Rabu Wajib Bahasa Inggris, Kamis Bahasa Jawa! Program Baru Pemkot Kediri Segera Diluncurkan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI — Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, bersiap menerapkan program English Day dan Dinten Jawi di seluruh satuan pendidikan jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Program ini dirancang untuk membiasakan peserta didik menggunakan bahasa Inggris sekaligus menjaga kelestarian bahasa Jawa di lingkungan sekolah.

Melalui Dinas Pendidikan (Dindik), Pemkot Kediri mulai mematangkan persiapan dengan menyosialisasikan petunjuk teknis (juknis) dan buku saku pelaksanaan program kepada kepala sekolah serta guru penanggung jawab atau person in charge (PIC).

Sosialisasi bagi SD negeri dan swasta dilaksanakan pada Kamis (15/10), sedangkan kegiatan untuk jenjang SMP negeri dan swasta digelar di Ruang Ki Hajar Dewantara. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 300 kepala sekolah dan guru PIC.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono, mengatakan program ini bertujuan membangun kebiasaan berbahasa melalui praktik langsung dalam keseharian warga sekolah, bukan sekadar pembelajaran di ruang kelas.

Dalam skema yang disiapkan, setiap Rabu ditetapkan sebagai English Day, sementara Kamis menjadi Dinten Jawi, yakni hari penggunaan bahasa Jawa.

“Berbahasa itu tidak cukup hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi juga harus dibiasakan. Melalui program ini, kami berharap seluruh warga sekolah dapat membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Jawa masing-masing satu hari dalam seminggu,” ujar Mandung.

Siapkan Siswa Hadapi Era Global

Mandung menjelaskan, penerapan English Day merupakan salah satu langkah untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi perkembangan global. Terlebih, bahasa Inggris direncanakan menjadi mata pelajaran wajib di jenjang SD mulai 2027.

Di sisi lain, program Dinten Jawi diarahkan untuk menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan zaman. Pemkot Kediri ingin peserta didik memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan global tanpa kehilangan identitas budayanya.

“Kami memilih bahasa Jawa agar anak-anak tidak kehilangan akar budaya yang diwariskan nenek moyang. Sementara bahasa Inggris kami dorong agar mereka siap menyambut globalisasi. Harapannya, anak-anak mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan identitas budayanya,” ungkapnya.

Buku Saku dan Bimtek Guru Disiapkan

Untuk mendukung pelaksanaan program, Dinas Pendidikan Kota Kediri telah menyusun buku saku dan juknis melalui kolaborasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG). Penyusunan tersebut melibatkan guru bahasa Inggris dan bahasa Jawa di Kota Kediri.

Buku saku nantinya didistribusikan ke sekolah-sekolah sebagai panduan pelaksanaan English Day dan Dinten Jawi. Sekolah juga diberi keleluasaan untuk menyosialisasikan program secara kreatif melalui berbagai media, mulai dari poster, video, audio, hingga bentuk komunikasi lain yang sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.

Selain menyiapkan panduan, Dinas Pendidikan akan menggelar bimbingan teknis (bimtek) bagi guru untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan berbahasa Inggris maupun bahasa Jawa. Langkah ini diharapkan membantu guru mendampingi siswa sekaligus menjadi contoh dalam penggunaan kedua bahasa tersebut.

Sekolah Kreatif Bakal Mendapat Penilaian

Pemkot Kediri juga menyiapkan penilaian bagi sekolah yang mampu menjalankan program secara kreatif dan inovatif. Upaya tersebut diharapkan mendorong sekolah agar tidak sekadar menjalankan kegiatan secara seremonial, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan positif dalam aktivitas sehari-hari.

Program English Day dan Dinten Jawi rencananya diluncurkan oleh Wali Kota Kediri pada akhir Oktober, bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa.

Dalam kegiatan sosialisasi, Dinas Pendidikan menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Master Tutor English Massive, Mr. Tyo; Heri Setiawan, Kepala SMP Negeri 4 Kota Kediri yang juga dikenal sebagai dalang; Munawar; Dwijo dari Permadani; serta Anang, perwakilan Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani).

Melalui program ini, Pemkot Kediri berharap sekolah menjadi ruang pembelajaran bahasa yang menyenangkan dan berkelanjutan. Penguasaan bahasa Inggris diharapkan memperkuat kesiapan siswa menghadapi perkembangan global, sedangkan pembiasaan bahasa Jawa menjadi bagian dari upaya merawat warisan budaya daerah.