Wahyudi menunjukkan debu berasal dari cerobong milik PG. Pesantren Baru (Kintan Kinari Astuti)

Kisah Pilu Warga Dander, Mengaku Puluhan Tahun Menderita Karena PG Pesantren Baru

Bagikan Berita :

KEDIRI – Sejumlah warga di Lingkungan Dander Kelurahan Ketami Kecamatan Pesantren mengadukan nasibnya. Terkait dampak PG Pesantren Baru setiap buka giling berlangsung puluhan tahun. Berakibat terganggu pernafasan, mata terasa perih karena debu hingga menyelimuti rumah.

“Yang kita keluhkan di sini pertama terkait debu yang kedua suara yang ketiga bau dari limbah lalu yang keempat itu setiap akan buka giling asap dari pabrik itu entah pembakaran atau apa itu turun ke sini dan menyebabkan mata pedih, kami hanya berharap tidak ada debu sudah itu saja karena mau mengeluh ke mana juga belum ada solusi,” ucap Wahyudi, warga setempat

Debu yang bertebaran dan terpaksa ekstra membersihkan rumah beserta isinya. Ditemui di rumahnya, Selasa (01/11), Wahyudi mengakui permasalahan ini telah berlangsung lama. Menjadikan ironis, dia sehari-hari melakukan budidaya ikan betta, mengalami kerugian setiap harinya. Bila pihak terkait tidak segera bertindak, maka usahanya akan mengalami bangkrut.

“Masyarakat di sini sangat mengeluhkan karena untuk kesehariannya memang lingkungan ini sentra budidaya ikan hias betta. Imbasnya debu ini mengandung minyak dan kalau bercampur ke dalam air. Untuk ikan usia 1 sampai 7 hari, itu mengira debu tersebut makanan dan menyebabkan ikan mati,” jelasnya.

Bukan itu saja, setiap digelar jamaah salat, terpaksa musala dimana dia selaku takmir, harus membersihkan terlebih dahulu. “Untuk tempat ibadah ini kan sangat mengganggu karena setiap mau dibuat salat berjamaah itu kotor terkena debu sehingga harus dipel dan disapu setiap sebelum jam sholat,” ujarnya.

Sebenarnya warga sudah seringkali melaporkan terkait permasalahan ini baik ke pihak pabrik maupun ke kelurahan setempat. Tetapi menurut Wahyudi belum solusi yang bisa menyelesaikan permasalahan ini.

“Kita juga sudah sering melaporkan tetapi tidak ada titik temunya, ketua pokdarwis kami juga telah mengeluhkan hal ini kepada Walikota Kediri pada saat acara kopi tahu,” ungkapnya.

Selain menyebabkan kotor debu dan bau yang tidak sedap ini dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Bahkan makanan yang berada di meja bila tidak ditutupi bisa berubah menjadi hitam akibat tertutupi oleh debu.

Setiap tahunnya saat buka giling PG Pesantren Baru memberikan kompensasi kepada masyarakat sekitar dengan memberikan gula. Tetapi menurut Wahyudi hal ini tidak sebanding dengan hujan debu yang tiap tahunnya mereka rasakan.

Terkait keluhan ini, hingga berita diturunkan baik Kepala Kelurahan Ketami, Yerika maupun melaui Kasan selaku Humas PG Pesantren belum bisa dikonfirmasi. Begitu juga Kepala DLHKP Anang Kurniawan, secara tupoksi bertanggungjawab atas permasalahan ini.

Respon baik justru diberikan Ketua Komisi C DPRD Kota Kediri, Sunarsiwi Ganik Pramana dan Kasi Intelejen Kejaksaan Negeri Kota Kediri, Harry Rahmat. Mengaku akan turun ke lokasi untuk mengecek atas aduan masyarakat ini. Karena bagaimanapun, keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi di Indonesia harus ditegakkan.

Jurnalis : Kintan Kinari Astuti

Editor : Nanang Priyo Basuki
Bagikan Berita :