Kepala DLHKP Indun Munawarroh saat turun ambil contoh air (istimewa)

Akhirnya Tim DLHKP Kota Kediri Turun Ambil Sampel Air di Dua Titik Aliran Sungai Kedak

Bagikan Berita :

KEDIRI – Setelah mendapat aduan akhirnya Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri turun ke lapangan, memeriksa kualitas air di aliran yang bermuara ke Sungai Kedak. Dari pengecekan awal, petugas menemukan adanya aliran limbah domestik yang berasal dari sejumlah saluran di sekitar permukiman. Hasil pastinya masih menunggu uji laboratorium untuk memastikan tingkat pencemarannya.

Kepala DLHKP Indun Munawaroh melalui Kabid Penataan dan Penaatan Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH), Aris Mahmudin, dikonfirmasi Kamis (16/10) menjelaskan. Penelusuran lapangan telah dilakukan Rabu kemarin.

“Kami bersama tim ke lapangan menelusuri aliran sungai yang muaranya di Kali Kedak. Sudah diambil sampel air di dua titik dan nanti akan diuji di laboratorium,” jelasnya.

Aris menyebut, lokasi pengambilan sampel berada di kawasan Dung Sentul (Sungai Kedak) dan barat SMAN 2 Kediri. Sampel tersebut akan diuji di Laboratorium Graha Mutu Persada Mojokerto, yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

“Yang diuji di antaranya TSS, TDS, pH, BOD, COD, DO, fosfat, amoniak, nitrat, bakteri coliform, minyak dan lemak, deterjen, nitrogen, klorin, hingga logam seperti besi, mangan, timbal, dan lain-lain. Hasilnya biasanya keluar sekitar dua minggu,” ujarnya.

Dari hasil penelusuran sementara, DLHKP menemukan bahwa pencemaran limbah domestik umumnya berasal dari aktivitas rumah tangga dan pertanian.

Untuk mencegah pencemaran lebih lanjut, DLHKP menyiapkan sejumlah langkah edukatif dan preventif. Salah satunya dengan memasang papan imbauan di saluran-saluran yang melewati kawasan permukiman padat agar warga lebih sadar pentingnya mengolah limbah rumah tangga sebelum dibuang ke sungai.

Selain itu, DLHKP juga menyiapkan sosialisasi pengelolaan limbah domestik melalui brosur yang akan disebarkan ke masyarakat lewat kelurahan. Terutama di wilayah yang masih menggunakan saluran terbuka.

Pengakuan Pemancing

foto : Sigit Cahya Setyawan

Salah pemancing merupakan warga setempat minta identitasnya dirahasiakan, justru menjelaskan bahwa kondisi seperti ini sebenarnya berlangsung sejak lama. Meski kualitas air menurun, ia mengatakan masih banyak ikan seperti lele dan kutuk yang tetap hidup di sungai tersebut.

Ia menduga ikan-ikan itu mampu bertahan karena memiliki daya tahan lebih kuat dibanding jenis lainnya.

“Ini alirannya mungkin dari salah satu pondok yang memiliki penghuni cukup banyak. Tapi sebelum dibuang biasanya diolah dulu, diaduk sampai hancur baru dialirkan keluar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, aliran limbah dari kawasan pondok dan pemukiman itu akhirnya bermuara ke Sungai Kedak. Menurutnya, kondisi seperti ini sudah lama terjadi, meski kini mulai ada perubahan. Bau dan warna air yang dulu pekat perlahan berkurang, terutama setelah mendapat aduan dari warga.

DLHKP berharap hasil uji laboratorium nantinya dapat menjadi dasar tindak lanjut dalam penanganan pencemaran sungai, sekaligus memperkuat kesadaran warga untuk menjaga kualitas air di lingkungannya.

 

Jurnalis : Anisa Fadila – Sigit Cahya Setyawan
Bagikan Berita :