KEDIRI – Rabu pagi yang hangat di Kabupaten Kediri berubah menjadi momen penuh haru dan syukur. Dalam balutan kebersamaan dan doa, Pemerintah Kabupaten Kediri menggelar Tasyakuran Haji 2025, sebagai ungkapan syukur atas kembalinya para tamu Allah dari tanah haram.
Namun suasana itu tak hanya dibalut suka cita. Di antara senyum yang mengembang, terselip duka mendalam atas kepergian dua jamaah haji asal Kediri yang berpulang saat menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Mereka berasal dari Kecamatan Purwasri dan Gurah.
“Semoga almarhum dan almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Berpulang dalam keadaan beribadah adalah anugerah agung yang tak semua orang meraihnya,” tutur Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, dengan nada sendu dan tulus.
Mas Dhito, begitu ia disapa, menyampaikan belasungkawa sekaligus penghormatan. Dalam pandangannya, wafat di tanah haram bukan hanya akhir perjalanan, melainkan awal dari kemuliaan abadi. “Mereka pamit dalam balutan ihram, dalam panggilan suci. InsyaAllah husnul khatimah,” tambahnya.
Tak berhenti di sana, sang bupati pun membuka lembaran kenangan pribadinya saat berhaji. Ia mengenang detik-detik genting ketika visanya hampir tak terbit—karena bukan melalui jalur resmi. “Saya percaya, ketika niat sudah bulat, Allah akan memberi jalan. Saya sendiri yang menelepon memastikan visa saya. Alhamdulillah, saya dan istri akhirnya berangkat,” kenangnya dengan mata berkaca.
Cerita itu bukan semata nostalgia, namun penguat spiritual bagi para hadirin. Ia mengungkapkan bahwa doa-doa yang terlantun di Padang Arafah kala itu, bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk masyarakat Kediri yang ia pimpin.
“Saya bermunajat agar diberikan kekuatan, agar saya mampu memegang amanah sebagai pemimpin rakyat ini dengan sebaik-baiknya,” ucapnya lirih.
Tasyakuran haji tahun ini tak sekadar prosesi formalitas. Ia menjadi ruang batin bagi para jamaah untuk saling menyapa, saling mendoakan, dan merenungkan makna spiritual dari setiap langkah yang telah mereka tempuh di tanah suci.
Bupati juga menyinggung catatan kecil dari pelaksanaan haji tahun ini. Di antaranya, beberapa jamaah mengalami kendala karena harus terpisah dari keluarga dalam penempatan hotel—disebabkan keterbatasan kuota dan jumlah syarikah mitra Indonesia.
“Tahun ini, Indonesia bekerja sama dengan delapan syarikah dalam pelaksanaan haji. Ini menjadi catatan untuk perbaikan tahun-tahun berikutnya,” jelasnya.
Acara ditutup dengan tausiyah penuh makna dari KH. Muin, tokoh agama asal Badas. Dalam lantunan doa yang mengiringi penutupan, suasana berubah syahdu. Hati yang datang penuh rasa, pulang membawa ketenangan dan syukur mendalam.
Tasyakuran ini bukan hanya tentang mengenang perjalanan ke Makkah dan Madinah, tapi tentang menghidupkan semangat ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Sebab sejatinya, setiap hari adalah perjalanan spiritual menuju ridha-Nya.









