KEDIRI – Di tangan para pelaku kuliner, tahu takwa tak lagi sekadar menjadi teman hangat di meja makan. Bahan pangan khas Kota Kediri itu kini menjelma menjadi aneka hidangan kreatif, mulai dari dessert, rolade, hingga katsu, membuktikan bahwa warisan kuliner lokal mampu bertransformasi mengikuti selera zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Semangat inovasi tersebut mewarnai Festival Olahan Tahu Takwa yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-1147 Kota Kediri di Halaman Balai Kota Kediri, Sabtu (4/7). Sekitar 50 peserta dari berbagai kalangan turut ambil bagian, mulai dari pelaku UMKM, kader PKK, pelaku industri perhotelan, hingga siswa SMK.
Setiap peserta ditantang menciptakan sajian berbahan dasar tahu takwa yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga merepresentasikan kekayaan kuliner khas Kota Kediri.
Ketua PHRI Kediri, Sri Rahayu Titik Nuryati, mengatakan festival ini menjadi langkah nyata untuk mengubah persepsi masyarakat yang selama ini masih mengidentikkan tahu takwa dengan olahan goreng semata.
Menurutnya, komoditas khas Kediri tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai menu inovatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Harapannya, menu-menu terbaik hasil festival ini dapat diadopsi oleh hotel-hotel anggota PHRI. Dengan begitu, setiap hotel memiliki sajian khas berbahan dasar tahu takwa yang disesuaikan dengan kreativitas dan karakter masing-masing,” ujarnya.
Melalui festival tersebut, masyarakat diperkenalkan pada beragam kreasi baru, mulai dari rolade tahu, tahu katsu, hingga hidangan modern lain yang tetap mengusung cita rasa lokal.
Selain memperebutkan hadiah uang pembinaan sebesar Rp2,5 juta untuk juara pertama, Rp2 juta bagi juara kedua, Rp1,5 juta untuk juara ketiga, serta Juara Favorit PHRI senilai Rp1 juta, para pemenang juga berkesempatan memperkenalkan hasil karyanya ke dunia perhotelan.
Sementara itu, Ketua Indonesia Chef Association (ICA) Kediri Raya, Agus Pinarko, yang bertindak sebagai dewan juri menjelaskan bahwa penilaian dilakukan secara menyeluruh. Aspek yang dinilai meliputi cita rasa, keseimbangan komposisi, tingkat kematangan, kreativitas produk, teknik penyajian (plating), kebersihan area kerja, hingga kemampuan peserta menjelaskan konsep dan sejarah menu yang dihadirkan.
Ia menilai sebagian peserta telah menunjukkan kreativitas tinggi dalam penyajian. Namun, masih banyak yang belum mampu mengangkat cerita mengenai identitas budaya lokal yang menjadi ruh dari setiap hidangan.
“Saya berharap wisatawan yang datang ke Kota Kediri nantinya tidak hanya mengenal tahu takwa sebagai oleh-oleh berbentuk kotak, tetapi juga berbagai olahan kreatif yang dapat menjadi ikon kuliner baru. Mari terus mencintai produk lokal dan mengembangkan potensi unggulan daerah agar memiliki daya saing yang lebih luas,” katanya.
Salah satu peserta, Sulistyo Ningsih dari Kelurahan Semampir, menghadirkan menu Oikitatoh Tahu Putih, yakni olahan tahu yang dipadukan dengan singkong sehingga menghasilkan tekstur renyah dengan cita rasa gurih. Sajian tersebut dipadukan dengan minuman berbahan dasar kulit buah naga yang diberi nama Omben Sarga.
Sulistyo mengaku mengikuti kompetisi tersebut setelah mendapat ajakan dari Lurah Semampir. Pengalamannya sebagai pelaku UMKM melalui Warung Kopi Pinggir Kali Semampir menjadi bekal untuk menghadirkan inovasi kuliner berbahan dasar tahu takwa.
Menurutnya, festival seperti ini menjadi wadah efektif untuk memperkenalkan beragam inovasi olahan tahu sekaligus memperkuat posisi tahu takwa sebagai ikon kuliner Kota Kediri.
Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara berkelanjutan agar semakin banyak pelaku UMKM terdorong menciptakan produk-produk baru. Dengan demikian, tahu takwa tidak hanya dikenal sebagai oleh-oleh khas Kediri, tetapi juga berkembang menjadi kuliner kreatif yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



