KEDIRI — Semangat toleransi kembali menggema dari Kota Kediri. Melalui penilaian Tahap III Penghargaan Sekolah Moderasi Beragama Provinsi Jawa Timur 2025, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menyampaikan apresiasi sekaligus dukungan penuh atas pelaksanaan Sekolah Moderasi Beragama di SMP Negeri 1 Kediri. Dari Ruang Joyoboyo, ia menyapa tim penilai yang hadir secara virtual, membawa pesan tentang pentingnya harmoni dalam keberagaman.
“Atas nama Pemerintah Kota Kediri, saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada SMPN 1 Kediri yang mewakili kota ini di tahap ketiga penilaian kampanye publik Sekolah Moderasi Beragama tingkat provinsi,” ujar Mbak Wali.
Menurutnya, capaian tersebut bukan hanya membanggakan, tetapi juga menjadi bukti bahwa nilai-nilai inklusivitas, toleransi, dan keberagaman telah tumbuh subur di lingkungan sekolah.
Perempuan pertama yang memimpin Kota Kediri ini menekankan bahwa moderasi beragama tidak sekadar jargon, melainkan perilaku yang semestinya hadir dalam kehidupan sehari-hari—menghormati perbedaan, hidup damai, dan bekerja sama demi kebaikan bersama. Nilai-nilai itu terlihat nyata di SMPN 1 Kediri, tempat toleransi tidak hanya diajarkan tetapi juga dihidupkan.
Salah satu wujudnya adalah keberadaan lima tempat ibadah yang digunakan para peserta didik sesuai keyakinan masing-masing. Fasilitas ini menunjukkan bahwa sekolah tersebut menempatkan toleransi sebagai ruang fisik sekaligus ruang batin, tempat seluruh siswa dapat berdoa, belajar, dan tumbuh dengan rasa aman.
“Saya melihat anak-anak di sini didorong untuk saling mengenal, memahami, dan menghargai. Para guru pun memberi teladan tentang hidup berdampingan dengan empati,” tutur Mbak Wali. “Inilah esensi moderasi beragama—menjaga keseimbangan, merawat kerukunan, dan menegaskan bahwa persaudaraan adalah kekuatan.”
Pemkot Kediri, lanjutnya, memberi dukungan penuh agar praktik moderasi beragama terus berkelanjutan. SMPN 1 Kediri dinilai layak menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain sebagai model pendidikan yang inklusif. Komitmen ini pula yang mengantarkan Kota Kediri meraih Indeks Kerukunan Umat Beragama kategori sangat tinggi dengan skor 4,56, serta masuk dalam 10 besar kota paling toleran se-Indonesia versi Setara Institute selama empat tahun berturut-turut.
Harapan besar pun disampaikan Mbak Wali—penilaian ini bukan sekadar kompetisi, tetapi momentum untuk meneguhkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh anak, tanpa memandang latar belakang apa pun.
Dukungan juga datang dari Ketua DPRD Kota Kediri, Firdaus, yang hadir dalam acara tersebut. Ia menegaskan bahwa budaya toleransi di SMPN 1 Kediri telah mengakar kuat sejak puluhan tahun lalu.
“Saya sendiri alumni SMPN 1 Kediri. Nilai toleransinya bukan karena lomba, tapi sudah hidup sejak dulu,” ungkapnya. Ia memastikan DPRD turut memberikan dukungan anggaran bagi sekolah-sekolah yang berkomitmen meningkatkan kualitas siswanya.
Pada sesi penilaian, Kepala Sekolah SMPN 1 Kediri, Satriyani, memaparkan lima inovasi moderasi beragama yang telah diterapkan:
-
Penyediaan lima tempat ibadah.
-
Pendirian Galeri Moderasi Beragama.
-
Program kegiatan lintas agama.
-
Pembuatan ensiklopedia moderasi beragama berbasis barcode.
-
Integrasi moderasi beragama dalam intrakurikuler, ekstrakurikuler, kokurikuler, serta penguatan 9 Kata Kunci Moderasi Beragama: kemanusiaan, kemaslahatan umum, adil, berimbang, taat konstitusi, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penghormatan terhadap tradisi.
Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Wali Kota Qowimuddin, Kepala Dinas Pendidikan Mandung Sulaksono, Ketua FKUB Moh. Salim, serta jajaran Kemenag dan undangan lainnya—semua menyatukan langkah menuju pendidikan yang lebih damai dan inklusif.
Bagikan Berita :








