Kuswartono, Ketua Yayasan Pandji Saputro Ndalem Pojok (Wildan Wahid Hasyim)

Inilah Dua Pusaka Bung Karno Disimpan di Ndalem Pojok

Bagikan Berita :

KEDIRI – Bertujuan mengagungkan Bulan Suro, Yayasan Pandji Saputro Ndalem Pojok menggelar jamasan pusaka bertempat di halaman Ndalem Pojok Kecamatan Wates, Jumat (04/08). Sejumlah persiapan jelang tirual dipersiapkan jelang pelaksanaan dua pusaka, berupa keris dan tombak milik Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. H. Soekarno.

Disampaikan RM. Kuswartono selaku Ketua Yayasan Pandji Saputro Ndalem Pojok, pusaka dijamas milik Bung Karno sebutan untuk Bapak Proklamator bernama Kiai Gadakan.

“Namanya Kiai Gadakan, begitu Bung Karno dan keluarga kami menyebut. Sejarahnya keris  dan tombak ini adalah pemberian seorang kepada tinggal di Desa Grobokan Jawa Tengah. Saat Presiden Seokarno bersama eyang kami mengadakan kunjungan pemberantasan buta huruf disana. Kemudian Presiden Soekarno meminta untuk disimpan di Ndalem Pojok. Kami sendiri tidak tahu mengapa harus disimpan di sini,” jelas Kuswartono .

Acara jamasan ini juga terbuka untuk umum. Apabila ada masyarakat memiliki pusaka peningalan, bisa diturutkan dengan membayar iuran suka rela. Proses pencucian pusaka menggunakan cairan alami tanpa bahan kimia.

Untuk cairannya sendiri, Kuswartono menyebut berasal dari air jeruk nipis dan pace. Pusaka yang semula hitam ketika dijamasi akan kembali ke bentuk semula dan bersih. Total ada 27 pusaka yang dijamas. Menurutnya, selama memelihara benda pusaka banyak hal di luar nalar yang pernah dirasakan.

“Salah satunya yakni ketika menyelenggarakan acara donasi dana, semula tidak disiapkan tiba tiba datang secara sendiri. Semua berkat kerjasama yang sangat baik antara masyarakat dan orang biasanya ke Ndalem Pojok,” ungkapnya.

Terkait proses jamasan, memang ada ritual khusus yang harus dilakukan.

“Misalnya orang yang akan menjamasi pusaka harus puasa selama satu bulan. Lalu orang yang membuat cairan jamasan ialah orang orang tua dari kalangan perempuan yang sudah tidak haid. Hal ini akan membuat pusaka yang dijamas kembali mengeluarkan keindahannya. Prosesi jamasan ini memang sengaja digelar di hari Jumat sebagai tanda saja dan sebagai acara yang rutin di gelar tiap tahunnya di Ndalem Pojok,” terangnya.

Sebelum menutup wawancara, Kushartono menyampaikan amanat para leluhur. “Bahwa pusaka paling sakti bukan tombak, pedang atau keris. Namun pusaka paling sakti yaitu dumunung ing jati diri. Menghadapi apapun, dalam situasi bagaimanapun, dimanapun, dan  kapanpun adalah pusaka jati diri. Termasuk untuk selamat dari bahaya globalisasi, modernisasi, perang froxy, adu domba, hoax dan perang apapun,” imbuhnya.

Jurnalis : Wildan Wahid Hasyim
Editor : Nanang Priyo Basuki
Bagikan Berita :