foto : Anisa Fadila

Kejurkab PBSI Kediri 2025: Dari Pra Dini hingga Veteran, Semangat Bulu Tangkis Tak Pernah Pudar

Bagikan Berita :

KEDIRI – Di lapangan bulu tangkis, usia hanyalah angka. Dari anak-anak yang baru belajar menggenggam raket hingga para veteran yang rambutnya mulai memutih, semuanya bertemu dalam satu semangat: cinta pada olahraga tepok bulu. Energi itulah yang mengisi udara GOR Bulutangkis Pemkab Kediri, Selasa (3/11), saat Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) PBSI Kediri 2025 resmi dibuka.

Sebanyak 318 atlet dari 11 klub turut ambil bagian dalam turnamen yang berlangsung hingga 8 November 2025. Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini menjadi ruang pertemuan antara dedikasi, kerja keras, dan impian untuk melahirkan juara baru dari bumi Kediri.

Ketua KONI Kabupaten Kediri, Hakim Rahmadsyah Parnata, menegaskan bahwa Kejurkab bukan hanya soal perebutan gelar juara, tetapi tentang pembinaan jangka panjang.

“Kejurkab ini adalah fondasi pembinaan. Kami ingin melahirkan atlet-atlet muda yang nantinya bisa mengharumkan nama Kediri di ajang Porprov 2027. KONI akan terus mendukung setiap talenta yang menunjukkan potensi besar,” ujar Hakim.

Nada yang sama disampaikan Ketua PBSI Kabupaten Kediri, Antox Prapungka Jaya. Baru beberapa bulan menjabat, Antox membawa semangat segar untuk menjadikan PBSI Kediri lebih hidup dan berkelanjutan.

“Bulu tangkis itu olahraga rakyat. Hampir di setiap desa ada lapangannya. Kami ingin memanfaatkan potensi besar itu untuk mencetak atlet berprestasi dari daerah,” ungkapnya.

Simbol Harapan Baru

foto : Anisa Fadila

Tahun ini, Kejurkab membuka kompetisi untuk berbagai kelompok usia — mulai dari Pra Dini (4–6 tahun) hingga Veteran (35 tahun ke atas). Menariknya, kategori veteran bersifat terbuka, memungkinkan atlet dari luar Kediri seperti Surabaya, Malang, dan Jawa Tengah ikut bertanding. Panitia juga menyiapkan total hadiah sebesar Rp60 juta sebagai bentuk apresiasi bagi para pemenang.

Lebih dari sekadar adu keterampilan, Kejurkab PBSI Kediri 2025 juga menjadi ajang silaturahmi antarpecinta bulu tangkis. Setiap pukulan dan teriakan semangat dari tribun menciptakan atmosfer yang hangat — seperti perayaan atas kecintaan masyarakat terhadap olahraga ini.

Salah satu momen paling mencuri perhatian datang dari Tristia Bajra Mega Wardana, atau akrab disapa Nia, siswi TK Dharma Wanita I Pandantoyo, Kecamatan Ngancar. Di usianya yang baru enam tahun, Nia tampil penuh percaya diri, memegang raket dengan tangan mungilnya dan senyum yang tak lepas dari wajah.

“Saya ikut bulu tangkis karena mau juara satu. Disuruh Mama, tapi saya juga suka latihan sama Papa,” ucap Nia polos, disambut tawa penonton di sekitar lapangan.

Menurut pelatihnya, Windarto, kehadiran Nia adalah simbol harapan baru.

“Nia baru empat bulan latihan, tapi semangatnya luar biasa. Melatih anak-anak itu bukan cuma soal teknik, tapi juga membentuk karakter dan rasa percaya diri. Dari situlah prestasi akan tumbuh,” jelasnya.

Melihat semangat lintas generasi di turnamen ini, satu hal menjadi jelas: bulu tangkis bukan sekadar olahraga di Kediri — ia sudah menjadi bagian dari identitas masyarakatnya. Dari anak kecil yang bermimpi menjadi juara dunia hingga para veteran yang tetap bermain demi rasa cinta, semuanya bersatu dalam satu irama: menjaga tradisi bulu tangkis tetap hidup dan bersemi di tanah Kediri.

Bagikan Berita :