foto : Neha Hasna Maknuna

Santri Wali Barokah Dibekali Semangat Kebangsaan dan Moderasi Beragama di Hari Kebangkitan Nasional

Bagikan Berita :

KEDIRI – Memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-117, Pondok Pesantren Wali Barokah Kota Kediri tak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda. Lewat seminar bertajuk “Wawasan Kebangsaan, Bela Negara, dan Moderasi Beragama”, ratusan santri di lingkungan LDII mendapatkan pembekalan langsung dari para narasumber lintas instansi strategis, Rabu (21/05).

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari DPD LDII Kota Kediri, perwakilan Senkom Mitra Polri, veteran, hingga tokoh masyarakat. Sebagai pembuka, Ketua Ponpes Wali Barokah, Drs. KH. Sunarto, menegaskan pentingnya memaknai semangat persatuan sebagaimana dicontohkan para tokoh kebangkitan nasional seperti dr. Soetomo, Ki Hajar Dewantara, dan HOS Tjokroaminoto.

“Hari ini bukan hanya soal mengenang, tapi soal melanjutkan perjuangan. Semangat persatuan harus terus tumbuh, apalagi di tengah kondisi bangsa yang semakin kompleks,” ujar KH. Sunarto dalam sambutannya.

Beliau juga menyoroti tantangan zaman yang dihadapi generasi muda, mulai dari penyalahgunaan media sosial hingga pergaulan bebas. Oleh karena itu, menurutnya, pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan sangat penting ditanamkan, khususnya bagi santri.

“Santri perlu dibekali lebih dari sekadar ilmu agama. Mereka adalah calon pemimpin, dan harus siap menghadapi dinamika sosial dengan bijak,” tambahnya.

Tiga Narasumber, Tiga Perspektif Strategis

Seminar ini menghadirkan tiga pemateri utama yang membahas tema dari sudut pandang yang berbeda namun saling melengkapi:

1. Letkol Inf. Ragil Jaka Utama, S.Hub.Int., M.H. (Dandim 0809 Kediri)

Dalam sesi bertema Bela Negara, Ragil menekankan bahwa cinta tanah air bukan hanya slogan, tapi tanggung jawab seluruh warga. Ia mengingatkan bahwa ancaman terhadap bangsa tak melulu datang dari luar, tapi juga dari dalam, seperti radikalisme, intoleransi, dan pengaruh budaya asing yang merusak moral.

“Membela negara bukan hanya tugas tentara, tapi kewajiban kita semua,” tegasnya, sembari mengutip Bung Karno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”

2. Indun Munawaroh, S.STP (Kepala Kesbangpol Kota Kediri)

Membahas Wawasan Kebangsaan, Indun mengajak para peserta memahami pentingnya kerja sama antar unsur masyarakat—dikenal sebagai pentahelix: pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media.

“Kota Kediri membangun bukan hanya secara fisik, tapi juga karakter. Peran pesantren sangat strategis dalam menjaga harmoni,” jelasnya.

3. A. Zamroni, S.Ag., M.Pd.I. (Kepala Kemenag Kota Kediri)

Mengulas tema Moderasi Beragama, Zamroni mengajak santri memahami agama secara proporsional. Ia mengingatkan agar tidak mudah terjebak dalam narasi ekstrem yang mengatasnamakan agama.

“Jadilah santri yang moderat: beriman, berilmu, berakhlak, dan tetap menghargai perbedaan. Kita hidup di negeri yang beragam, dan itu adalah kekayaan, bukan ancaman,” pesannya.

Seminar ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan, serta semangat dalam menyerap materi. Acara ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan bangsa, serta harapan agar santri dapat menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai kebangsaan dan keislaman yang damai.

Lewat kegiatan ini, Pondok Pesantren Wali Barokah menunjukkan bahwa pesantren tak hanya mencetak ahli agama, tapi juga warga negara yang sadar akan peran strategisnya dalam menjaga keutuhan NKRI.

jurnalis : Neha Hasna Maknuna
Bagikan Berita :