KEDIRI — Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah dengan atap rusak dan kayu bangunan yang lapuk akibat dimakan rayap, Nur Khayadi, warga Kelurahan Lirboyo, Kota Kediri, akhirnya mendapat kesempatan memperbaiki tempat tinggalnya. Melalui program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), Pemerintah Kota Kediri menyalurkan bantuan sebesar Rp 35 juta untuk memperbaiki rumah warisan orang tuanya.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mendatangi rumah Nur pada Rabu (14/10). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan yang diberikan dapat digunakan sesuai kebutuhan dan mendukung perbaikan hunian penerima manfaat.
Vinanda menjelaskan, program RTLH merupakan upaya pemerintah daerah untuk membantu masyarakat memperoleh tempat tinggal yang layak, aman, dan nyaman. Menurutnya, kondisi rumah warga yang membutuhkan bantuan berbeda-beda, mulai dari hunian yang belum memiliki kamar mandi hingga rumah dengan fasilitas dasar yang sudah tersedia, tetapi masih membutuhkan perbaikan.
“Kita ingin memastikan bahwa masyarakat Kota Kediri betul-betul bisa memiliki rumah yang layak huni sehingga ini bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kota Kediri,” kata Vinanda.
Ia berharap program tersebut dapat mengurangi risiko yang dihadapi penghuni akibat kondisi bangunan yang rusak, terutama ketika hujan turun. Selain bantuan untuk pembangunan dan perbaikan rumah, Pemkot Kediri juga menyalurkan bantuan sembako kepada penerima manfaat.
Vinanda turut menegaskan pentingnya transparansi dalam pelaksanaan program. Ia meminta agar bantuan yang diterima warga tidak dipotong sehingga seluruh dana dapat digunakan untuk kebutuhan renovasi rumah.
“Kami berharap bahwa bantuan ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kami titip kepada pelaksana, jangan ada potongan. Jadi, Rp 35 juta ini full untuk pembangunan rumah tidak layak huni sehingga nanti kita harapkan kualitasnya juga baik dan betul-betul memberikan dampak bagi penerima manfaat,” tegasnya.
Bagi Nur, bantuan tersebut memiliki arti penting. Pria berusia 50 tahun itu telah menempati rumah peninggalan almarhum ayahnya sejak kecil. Kini, ia tinggal seorang diri setelah istrinya meninggal dunia dan tidak memiliki anak.
Selama bertahun-tahun, kondisi rumahnya terus memburuk. Atap mengalami kerusakan, sedangkan kayu-kayu bangunan mulai lapuk akibat serangan rayap.
“Kondisi rumah sudah enggak layak. Atap sudah banyak yang hancur. Kayu-kayunya sudah dimakan rayap dan lapuk semua,” ungkap Nur.
Bantuan Rp 35 juta tersebut digunakan untuk memperbaiki sejumlah bagian rumah berukuran panjang 9 meter dan lebar 7 meter, termasuk atap dan pintu. Proses pengerjaan dilakukan oleh warga setempat.
Setelah sekitar 10 hari pengerjaan, pemasangan atap berbahan spandek telah rampung. Sementara itu, perbaikan dinding rumah masih berlangsung.
Di tengah kondisi ekonomi yang terbatas, bantuan tersebut menjadi kesempatan bagi Nur untuk membenahi tempat tinggalnya. Sehari-hari, ia bekerja sebagai sopir serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Untuk menambah pemasukan, ia juga menerima pesanan pembuatan jaranan.
Dengan pendapatan yang bergantung pada pekerjaan yang tersedia, memperbaiki rumah secara mandiri bukan perkara mudah. Karena itu, bantuan pemerintah tersebut meringankan beban biaya renovasi yang harus ditanggungnya.
Nur pun menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya.
“Berterima kasih banyak sama Bu Wali sudah memberi bantuan secara ikhlas,” ujarnya.
Melalui program RTLH, Pemkot Kediri berharap masyarakat yang tinggal di hunian tidak layak dapat menempati rumah yang lebih aman dan nyaman. Program ini diharapkan tidak hanya membantu memperbaiki kerusakan bangunan, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas hidup warga penerima manfaat.
Jurnalis: Anisa Fadila



