KEDIRI — Pagi di Jalan Panglima Sudirman kini terasa berbeda. Deru mesin tak lagi bertumpuk, klakson tak saling bersahut. Setelah rekayasa lalu lintas dua arah di Jalan Brigjen Katamso diberlakukan, ruang kota yang lama sesak perlahan menemukan napasnya kembali.
Bagi Nurhadi, pedagang yang setiap hari membuka lapak di tepi jalan, perubahan ini bukan sekadar soal arah kendaraan. Ini tentang ketenangan bekerja, tentang waktu yang tak lagi tersita oleh kemacetan.
“Biasanya pagi hari sudah padat. Sekarang arusnya lebih tertib, tidak saling berebut,” ujarnya lirih, namun penuh rasa lega.
Di kawasan Jalan Kombes Pol Duriyat, cerita serupa terpantul dari keseharian warga. Jalan sempit yang dulu sarat kepadatan kini mulai terurai.
Meski belum sempurna, langkah awal ini memberi harapan bahwa kota sedang belajar memperlakukan warganya dengan lebih manusiawi.
Warga tak sekadar menjadi penonton. Mereka turut membantu pengaturan lalu lintas, berdiri di persimpangan, mengarahkan kendaraan—sebuah praktik lama gotong royong yang kembali hidup di tengah perubahan tata kota.









