KEDIRI – Riuh gendang, pekik semangat, dan gemuruh sorak penonton akan kembali menggema di Kota Kediri. Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Kediri ke-1.146, Pemerintah Kota Kediri bersiap menggelar Pencak Dor, tradisi tahunan yang memadukan seni, olahraga, dan napas rakyat jelata.
Acara akbar ini dijadwalkan berlangsung Sabtu, 8 November 2025, mulai pukul 19.30 WIB, menjadi malam pesta rakyat yang menyalakan kembali semangat warisan leluhur.
Di balik layar persiapan, Kadiyat Suwono, sosok yang dipercaya Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, sebagai ketua panitia, tampak sibuk memimpin rapat koordinasi bersama berbagai unsur.
Turut hadir pula KH. Badrul Huda Zainal Abidin atau Gus Bidin, tokoh kharismatik yang menjadi penasehat kegiatan. Dari ruang rapat itu, semangat gotong royong tampak nyata—antara pemerintah, tokoh agama, aparat keamanan, dan masyarakat yang sama-sama ingin menjaga marwah tradisi.
“Pesan Ibu Wali Kota jelas, acara ini bukan hanya pertandingan, tapi pesta rakyat. Di dalamnya ada semangat olahraga, ada budaya yang harus dijaga, dan ada ruang ekonomi bagi pelaku UMKM untuk berkembang,” tutur Kadiyat dengan nada penuh tanggung jawab.
Pemerintah memastikan persiapan matang. Unsur Polri, TNI, Satpol PP, serta tim medis siap berjaga demi kelancaran dan keamanan acara. Di setiap sudut arena nanti, pedagang kecil akan meramaikan suasana, membawa aroma jajanan tradisional yang menambah hangatnya malam Kediri.
Namun Pencak Dor bukan sekadar hiburan. Ia adalah panggung lahirnya bibit-bibit atlet baru. Dalam geliat olahraga modern, munculnya cabang Sambo memberi harapan baru agar tradisi Pencak Dor bisa menjadi jalan lahirnya juara yang mampu mengharumkan nama Kota Kediri di tingkat nasional.
“Pencak Dor selama ini dikenal dengan gaya bebasnya, penuh keberanian dan keindahan gerak. Kini, dengan adanya Sambo, semoga muncul generasi yang bisa membawa semangat itu ke level prestasi,” tambah Kadiyat.
Kediri tak hanya merayakan ulang tahun kota, tetapi juga merayakan roh keberanian dan kebersamaan rakyatnya. Malam itu, setiap sabetan langkah, setiap pekik kemenangan, menjadi simbol bahwa tradisi bukanlah peninggalan masa lalu—melainkan api yang terus menyala di dada orang Kediri, dari generasi ke generasi.









