnya.

Selain pengajian, para peserta menjalani rangkaian ibadah lainnya seperti salat berjamaah, tahajud, serta wirid bersama. Meski usia mereka tidak lagi muda, semangat untuk beribadah terlihat tetap menyala.

Salah satu peserta, Sutompo (74), datang dari Banyuwangi bersama beberapa rekannya. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti pesantren kilat di tempat tersebut.

“Alhamdulillah, senang sekali bisa mondok di sini. Belajar dan beribadah bersama teman-teman membuat semangat semakin besar,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Sulaikah, peserta lainnya. Ia mengaku merasa nyaman dengan suasana kebersamaan yang terbangun di pesantren.

“Di sini rasanya seperti punya banyak saudara. Ketemu teman-teman, mengaji bersama, jadi semakin semangat,” katanya.

Bagi para lansia ini, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Tempat ini menjadi ruang untuk memperbanyak ibadah, mempererat persaudaraan, sekaligus mengisi masa senja dengan kegiatan yang lebih bermakna.

Gus Mahu berharap kegiatan tersebut dapat membawa dampak positif tidak hanya bagi para peserta, tetapi juga bagi keluarga mereka.

“Harapannya sederhana. Jika orang tua memiliki hati yang baik, mereka akan menasihati anak dan cucunya dengan baik pula. Dari situlah masyarakat yang berakhlak baik bisa terbentuk,” pungkasnya.

jurnalis : Wildan Wahid Hasyim