KEDIRI – Sampah rumah tangga di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tak lagi dipandang sebatas limbah yang harus dibuang. Di Bank Sampah Sumber Rejeki, sampah dipilah, diolah, dan dikembangkan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Konsep pengelolaan sampah terintegrasi itu diperkenalkan kepada masyarakat dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di sepanjang jalan depan Kelurahan Bandar Lor, Sabtu (5/9).
Melalui stan Bank Sampah Sumber Rejeki, warga dapat melihat langsung beragam hasil pengolahan limbah. Tak hanya memamerkan produk, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi mengenai pemanfaatan sampah organik dan anorganik.
Inovasi itu mendapat perhatian Camat Mojoroto Abdul Rahman saat meninjau kegiatan Bazar UMKM Kelurahan Bandar Lor. Ia menilai keberadaan bank sampah menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif.
Salah satu inovasi yang ditampilkan adalah pemanfaatan limbah plastik menjadi paving block. Sampah plastik yang selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan tersebut diolah kembali agar memiliki fungsi dan nilai tambah.
“Ini merupakan contoh kepedulian para relawan dalam mengolah kembali sampah plastik menjadi paving block,” ujar Abdul Rahman.
Menurut dia, pengolahan limbah di Bandar Lor masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Pemerintah, kata Abdul Rahman, akan terus mendorong pembinaan agar proses pengolahan dan kualitas produk yang dihasilkan semakin baik.
“Inovasi pengolahan limbah plastik ini luar biasa. Ke depan, kami akan terus melakukan pembinaan agar inovasi tersebut dapat semakin sempurna,” katanya.
Abdul Rahman juga melihat pengelolaan sampah sebagai peluang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan berpotensi dipasarkan.
Dari Sampah Organik Jadi Maggot
Ketua Bank Sampah Sumber Rejeki, Andayani Nurhidayati, mengatakan pengelolaan sampah di Bandar Lor dikembangkan dengan konsep yang saling terhubung. Pengelolaan tidak hanya menyasar sampah anorganik, tetapi juga limbah organik dari aktivitas rumah tangga.
Sisa makanan, termasuk limbah dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), dapat diolah menjadi kompos dan media budidaya maggot.
Maggot yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai pakan dalam budidaya ikan lele, ayam, mentok, dan hewan ternak lainnya.
Sementara itu, sampah anorganik juga diupayakan tidak berakhir sebagai limbah. Melalui proses pirolisis, material tersebut dapat menghasilkan sejumlah produk turunan, seperti bahan bakar cair atau pyrolysis oil, gas sintesis, arang, hingga metal recovery.
Material yang tidak dapat diolah menjadi minyak masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving block.
“Konsep ini berkaitan dengan pengelolaan sampah melalui sistem yang saling terintegrasi, limbah dari kegiatan budidaya juga akan diupayakan agar dapat dimanfaatkan kembali,” jelas Andayani.
Konsep tersebut membuat pengelolaan sampah tidak berhenti pada aktivitas memilah dan menjual. Masyarakat didorong untuk ikut mengolah sampah sehingga produk akhirnya memiliki nilai tambah.
Bangun Taman Edukasi Sampah

Untuk memperluas edukasi, Bank Sampah Sumber Rejeki berencana membangun taman edukasi pengelolaan sampah di Kelurahan Bandar Lor.
Taman tersebut nantinya diharapkan menjadi ruang sosialisasi sekaligus tempat masyarakat mempelajari cara memilah dan mengolah sampah organik maupun anorganik.
Andayani menilai keterlibatan masyarakat sejak dari rumah menjadi kunci. Sebab, sebagian besar sampah berasal dari aktivitas rumah tangga.
“Harapannya, masyarakat dapat ikut mengolah sampah sehingga penumpukan sampah yang dibuang ke TPA bisa dikurangi,” ujarnya.
Saat ini, jaringan pengelolaan sampah di Bandar Lor telah berkembang. Terdapat lima bank sampah yang terdiri dari satu bank sampah induk, yakni Bank Sampah Sumber Rejeki, dan empat bank sampah binaan.
Jaringan tersebut masih akan diperluas dengan mendorong RW yang belum memiliki bank sampah untuk membentuk pengelolaan serupa.
Sampah Terhubung dengan Budidaya Lele
Menariknya, pengelolaan sampah di Bandar Lor tidak berdiri sendiri. Sistem tersebut mulai dihubungkan dengan sektor pangan melalui rencana pembentukan Kampung Wisata Lele di gang depan Kelurahan Bandar Lor.
Budidaya lele dirancang menjadi bagian dari siklus pemanfaatan limbah. Sisa makanan dapat digunakan sebagai media budidaya maggot, kemudian maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan.
Andayani menyebut kandungan protein pada maggot berpotensi menjadi alternatif pakan. Konsep tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung program pemerintah di bidang pemenuhan gizi masyarakat dan penanganan stunting.
Dari sektor budidaya, nilai ekonomi juga akan dikembangkan melalui rantai produksi. Bank Sampah Sumber Rejeki mendorong kerja sama dengan koperasi, termasuk Koperasi Merah Putih dan koperasi yang telah berjalan, salah satunya untuk mendukung kebutuhan program MBG.
Hasil budidaya lele nantinya tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar. Produk tersebut juga berpotensi diolah menjadi abon, nugget, hingga makanan ringan berbahan kulit ikan.
Dengan pengolahan tersebut, nilai tambah diharapkan tidak berhenti pada hasil panen, tetapi dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Target Kurangi Sampah yang Masuk TPA
Andayani menilai potensi pengurangan sampah di Bandar Lor cukup besar. Jika sistem pengelolaan dapat diterapkan secara optimal di seluruh kelurahan, sampah yang tidak perlu dibuang ke TPA berpotensi mencapai puluhan ton per hari.
Potensi itu semakin besar karena Bandar Lor merupakan kawasan padat penduduk dengan banyak permukiman dan rumah kos yang menghasilkan volume sampah cukup tinggi.
Bank Sampah Sumber Rejeki juga berencana memperluas sumber bahan baku pengolahan. Salah satunya dengan mengambil limbah dari dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di Bandar Lor.
Limbah tersebut direncanakan dikumpulkan setiap hari untuk kemudian diproses kembali.
Saat ini, Bank Sampah Sumber Rejeki juga diarahkan menjadi proyek percontohan pemberdayaan masyarakat berbasis pengelolaan sampah. Pengumpulan sampah dilakukan dua kali dalam sepekan, sementara warga di tingkat RT mulai terbiasa memilah dan mengumpulkan sampah sebelum disetorkan.
Ke depan, pengelolaan diharapkan tidak berhenti pada penjualan sampah sebagai bahan mentah. Sampah akan diupayakan melalui proses pengolahan sehingga menghasilkan produk dengan nilai tambah.
Sejumlah hasil pengolahan yang telah dimanfaatkan di antaranya kompos dan bibit tanaman.
Pengembangan sistem tersebut akan diperkuat melalui kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan Kota Kediri.
Bagi Bank Sampah Sumber Rejeki, tujuan akhirnya bukan sekadar mengurangi sampah. Sistem tersebut diharapkan mampu menciptakan pola pengelolaan yang menghubungkan rumah tangga, lingkungan, pengolahan limbah, budidaya pangan, hingga kegiatan ekonomi masyarakat.
Dengan pola itu, sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan dapat kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan.
“Jika dikelola dengan baik, sampah tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” tegas Andayani.
Jurnalis: Anisa Fadila



